RSS

Arsip Tag: Cerita Ngentot

Cerita sex – TKW Pemikat

Empat tahun lalu aku masih tinggal
dikota B. Waktu itu aku berumur 26
tahun. Aku tinggal dirumah sepupu,
karena sementara masih menganggur
aku iseng-iseng membantu sepupu bisnis
kecil-kecilan di pasar. 3 bulan aku jalani dengan biasa saja. Hingga akhirnya secara
tak disengaja aku kenal seorang
pelanggan yang biasa menggunakan jasa
angkutan barang pasar yang kebetulan
aku yang mengemudikannya. Bu Murni
namanya. Sambil ngobrol ngalor-ngidul aku antar dia sampai dirumahnya yang
memang agak jauh dari pasar tempat dia
berjualan kain-kain dan baju. Sesampai dirumahnya aku bantuin dia
mengangkat barang-barangnya. Mungkin
karena sudah mulai akrab aku enggak
langsung pulang. Toh, memang ini
penumpang yang terakhir. Aku duduk
saja di depan rumahnya yang sejuk, karena kebetulan ada seperti dipan dari
bambu dihalaman di bawah pohon
jambu. Dari dalam aku mendengar suara
seperti memerintah kepada seseorang.. “Pit.. Tuh bawain air yang dikendil ke
depan..,” begitu suara Bu Murni. Aku tidak mendengar ada jawaban dari
yang diperintah Bu Murni tadi. Yang ada
tiba-tiba seorang gadis umur kira-kira 20
tahunan keluar dari rumah membawa
gelas dan kendil air putih segar. Wajahnya
biasa saja, agak mirip Bu Murni, tapi kulitnya putih dan semampai pula. Dia
tersenyum.. “Mas, minum dulu.. Air kendil seger lho..”
begitu dia menyapaku.
“I.. Iya.. Makasih..” balasku. Masih sambil senyum dia balik kanan
untuk masuk kembali ke dalam
rumahnya. Aku masih tertegun sambil
memandangnya. Seperti ingin tembus
pandang saja niatku, ‘Pantatnya aduhai,
jalannya serasi, lumayan deh..’ batinku. Tak seberapa lama Bu Murni keluar. Dia
sudah ganti baju, mungkin yang biasa dia
pakai kesehariannya.. “Dik Wahyu, itu tadi anak saya si Pipit..”
kata Bu Murni.
“Dia tuh lagi ngurus surat-surat katanya
mau ke Malaysia jadi TKW.” lanjutnya.
Aku manggut-manggut..
“O gitu yah.. Ngapain sih kok mau jauh- jauh ke Malaysia, kan jauh.. Nanti kalau
ada apa-apa gimana..” aku menimpalinya. Begitu seterusnya aku ngobrol sebentar
lalu pamit undur diri. Belum sampai aku
menstater mobil pickupku, Bu Murni
sambil berlari kecil ke arahku.. “Eh dik Wahyu, tunggu dulu katanya Pipit
mau ikut sampai terminal bis. Dia mau
ambil surat-surat dirumah kakaknya.
Tungguin sebentar ya..” Aku tidak jadi menstater dan sambil
membuka pintu mobil aku tersenyum
karena inilah saatnya aku bisa puas
mengenal si Pipit. Begitulah akhirnya aku
dan Pipit berkenalan pertama kali. Aku
antar dia mengambil surat-surat TKW- nya. Di dalam perjalanan kami ngobrol
dan sambil bersendau gurau. “Pit.., namamu Pipit. Kok nggak ada
lesung pipitnya..” kataku ngeledek. Pipit
juga tak kalah ngeledeknya.
“Mas aku kan sudah punya lesung yang
lain.. Masak sih kurang lagi..” balas Pipit.. Di situ aku mulai berani ngomong yang
sedikit nakal, karena sepertinya Pipit tak
terlalu kaku dan lugu layaknya gadis-
gadis didesa. Pantas saja dia berani
merantau keluar negeri, pikirku. Sesampai dirumah kakaknya, ternyata
tuan rumah sedang pergi membantu
tetangga yang sedang hajatan. Hanya ada
anaknya yang masih kecil kira-kira 7
tahunan dirumah. Pipit menyuruhnya
memanggilkan ibunya. “Eh Ugi, Ibu sudah lama belum perginya?
susulin sana, bilang ada Lik Pipit gitu
yah..” Ugi pergi menyusul ibunya yang tak lain
adalah kakaknya Pipit. Selagi Ugi sedang
menyusul ibunya, aku duduk-duduk di
dipan tapi di dalam rumah. Pipit masuk
ke ruangan dalam mungkin ambil air
atau apa, aku diruangan depan. Kemudian Pipit keluar dengan segelas air
putih ditangannya. “Mas minum lagi yah.. Kan capek nyetir
mobil..” katanya. Diberikannya air putih itu, tapi mata Pipit
yang indah itu sambil memandangku
genit. Aku terima saja gelasnya dan
meminumnya. Pipit masih saja
memandangku tak berkedip. Akupun
akhirnya nekat memandang dia juga, dan tak terasa tanganku meraih tangan Pipit,
dingin dan sedikit berkeringat. Tak
disangka, malah tangan Pipit meremas
jariku. Aku tak ambil pusing lagi tangan
satunya kuraih, kugenggam. Pipit
menatapku. “Mas.. Kok kita pegang-pegangan sih..”
Pipit setengah berbisik.
Agak sedikit malu aku, tapi kujawab
juga, “Abis, .. Kamu juga sih..” Setelah itu sambil sama-sama tersenyum
aku nekad menarik kedua tangannya
yang lembut itu hingga tubuhnya
menempel di dadaku, dan akhirnya kami
saling berpelukan tidak terlalu erat
tadinya. Tapi terus meng-erat lagi, erat lagi.. Buah dadanya kini menempel lekat
didadaku. Aku semakin mendapat
keberanian untuk mengelus wajahnya.
Aku dekatkan bibirku hingga menyentuh
bibirnya. Merasa tidak ada protes,
langsung kukecup dan mengulum bibirnya. Benar-benar nikmat. Bibirnya
basah-basah madu. Tanganku mendekap
tubuhku sambil kugoyangkan dengan
maksud sambil menggesek buah
dadanya yang mepet erat dengan
tubuhku. Sayup-sayup aku mendengar Pipit seperti mendesah lirih, mungkin
mulai terangsang kali.. Apalagi tanpa basa-basi tonjolan di
bawah perutku sesekali aku sengaja
kubenturkan kira-kira ditengah
selangkangannya. Sesekali seperti dia
tahu iramanya, dia memajukan sedikit
bagian bawahnya sehingga tonjolanku membentur tepat diposisi “mecky”nya. Sinyal-sinyal nafsu dan birahiku mulai
memuncak ketika tanpa malu lagi Pipit
menggelayutkan tangannya dipundakku
memeluk, pantatnya goyang memutar,
menekan sambil mendesah. Tanganku
turun dan meremas pantatnya yang padat. Akupun ikut goyang melingkar
menekan dengan tonjolan penisku yang
menegang tapi terbatas karena masih
memakai celana lumayan ketat. Ingin
rasanya aku gendong tubuh Pipit untuk
kurebahkan ke dipan, tapi urung karena Ugi yang tadi disuruh Pipit memanggil
ibunya sudah datang kembali. Buru-buru kami melepas pelukan,
merapikan baju, dan duduk seolah-olah
tidak terjadi apa-apa. Begitu masuk, Ugi
yang ternyata sendirian berkata seperti
pembawa pesan. “Lik Pipit, Ibu masih lama, sibuk sekali
lagi masak buat tamu-tamu. Lik Pipit
suruh tunggu aja. Ugi juga mau ke sana
mau main banyak teman. sudah ya Lik..” Habis berkata begitu Ugi langsung lari
ngeloyor mungkin langsung buru-buru
mau main dengan teman-temannya. Aku
dan Pipit saling menatap, tak habis pikir
kenapa ada kesempatan yang tak terduga
datang beruntun untuk kami, tak ada rencana, tak ada niat tahu-tahu kami
hanya berdua saja disebuah rumah yang
kosong ditinggal pemiliknya. “Mas, mending kita tunggu saja yah..
sudah jauh-jauh balik lagi kan mubazir..
Tapi Mas Wahyu ada acara nggak nanti
berabe dong..” berkata Pipit memecah
keheningan. Dengan berbunga-bunga aku tersenyum
dan setuju karena memang tidak ada
acara lagi aku dirumah. “Pit sini deh.. Aku bisikin..” kataku sambil
menarik lengan dengan lembut.
“Eh, kamu cantik juga yah kalau
dipandang-pandang..” Tanpa ba-Bi-Bu lagi Pipit malah
memelukku, mencium, mengulum
bibirku bahkan dengan semangatnya
yang sensual aku dibuat terperanjat
seketika. Akupun membalasnya dengan
buas. Sekarang tidak berlama-lama lagi sambil berdiri. Aku mendorong
mengarahkannya ke dipan untuk
kemudian merebahkannya dengan masih
berpelukan. Aku menindihnya, dan
masih menciumi, menjilati lehernya,
sampai ke telinga sebelah dalam yang ternyata putih mulus dan beraroma
sejuk. Tangannya meraba tonjolan
dicelanaku dan terus meremasnya seiring
desahan birahinya. Merasa ada
perimbangan, aku tak canggung-
canggung lagi aku buka saja kancing bajunya. Tak sabar aku ingin menikmati
buah dada keras kenyal berukuran 34
putih mulus dibalik bra-nya. Sekali sentil tali bra terlepas, kini tepat di
depan mataku dua tonjolan seukuran
kepalan tangan aktor Arnold
Swchargeneger, putih keras dengan
puting merah mencuat kurang lebih 1 cm.
Puas kupandang, dilanjutkan menyentuh putingnya dengan lubang hidungku,
kuputar-putar sebelum akhirnya kujilati
mengitari diameternya kumainkan
lidahku, kuhisap, sedikit menggigit, jilat
lagi, bergantian kanan dan kiri. Pipit
membusung menggeliat sambil menghela nafas birahi. Matanya merem
melek lidahnya menjulur membasahi
bibirnya sendiri, mendesah lagi.. Sambil
lebih keras meremas penisku yang sudah
mulai terbuka resluiting celanaku karena
usaha Pipit. Tanganku mulai merayap ke sana kemari
dan baru berhenti saat telah kubuka
celana panjang Pipit pelan tapi pasti,
hingga berbugil ria aku dengannya.
Kuhajar semua lekuk tubuhnya dengan
jilatanku yang merata dari ujung telinga sampai jari-jari kakinya. Nafas Pipit mulai
tak beraturan ketika jilatanku kualihkan
dibibir vaginanya. Betapa indah, betapa
merah, betapa nikmatnya. Clitoris Pipit
yang sebesar kacang itu kuhajar dengan
kilatan kilatan lidahku, kuhisap, kuplintir- plintir dengan segala keberingasanku.
Bagiku Mecky dan klitoris Pipit mungkin
yang terindah dan terlezaat se-Asia
tenggara. Kali ini Pipit sudah seperti terbang
menggelinjang, pantatnya mengeras
bergoyang searah jarum jam padahal
mukaku masih membenam
diselangkangannya. Tak lama kemudian
kedua paha Pipit mengempit kepalaku membiarkan mulutku tetap membenam
di meckynya, menegang, melenguhkan
suara nafasnya dan… “Aauh.. Ahh.. Ahh.. Mas.. Pipit.. Mas..
Pipit.. Keluar.. Mas..” mendengar lenguhan
itu semakin kupagut-pagut, kusedot-
sedot meckynya, dan banjirlah si-rongga
sempit Pipit itu. Iri sekali rasanya kalau
aku tak sempat keluar orgasme, kuangkat mukaku, kupegang penisku,
kuhujam ke vaginanya. Ternyata tak
terlalu susah karena memang Pipit tidak
perawan lagi. Aku tak perduli siapa yang
mendahului aku, itu bukan satu hal
penting. Yang penting saat ini aku yang sedang berhak penuh mereguk
kenikmatan bersamanya. Lagipula aku
memang orang yang tidak terlalu fanatik
norma kesucian, bagiku lebih nikmat
dengan tidak memikirkan hal-hal njelimet
seperti itu. Kembali ke “pertempuranku”, setengah
dari penisku sudah masuk keliang vagina
sempitnya, kutarik maju mundur pelan,
pelan, cepet, pelan lagi, tanganku sambil
meremas buah dada Pipit. Rupanya Pipit
mengisyaratkan untuk lebih cepat memacu kocokan penis saktiku, akupun
tanggap dan memenuhi keinginannya.
Benar saja dengan “Ahh.. Uhh”-nya Pipit
mempercepat proses penggoyangan aku
kegelian. Geli enak tentunya. Semakin
keras, semakin cepat, semakin dalam penisku menghujam. Kira-kira 10 menit berlalu, aku tak tahan
lagi setelah bertubi-tubi menusuk,
menukik ke dalam sanggamanya disertai
empotan dinding vagina bidadari calon
TKW itu, aku setengah teriak berbarengan
desahan Pipit yang semakin memacu, dan akhirnya detik-detik penyampaian
puncak orgasme kami berdua datang.
Aku dan Pipit menggelinjang, menegang,
daan.. Aku orgasme menyemprotkan
benda cair kental di dalam mecky Pipit.
Sebaliknya Pipit juga demikian. Mengerang panjang sambil tangannya
menjambak rambutku.. Tubuhku serasa
runtuh rata dengan tanah setelah terbang
ke angkasa kenikmatan. Kami
berpelukan, mulutku berbisik dekat
telinga Pipit. “Kamu gila Pit.. Bikin aku kelojotan..
Nikmat sekali.. Kamu puas Pit?”
Pipit hanya mengangguk, “Mas Wahyu..,
aku seperti di luar angkasa lho Mas.. Luar
biasa benar kamu Mas..” bisiknya.. Sadar kami berada dirumah orang, kami
segera mengenakan kembali pakaian
kami, merapihkannya dan bersikap
menenangkan walaupun keringat kami
masih bercucuran. Aku meraih gelas dan
meminumnya. Kami menghabiskan waktu menunggu
kakaknya Pipit datang dengan ngobrol
dan bercanda. Sempat Pipit bercerita
bahwa keperawanannya telah hilang
setahun lalu oleh tetangganya sendiri
yang sekarang sudah meninggal karena demam berdarah. Tapi tidak ada
kenikmatan saat itu karena berupa
perkosaan yang entah kenapa Pipit
memilih untuk memendamnya saja. Begitulah akhirnya kami sering bertemu
dan menikmati hari-hari indah menjelang
keberangkatan Pipit ke Malaysia. Kadang
dirumahnya, saat Bu Murni kepasar,
ataupun di kamarku karena memang
bebas 24 jam tanpa pantauan dari sepupuku sekalipun. Tak lama setelah keberangkatan Pipit aku
pindah ke Jakarta. Khabar terakhir
tentang Pipit aku dengar setahun yang
lalu, bahwa Pipit sudah pulang kampung,
bukan sendiri tapi dengan seorang anak
kecil yang ditengarai sebagai hasil hubungan gelap dengan majikannya
semasa bekerja di negeri Jiran itu. Sedang
tentangku sendiri masih berpetualang
dan terus berharap ada “Pipit-Pipit” lain
yang nyasar ke pelukanku. Aku masih
berjuang untuk hal itu hingga detik ini. Kasihan sekali gue..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 29, 2012 in Cerita Dewasa

 

Tag: , , ,

Kumpulan Cerita Dewasa Terpanas 2012

» Ibu Kos Lily
» Istriku Swinger
» Pamer Istri Di Mall
» Penyembuh Idaman
» Impian Sang Suami
» Gede Sak Jaran
» Berpacu Dalam Nafsu
» Bercinta Dengan Gigolo
» Akhirnya Lusi Selingkuh
» Teman Suamiku
» Kunjungan Sahabat Lama
» Enaknya Perempuan Arab
» Pengalamanku..Menik
» Diana Yang Malang
» Erotic Black Magic
» Dina Teman Istriku
» Slutty Annisa
» ABG Onani Dirumahku
» Naksir Rita Dapat Ibunya
» Permainan Terlarang
» Cerita Tentang Ananda
» Istri,Adik Ipar dan Aku
» USG 3Dimensi
» Para Peronda Malam
» Dikerjai Bule
» Pembantu Jadi Pejantan
» Pelampiasan Dr. Nasti
» Lihat Istri Dipijat
» Saya..Istri Yang Dirayu
» Perselingkuhan Ratna
» Istri Pengusaha
» Airport
» Take And Give
» Tetangga Ooh..Tetangga
» Angan-Angan Seorang Suami
» Tukar Tambah
» Tukar Pasangan
» Tukar Pacar
» Tukar Guling
» Diperkosa Tapi Enak
» Nikmatnya Istri Karyawanku
» Mencari Pejantan
» Bibiku Sayang
» ML Dengan Boss
» Birahi Pembantuku
» 3 In One
» Bercinta Dgn Wanita Hamil
» Permainan Gila
» Selingkuh Dengan Ami
» Suami-Suamiku

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 9, 2012 in Cerita Dewasa

 

Tag: , , , , , , , , ,

Kumpulan Cerita dewasa Menarik terbaru

» Affair Ketika Reuni 1
» Affair Ketika Reuni 2
» Anugerah Tak Terduga
» Cinta Mistis Pulau Terpencil 1
» Cinta Mistis Pulau Terpencil 2
» Cinta Mistis Pulau Terpencil 3
» Gadis Pemijat
» Hilangnya Keperawanan Adik Kelasku
» Internet Friend
» Ita & Anggi
» Kenangan Ebtanas
» Kenikmatan Nia
» Lia Sahabatku Yang Imut
» Liku Liku Kehidupan Pribadiku 1
» Liku Liku Kehidupan Pribadiku 2
» Lily Gadis Hypersex
» Ling Ling
» Mbak Siska & Mbak Lisa
» Mitra Bisnisku 1
» Mitra Bisnisku 2
» Mitra Bisnisku 3
» Namaku Elang 1
» Namaku Elang 2
» Namaku Elang 3
» Namaku Elang 4
» Namaku Elang 5
» Nikmatnya Tubuh Ester
» Nini Negosiator Ulung 1
» Nini Negosiator Ulung 2
» Nini Negosiator Ulung 3
» Pengalaman Baru Pembantuku
» Pengalaman Indahku Bersama Dina
» Pengalaman Pertama
» Pengalaman Yang Tak Terlupakan
» Permainan Binal
» Persahabatan 1
» Persahabatan 2
» Pertama Bersama Wulan 1
» Pertama Bersama Wulan 2
» Pertemuan Yang Indah
» Rasa Bersalah 1
» Rasa Bersalah 2
» Rasa Bersalah 3
» Sebuah Perjalanan Spritual 1
» Sebuah Perjalanan Spritual 2
» Sebuah Perjalanan Spritual 3
» Selingkuh Hati 1
» Selingkuh Hati 2
» Selingkuh Hati 3
» Sensasi Di Kantor
» The Art Of Sex

 

Tag: , , , ,

Kumpulan Cerita dewasa Menarik terbaru

» Affair Ketika Reuni 1
» Affair Ketika Reuni 2
» Anugerah Tak Terduga
» Cinta Mistis Pulau Terpencil 1
» Cinta Mistis Pulau Terpencil 2
» Cinta Mistis Pulau Terpencil 3
» Gadis Pemijat
» Hilangnya Keperawanan Adik Kelasku
» Internet Friend
» Ita & Anggi
» Kenangan Ebtanas
» Kenikmatan Nia
» Lia Sahabatku Yang Imut
» Liku Liku Kehidupan Pribadiku 1
» Liku Liku Kehidupan Pribadiku 2
» Lily Gadis Hypersex
» Ling Ling
» Mbak Siska & Mbak Lisa
» Mitra Bisnisku 1
» Mitra Bisnisku 2
» Mitra Bisnisku 3
» Namaku Elang 1
» Namaku Elang 2
» Namaku Elang 3
» Namaku Elang 4
» Namaku Elang 5
» Nikmatnya Tubuh Ester
» Nini Negosiator Ulung 1
» Nini Negosiator Ulung 2
» Nini Negosiator Ulung 3
» Pengalaman Baru Pembantuku
» Pengalaman Indahku Bersama Dina
» Pengalaman Pertama
» Pengalaman Yang Tak Terlupakan
» Permainan Binal
» Persahabatan 1
» Persahabatan 2
» Pertama Bersama Wulan 1
» Pertama Bersama Wulan 2
» Pertemuan Yang Indah
» Rasa Bersalah 1
» Rasa Bersalah 2
» Rasa Bersalah 3
» Sebuah Perjalanan Spritual 1
» Sebuah Perjalanan Spritual 2
» Sebuah Perjalanan Spritual 3
» Selingkuh Hati 1
» Selingkuh Hati 2
» Selingkuh Hati 3
» Sensasi Di Kantor
» The Art Of Sex

 

Tag: , , , ,

Darah Perawan Rara

Cerita ini bermula waktu jumat malam
sabtu sekitar jam setengah 12 malam.
Tiba-tiba aku menerima telepon dari Rara,
teman kuliahku dulu. Udah lama aku gak
denger kabar dari. Dulu aku sering jalan
bareng sama dia dan anak-anak dari jakarta. Biasalah, waktu di kampus kan
kita primodial banget Tapi gak ada ruginya temenan sama Rara
kok, orangnya cantik, tinggi semampai,
body aduhai dan yang terakhir yang aku
suka banget dari Rara adalah rambutnya.
Dari awal kuliah sampe selesai rambut
Rara yang hitam legam itu selalu panjang. Apalagi kalau ditata sedikit menggelung,
hmmm… aku selalu nganggep dia barbie
doll banget “Halo Ra ? ada apa nih, tumben nelpon
aku. Malem-malem lagi !” tanyaku. “Yan, bisa jemput aku di XXX gak ?”
tanyanya sambil menyebut salah satu
tempat hiburan malam yang cukup
ternama di kota bandung. “Ha ? Kamu ada di Bandung ? Bukannya
kamu di jakarta ? Terakhir aku denger
kamu dah kerja di Jakarta ?” tanyaku
heran, ngapain malem-malem Rara tiba-
tiba ada di Bandung. “Yan ceritanya entar aja deh, sekarang
please jemput aku. Dah malem banget nih”
rajuk Rara padaku sedikit memelas. “Ok deh, kamu tunggu sebentar, aku
jemput sekarang, 10-15 menit deh”
jawabku. Kemudian aku bersiap-siap
mengeluarkan mobil untuk menjemput
Rara. Dalam perjalanan pikirannku penuh
dengan pertanyaan. Pertanyaan terbesar
tetap saja, ngapain Rara melem-malem
ada tempat hiburan malam di Bandung,
sendirian lagi. Yang lebih aneh kenapa
minta jemput sama aku ? makin aneh ! Sesampainya di tempat hiburan malam
tersebut, aku memarkir mobilku. Setelah
turun, aku segera menemukan Rara
sedang berdiri di pintu masuk. Kondisinya
agak aneh. “Halo Ra ! Sendirian ?” tanyaku. “Iya Yan..”
jawabnya lemah. Matanya kelihatan
merah sekali. “Ra, kenapa nih ada disini ? Hmm.. sorry
ya, kamu mabuk ya ?” tanyaku
menyelidik. “Yan bisa kita berangkat sekarang gak ?
gak enak nih diliatin sama orang-orang”
ajaknya. Aku melihat sekeliling, memang
sih beberapa security dan pengunjung
yang baru datang memperhatikan kita
dengan tatapan aneh. “Oke deh, ayo. Mobilku kesebelah sana.” ajakku ke Rara
untuk naik ke mobil. Setelah menghidupkan mobil dan
mengemudikan keluar areal parkir, aku
bertanya ke Rara “Mau kemana nih Ra ?”
tanyaku. “Kemana aja deh Yan” jawab rara
yang duduk disebelahku. “Kamu nginep dimana ?” tanyaku. “Belom
punya tempat nginep” jawabnya singkat.
“Loh, gimana sih. Dah malem banget loh
Ra, aku anter cari hotel ya” tawarku. “Yan aku boleh nginep tempat kamu gak.
Semalem aja, aku lagi butuh ditemenin
nih” pintanya. “Kamu gak pa-pa nginep
ditempat aku ? Rumah kontrakan aku
kecil loh, berantakan lagi. Biasa, rumah
bujangan” jawabku sambil tersenyum. “Aku dah tahu kamu emang berantakan
dari dulu” jawabnya tersenyum kecil.
Akhirnya dia tersenyum juga “Ya udah kita pulang aja ya, kayaknya
kamu juga dah cape banget.” ajakku. “Dari
Jakarta kapan ?” tanyaku. “Tadi sore”
jawab Rara. “Jadi dari jakarta kamu
langsung ke xxx ?” tanyaku heran. Dia
cuma tersenyum kecil. Dasar nakal ! “Sorry nih Ra, kamu lagi ada masalah ya ?”
tanyaku. Dia terdiam sejenak, kemudian
menjawab “Ya gitu deh.” jawabnya.
“Boleh aku tau gak masalahnya sampe
kamu jadi kayak gini” tanyaku lagi. “Yan
boleh gak nanya dulu gak ? Please…” pintanya. “Aku cuma butuh ditemenin
sekarang, tapi janji aku ceritain, kamu kan
orang yang jadi repot gara-gara
masalahku ini” lanjut Rara. “OK deh, kalo
kamu lagi gak pengen ngomongin, aku
gak bakal nanya lagi” jawabku. Sesampainya dirumahku, ternyata Rara
gak ada persiapan apa-apa untuk pergi ke
bandung, dia cuma membawa tas kecil
yang berisi dompet dan peralatan
kosmetik. “Ra pake bajuku aja deh, baju
kamu kan dah kotor dipake perjalanan” kataku sambil memberi Rara bajuku yang
paling kecil dan celana pendek berkaret.
“Ok deh” jawabnya menerima baju
tersebut. Kemudian Rara masuk kekamar
mandi membersihkan badan dan berganti
pakaian. Sementara aku membersihkan kamarku untuk ditempati Rara dan aku
menggelar kasur di ruang tamu untuk
tempat aku tidur. Aku memang punya
kasur cadangan untuk persiapan kalo ada
keluarga ato teman yang mau manginap. “Ra kamu tidur di kamar aku aja ya, tuh
aku dah siapin” kataku ke Rara. “Aduh
sorry Rian, aku jadi ngerepotin banget”
katanya. “Trus kamu dimana ?” tanya
Rara. “Tuh di ruang tamu, aku punya
kasur cadangan kok” jawabku. “Kamu dah makan malem ?” tanyaku.
“Udah, pake beberapa gelas bir” jawabnya
sambil ketawa. “Dasar kamu… Ya udah
aku punya french fries sama nugget, mau
aku gorengin gak ?” tawarku. “Bolehlah,
dari pada gak ada apa-apa” jawabnya sambil tertawa kecil. Akhirnya aku
memasakkan dia kentang goreng, nugget
dan sosis, emang cuma ada itu di
kulkasku. Aku juga membuatkan dia teh
hangat. Setelah makan dan minum,
terlihat Rara agak segaran dikit. “Ya udah Ra, kamu tidur aja sekarang,
udah jam setengah 2 nih” kataku. “Lagian
aku juga dah ngantuk banget” lanjutku.
“OK deh” jawab Rara yang kemudian
beranjak masuk ke kamar, sebelum
masuk dia sempat ngelambain tangan ke aku sambil tersenyum. Dasar nih orang,
ngerepotin tanpa perasaan Kemudian aku rebahan di kasur dan
menyalakan televisi. Tv memang ada di
ruang tamuku. Aku mengecilkan
suaranya supaya tidak mengganggu Rara.
Walaupun aku dah ngantuk, tapi susah
sekali aku memejamkan mata. Sekitar 15 menit kemudian, Rara keluar
dari kamar an menghampiri aku. “Ada
apa Ra ? butuh sesuatu ?” tanyaku. Rara
cuma diam tapi kemudian rebahan
disampingku, bahkan dia menarik selimut
yang aku pakai supaya dia kebagian. “Kan aku dah bilang yan, aku lagi butuh
ditemenin. Aku boleh tiduran disini gak ?
Aku masih pengen ngobrol-ngobrol dulu
sama kamu” kata Rara. “Tapi Ra, kita kan
beda” jawabku. “Beda gimana ?” tanya
Rara yang sudah rebahan disebelahku. “Ya kamu kan cewek, aku cowok, trus kita
dah sama-sama dewasa, apa kamu gak
takut” tanyaku. “Hmmm.. masa sih kamu
mo nyakitin aku ? Setau aku dari dulu
kamu kan baik sama aku Yan.” jawab
Rara. Aku cuma menarik nafas, pikirku mungkin aku baik sama dia, tapi kan aku
juga cowok biasa, mana ada cowok yang
gak pusing ada cewek cantik tidur
disebelahnya “Ya terserah kamu aja sih, walau
menurutku agak aneh. Tapi berhubung
kamu sedikit mabuk wajarlah” kataku.
Rara cuma tersenyum kecil. “Ra, ngapain kamu ada di Bandung, trus
dari sekian banyak orang di bandung
kenapa sih kamu minta aku yang
jemput ?” tanyaku. “Gak tau Yan.
Dipikiranku cuma ada kamu yang bisa aku
percaya dan aku repotin” jawabnya. Aku tersenyum kecil, sialan nih cewek, di
baikin malah manfaatin. “Inget waktu
kuliah dulu ga yan, kamu kan bantu aku
terus” lanjut Rara. Aku terdiam mengingat
masa lalu, memang sih Rara dulu gak
semangat banget kuliahnya, kalo gak dibantu mungkin gak selesai. “Inget waktu skripsiku dulu gak ? Kan
kamu banyak banget bantu aku” lanjut
Rara. “Kayaknya aku gak bantuin deh, tapi
ngebuatin” jawabku sambil tertawa. “Ye…
tapi kan aku dah bayar pake makan-
makan” jawab Rara sambil memukul lenganku. “Masa sih bayarnya cuma
makan-makan” jawabku sambil terus
tertawa. “Jadi dulu gak iklas nih” tanya
Rara cemberut. “Ya iklas lah, namanya
juga temen” jawabku. kami berdua
tertawa. “Ra, seinget aku, kamu dulu cewek baik-
baik banget deh. Walau kamu trendi abis,
selalu gaya, tapi gak pernah aneh-aneh.
Tapi coba liat sekarang, tiba-tiba dateng ke
bandung, mabok, trus nginep di tempat
cowok lagi” kataku. Rara cuma terdiam sambil memandangi
cincin yang dipakai di jari manisnya.
Kemudian dia melepas cincin itu dan
meletakkannya di lantai. “Ini gara-gara
tunangan gue yan” kata Rara lirih. “Jadi kamu dah tunangan ?” tanyaku. Rara
cuma mengangguk kecil. “Dulu..”
jawabnya singkat. “Kok dulu ?” tanyaku
heran. “Sampe siang tadi sih yan. Hari ini kan
libur, maksud aku sih mau istirahat aja
dirumah. Tapi tiba-tiba tunanganku
dateng sama seorang cewek. Dia mo
mutusin tunangan kita. Dia mo nikah sama
cewek itu minggu depan yan, cewek itu dah hamil” kata Rara sambil terisak. “Oh
gitu” jawabku prihatin. “Masalahnya dia udah ngelamar aku yan,
tanggal pernikahan juga udah ditentuin,
persiapan juga udah dimulai” lanjut Rara
dengan tangisnya yang menjadi. “Mau
bilang apa coba aku sama keluargaku Yan,
aku malu banget” lanjut Rara menangis. “Ya mo gimana lagi Ra, masalahnya
emang berat banget” kataku kemudian
memeluk dia. Lama sekali Rara menagis
dipelukanku. Aku gak bisa banyak
komentar, emang masalahnya pelik
banget sih. Setelah tangis reda, pelukan kami lepaskan, aku dan rara rebahan
saling bersisian kembali. “Mungkin emang dia bukan jodoh kamu
Ra.” kataku ke Rara. “Iy sih, tapi masa sih
dia ninggalin aku gitu aja” jawab Rara.
“Abis mo gimana lagi Ra ? Anak yang
dalam kandungan cewek itu gimana ? Kan
harus ada yang tanggung jawab” jawabku. “Kalo misalnya kamu maksain
nikah sama dia, apa kamu mau seumur
hidup tersiksa mengingat cowok yang
kamu nikain ternyata gak bertanggung
jawab sama darah dagingnya sendiri” “Iya juga sih. Kalo aku jadi cewek itu, aku
pasti juga nuntut tanggung jawab” kata
Rara. “Ya masih untung lah mantan
tunangan kamu masih mau tanggung
jawab” kataku. “Sebenernya dia dulu pernah minta ML
sama aku, tapi aku tolak Yan. Mungkin
kalo dulu aku kasih enggak jadi begini
kejadiannya” kata Rara blak-blakkan.
“Walaupun demikian Ra, menurut aku gak
bisa jadi alasan terus dia selingkuh dan ngehamilin cewek laen” Kataku. “Dasar cowok, kenapa sih pikirannya seks
melulu” kata Rara sedikit meninggi.
“Emang tuh, makanya aku gak mau
pacaran sama cowok” jawabku sambil
tertawa. Rara ikutan tertawa. “Rian, kamu dah pernah ML gak ?” tanya
Rara menyelidik. Aku cuma tersenyum
kecil. “Kok gak jawab ? dah pernah ya ?”
tanya Rara dengan sangat ingin tau. “Tuh
kan diem aja, berarti dah pernah. Dasar
cowok sama aja, pikirannya gak jauh-jauh dari selangkangan” kata Rara sambil
memukuli dadaku. “Ya walaupun dah pernah tapi aku kan
gak ngelingkuhin tunanganku dan
ngehamilin cewek laen” jawabku
menggoda Rara sambil tertawa. “Sama
aja, dasar cowok. Brengsek semua” kata
Rara sambil mengubah posisi yang awalnya menghadapku menjadi
menghadap keatas. Aku masih tertawa. “Yan emang ML enak banget ya, kok
banyak banget sih yang belom nikah tapi
dah ML, sampe hamil lagi” tanya Rara.
“Enggak Ra, ML sakit banget, makanya
aku gak mau lagi” jawabku becanda. Rara
mencubit pinggangku. “Ihh… ditanya serius malah becanda” kata Rara. “Abis kamu pake nanya sih. Ya pasti enak
lah, kalo enggak kenapa semua orang
pengen ML dan jadi ketagihan lagi”
Kataku. “Mungkin kalo ML gak enak
manusia udah punah kali. Gak ada yang
mau punya anak kalo MLnya ga enak ato sakit” kataku bercanda. Rara cuma ketawa
kecil. “Emang enaknya kayak gimana sih” tanya
Rara. Aku terdiam sejenak. “Gimana ya Ra,
aku susah untuk neranginnya, tapi emang
ML kegiatan paling enak dari semua
kegiatan. Entar kamu juga ngerti kok kalo
udah ngalamin” jawabku. “Hmm… enaknya kayak coklat gak ?”
tanya Rara semakin aneh
“Gimana ya Ra, kalo kita makan coklat kan
rasa enaknya konstan, sebanyak yang elo
makan ya enaknya kayak gitu aja. Tapi
kalo ML enaknya ada tahapannya. jadi enaknya berubah-ubah tergantung
tahapnya, kayak ada sesuatu yang dituju,
ya orgasme itu” jawabku. “Emang orgasme itu kayak apa sih ?”
tanya Rara lagi. “Aku gak ngerti orgasme
cewek ya, tapi kalo dicowok sih orgasme
biasanya barengan sama keluarnya
sperma. Dicewek kayaknya sih mirip, abis
kalo cewek udah orgasme biasanya vaginanya banjir lendir” jawabku. “Gitu
aja ?” tanya Rara. “Ya enggak lah”
jawabku. “Kalo dah orgasme badan
rasanya rileks banget, kaya diawang-
awang gitu deh sangking enaknya”.
lanjutku. “Jadi mau..” kata rara dengan muka
pengen. Aku mendorong jidat Rara sambil
berkata “Udah tidur sana, pikiran kamu
dah kacau tuh”, walaupun sebenarnya aku
juga jadi mau “Tapi bener Yan, aku jadi mau. Kamu mau
gak ?” tanya Rara. Aku cuma diam.
“Kenapa Yan, aku kurang cantik ya ? ato
aku kurang seksi sampe kamu gak mau ?”
tanya Rara. “Bukan begitu Ra. Kamu tuh lagi mabok,
belom sadar bener. Pikiran kamu jadi
kacau. Mendingan kita tidur aja deh, dari
pada ngelakuin sesuatu yang mungkin
nanti kita seselin besok pagi.” kataku. Rara
mengangguk kecil. “Ya udah, kita tidur. Tapi sebelum tidur
aku boleh peluk kamu gak ? Sekali aja..”
tanya Rara. Aku memandangi Rara
kemudian memeluknya. Rara
melingkarkan tangannya dileherku
sedang aku memeluk pinggang langsing Rara. Paha Rara menjepit pahaku
diselangkangannya. “Ma kasih ya Yan, kamu selalu bantu aku
kalo aku ada masalah” kata Rara. “Iya, iya,
sekarang kamu tidur istirahat, biar pikiran
kamu tenang besok” kataku sambil
mengelus-elus rambutnya. Kemudian aku
mengecup kening Rara. Pelukan Rara makin erat, aku melanjutkan mengelus-
elus rambutnya, kadang aku mengelus
punggungnya. “Yan cium lagi dong” kata Rara. Aku
mengecup keningnya lagi. “Bukan disitu”
kata Rara lagi. “Disini ?” kataku sambil
menunjuk pipinya, kemudian aku
mengecup pipi yang merona merah itu.
“Bukan disitu” kata Rara lagi sambil menutup mata dan memajukan bibirnya. Wah si Rara bener-bener menguji imanku.
Sebenarnya aku dah nafsu banget dari
tadi, tapi dalam hatiku aku gak mau
manfaatin cewek yang lagi gak 100%
sadar. Aku kecup bibirnya. Tapi setelah kukecup
Rara masih menutup mata dan
menyorongkan bibirnya ke aku. Aku
kecup sekali lagi, kali ini agak lama. Rara
bereaksi dengan ikut menghisap bibirku.
Aku lepas ciumanku, kemudian aku memandang Rara yang sedang melihatku
dengan penuh harap. Well… wtf lah, aku
gak peduli lagi, akhirnya aku cium Rara
dengan buas. Aku mencium Rara dengan menghisap
bibir bawahnya, Rara membalasnya
dengan menghisap bibir bawahku.
Kadang-kadang aku masukkan lidahku ke
mulutnya. Awalnya Rara gak bereaksi,
tapi lama-lama saat lidahku masuk dia menghisap kencang, kadang-kadang Rara
gantian memasukkan lidahnya
kemulutku. Selama ciuman, aku mengelus rambut
Rara, kemudian elusanku turun ke
punggungnya, turun lagi ke pinggangnya.
Kemudian aku memberanikan diri untuk
meremas pantatnya. Rara melenguh kecil
“Uhh….” sambil menekan selangkangannya kearah selangkanganku. Setelah beberapa kali mengelus bagian
belakang sampai meremas pantatnya, aku
meremas dadanya. Hmmm… payudara
Rara mantap sekali. Besar sekali
dibandingkan dengan tubuhnya. “Hmm…
Hgmmm.. Hgmmm” lenguh rara karena payudaranya diremas-remas olehku,
dengan tidak melepaskan ciumannya. Birahi memuncak saat meremas-remas
sepasang daging kenyal Rara. Kemudian
aku mengelus punggung rara kembali.
Kali ini aku masukkan tanganku kedalam
kausnya dan mengelus punggungnya
langsung dikulit. Shit, ternyata Rara tidak pakai bra, pantas saja tadi waktu
payudaranya aku remas dari luar terasa
kenya sekali. Saat aku mengelus-elus punggungnya,
aku elus juga bagian samping tubuhnya
sehingga panggkal payudara ikut terelus.
Sepertinya Rara sangat menikmati
elusanku, kemudian dia memagang
tanganku dan mengarahkan tanganku agar meremas-remas payudaranya. Gila,
asik banget payudaranya. Payudaranya
mancung kedepan dengan pentil yang
besar ! Aku sangat menikmati meremas-remas
payudara Rara, terkadang aku
memainkan pentilnya. Sepertinya Rara
juga sangat menikmatinya, tubuhnya
bergetar sambil mengeluarkan lenguhan-
lenguhan kecil “Uggrhh….ugrh….” Pahaku yang dijepit diantara
selangkangan sengaja aku gesek-
gesekkan ke memeknya supaya Rara
makin terangsang. Rara meresponnya
dengan ikut menekan-nekan memeknya
lebih kuat ke pahaku. Kalau aku berhenti menggesekkan pahaku, maka Rara
menggerak-gerakkan sendiri pinggulnya. Tangan kananku kembali meremas pantat
Rara. Kali ini aku masukkan tanganku ke
celananya. Berhubung dia pakai celana
berkaret, aku dengan mudah
memasukkan tanganku. Ternyata Rara
juga tidak memakai celana dalam. Aku dengan mudah meremas pantat bulat itu.
Setiap aku meremas pantatnya, Rara
makin menekan memeknya ke pahaku. Aku mencoba untuk memegang
memeknya dari belakang. Saat tersentuk,
tubuh Rara seperti tersetrum, sambil
melenguh “Uhh….”. Hmmm… ternyata
Rara benar-benar terangsang, memeknya
sudah sangat basah. Sekarang aku memegang memeknya dari
depan. Dan mulai mengelus-elus bibir luar
memek Rara yang sudah banjir itu. Rara
melepaskan ciumanku. Sekarang setiap
aku menggosok bibir luar vaginanya, rara
memekik kencang “Ohgh….Ohgh…. Ohgh…..”. “Enak yan, enak banget. Kamu
ngapain aku, kok enak banget sih” kata
rara sambil merem melek. Dengan jari
tengahku aku mencari klentitnya,
kemudian aku usap perlahan. “Akhhh…”
teriak Rara saat klentitnya aku usap. Kemudian Rara menahan tanganku,
sepertinya dia tidak kuat kalau klentitnya
diusap terus. Akhirnya aku telentangkan Rara.
Kemudian aku membuka kaos yang
dikenakan Rara sehingga Rara 1/2 bugil
sekarang. Aku buka paha Rara lebar-lebar
dan aku tempatkan tubuhku diantara
selangkangannya. Sasaranku berikutnya adalah payudaranya. Sekarang aku
menjilati pentil payudara kanannya.
Tubuh Rara begerak-gerak keenakan,
sepertinya dia suka sekali aku menjilati
dan menghisap-hisap pentilnya. Kadang
Rara menyatukan kedua payudaranya agar lebih maju. Aku berhenti sebentar, memandangi Rara.
Sebenarnya aku ingin sekali membuka
celana Rara dan menusuk-nusuk
memeknya dengan penisku. Tapi aku
sedikit ragu. “Yan, setubuhin aku dong, aku dah gak
tahan nih” kata Rara sambil
memandangku penuh harap. Perkataan
Rara seperti menghapus keraguanku
entah kemana. Aku menari celana Rara
dengan mudah, apalagi Rara membantu dengan mengangkat pantatnya. Kemudian
aku berdiri, membuka kaos dan celanaku,
shinga sekarang aku dan Rara sama-sama
bugil. Sesaat aku memandang tubuh Rara.
Badannya yang langsing tinggi dibalut
dengan kulit putih mulus, ditambah
payudara besar didadanya. Kakinya yang
panjang dan jenjang memiliki betis seperti
bulis padi. Aku ternganga sesaat apalagi saat melihat vaginanya yang diliputi bulu
hitam titis diantara pahanya yang sudah
terbuka lebar. “Kok cuma diliatin ?” tanya rara. Aku
terseyum kemudian menempatkan
tubuhku diantara selangkangannya. AKu
cium Rara sekali lagi, dia membalasnya
dengan cukup buas, kemudian ciumanku
turun ke payudara besarnya. Aku cuma mau memastikan Rara cukup terangsang
sebelum aku menembus memek
perawannya. Sat mencium penisku
menggesek-gesek memeknya walaupun
belum masuk. Aku posisikan tubuhku dan menuntun
penisku ke memeknya. “Ra, pertamanya
sakit, tapi entar enak kok” kataku. “Iya
yan gue juga sering denger”. jawab Rara.
Aku mulai mendorong penisku kedalam
memek Rara. Rara hanya memandangku sambil menggigit bibirnya. Saat penisku sudah masuk 1/2 Rar
memekik “AKhh…sakit yan” . Aku
berhentikan sebentar penisku. Setelah
selang beberapa saat aku goyang sedikit
penisku kemudian aku dorong lagi sampai
full. “Aduh yan sakit banget” kata Rara memelas. “Tenang Ra, paling sakitnya
sebentar, nanti juga enak” kataku
menenangkan. “Enggak Yan, sakit banget,
bisa elo cabut dulu gak” pinta Rara sambil
menahan sakit. Aku juga gak tega
melihatnya akhirnya aku cabut penisku. Saat dicabut penisku diselimuti darah
perawan Rara. Dari vaginanya juga aku
melihat darah mengalir. Hmmm…
memang lebih banyak daripada darah
perawan yang pernah aku liat. “Yan kok berdarah sih ?” tanya Rara panik.
“Itu namanya darah perawan sayang.
Selaput dara kamu dah pecah” jawabku.
“Aku mo kekamar mandi dulu yan, mo
bersihin dulu” kata Rara. Aku
mengantarkan Rara kekamar mandi dan menungguinya dari luar, untuk
memastikan Rara gak apa-apa. Setelah Rara keluar dari kamar mandi,
vaginanya sudah bersih. Tapi nafsuku
sudah turun, sepertinya nafsu Rara juga
sudah turun. Akhirnya kami hanya
rebahan saling berdampingan, masih
bugil. “Yan kok sakit banget ya” tanya Rara. “Iya
lah Ra, itu kan pertama kalinya kamu,
memek kamu masih sempit ditambah ada
selaput dara” jawabku. “Masih mau lanjut
gak Ra ?” tanyaku pada Rara. “Mau yan,
tapi pelan-pelan ya” jawab rara. Akhirnya Aku tempatkan tubuhku diatas
tubuhnya lagi. Aku mulai menciumi tubuh
rara. Dari bibirnya, pipi, leher dan
payudaranya. Aku seperti gak puas-puas
menciumi dan menjilati tubuh mulus yang
masih sekel itu. Kadang tanganku mengelus memeknya. Aku memang tidak
berencana mencium vaginanya, takutnya
dia shock dan merasa jijik, bisa batal
orgasme malam ini Setelah Rara sudah cukup terangsang, aku
arahkan penisku ke vaginanya. Kali ini
Rara tidak terlihat tegang seperti waktu
yang pertama. Aku dorong penisku
masuk. “Heghh..heghmm…” lenguh Rara
saat penisku masuk. Kali ini vaginanya tidak terlalu sulit dipenestrasi, mungkin
karena tidak tegang sehingga cairan
vaginanya cukup. Aku dorong penisku
sampai mentok. Aku melihat ada sediki
darah mengalir dari vaginanya, mungkin
sisa selaput daranya masih ada yang belum pecah. Aku goyang perlahan penisku, tubuh Rara
terguncang sedikit, rara masih menggigit
bibirnya. Goyanganku aku percepat
sedikit, nikmat sekali memek Rara.
Sangking sempitnya serasa penisku
terhisap kuat oleh vaginanya. Aku percepat goyanganku, sekarang Rara
mulai melenguh, “Akh…Akh…Akhhh…”
seirama dengan keluar masuknya penisku
di vaginanya. “Lagi yan..Lagi yan..Lagi”
desahnya sambil memegangi pantatku
seakan ingin menekannya terus. “Gila Ra, memek kamu enak banget,
sempit banget”. kataku. “Penis kamu juga
keras banget yan, enak…” jawab Rara
disela-sela lenguhannya. Aku memang tidak berniat untuk
memakai gaya lain. Untuk pertama
kalinya Rara cukup pakai gaya
konvensional, laki-laki diatas. Dengan
demikian aku bisa ngontrol tusukan
penisku kedalam memeknya. Aku tusuk perlahan memek Rara, kadang aku
percepat. Kadang aku berhenti sesaat
kemudian aku tusuk dengan keras.
Kadang aku tusuk kearah samping. Tiba-tiba tubuh Rara sedikit menegang,
sepertinya dia ingin orgasme. Aku
percepat goyanganku, soalnya aku mau
orgasme sama-sama. Kalo sama yang
perawan kadang gak mau terus kalo dia
udah orgasme, cepek katanya. “Ahhh…Akhh….Aghkhh..” pekikan Rara
makin keras seiring dengan makin
cepatnya tusukan penisku. “Lagi sayang…lagi…lagi..” pekik Rara.
Akupun merasa aku sedikit lagi akan
orgasme. Tiba-tiba tubuh rara menegang
dan terguncang hebat sambil berteriak
“AKHHHH….” rara mendekapku erat dan
melingkarkan kakinya di tubuhku, Aku pun sudah tidak kuat lagi, tapi aku gak
bisa melepaskan tubuhku dari Rara.
Akhirnya aku nekat, aku tekan penisku
dalam-dalam dan aku tembakkan
spermaku ke rahim Rara 5 atau 6 kali. Aku
puas sekali menggagahi Rara komplit, dari merawanin sampai orgasme didalam
memeknya. Setelah beberapa lama akhirnya penisku
mengecil dan rara melepaskan
dekapannya. “Gila enak banget, pantes
banyak yang ketagihan” Kata rara setelah
rebahan disebelahku. Akhirnya Rara pulang kejakarta hari
minggu sore. Aku dan Rara beberapa kali
mengulangi persetubuhan kami disela-sela
aku dan Rara jalan-jalan di Bandung, atau
lebih tepatnya aku dan Rara jalan-jalan
disela-sela persetubuhan kami. Posted By: Indah Dewi Pramitha

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 8, 2012 in Cerita Dewasa

 

Tag: , , , , , , , ,

Kumpulan Cerit dewasa indonesia terbaru – Part 2

» Adik Sepupu Isteriku
» Akibat Bertemu Wanita Misterius
» Aku Jadi Pengantin Muridku
» Anak SD Vs SMU
» Asmara Di Tengah Hutan
» Ayahku Tercinta
» Ayahku Yang Kesepian
» Bercinta Dengan Ibu Guru
» Bercinta Di Dalam Kelas
» Bocah Imut
» Cleaning Service
» Cucuku Dhea Dan Marsha
» Dari Adiknya Dapat Kakaknya
» Dokter Kandungan
» Gadis Gadis Kecil
» Gadis Sampul
» Guru Yang Beruntung
» Herry Yang Tega
» Ika Gadis Bandung
» Inah Pelayan Seksi
» Isteriku Dan Ibunya
» Jablay Nikmat
» Kerja Kelompok Yang Nikmat
» Lisi
» Mahasiswi Bandung
» Main Dokter Dokteran Yuk
» Main Rumah Rumahan
» Mami Tour
» Mbak Ana Tetanggaku
» Membaur Ke Kampung
» Misteri Malam Jumat
» Nikmatnya Anakku
» Nikmatnya Menjadi Dokter
» Nikmatnya Tubuh Mungil Marlena
» Ningsih Pembantuku
» Novie Neneng Dan Mona
» Om Heru Jahat Aku Jadi Ketagihan
» Papa Ku Nakal
» Pemerkosaan Halus
» Pemuas Nafsu
» Penasaran Membawa Nikmat
» Pengalaman Bersama Sri
» Penjaga Warnet
» Pesanan Dari Ayah
» Pesta Sex Membara
» Polwan Yang Manis
» Rok Ketat Riska
» Rumah Tante Rani
» Sensasi Di Hari Libur
» Simpanan Ayah Tiri

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 8, 2012 in Cerita Dewasa

 

Tag: , , , , ,

Kumpulan Cerita Dewasa Indonesia Update Terbaru – Part 1

» Adik Isteri
» Adik Pacarku
» Adik Tiriku
» Akhir Kisah Selingkuh
» Amanda
» Anak Kost Belakang
» Balada Isteri Kesepian
» Berbagi Rasa
» Bercinta Dengan Isteri Orang
» Cerita Threesome
» Dada Syeni
» Di Intip..Tapi Enak Lho
» Dibalik Kerudung Tari
» Dimandiin Pembantu
» Diperkosa Teman Sendiri
» Gairah Penjual DVD
» Gara Gara Buku
» Gara Gara Kunci Rumah Tertinggal
» Ibu Mertuaku
» Isteri Boss Ku Mantab
» Janjiku Kepada Ira
» Kakak Kelas
» Kakak Sahabatku Yang Hot
» Kenangan Di Pulau Dewata
» Keperawanan Ibu Guru
» Kisah Ami Di Sebuah Warnet
» Maafkan Aku Cha
» Main Petak Umpet
» Mak Lela
» Mbak Yuli, Kenal Di Bus Patas
» Merawanin Pacar Teman
» Ngak Kan Lari Orgasme Dikejar
» Ngewek Dengan Pembantu Baru
» Nikmatnya Mulut Nyokap Pacar Gw
» Nikmatnya Pelukan Majikanku
» Pengalaman Di Kampung
» Pulang Mudik
» Sales Girl
» Sinta Mahasiswi Bispak
» Suster Maniak
» Tante Cantik
» Tante Ku Enak Sekali
» Tante Linda
» Tanteku Jadi Isteriku
» Teman Kantorku Ternyata…
» Teman SMA
» Terjadilah !
» Terpaksa “Kuhajar” Sahabat Istriku
» Tiga Ronde Sehari
» Tukar Tambah

 
 

Tag: , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.