RSS

Arsip Kategori: sex perkawinan

Cerita sex – Sebelum Pernikahan

Senin, 15 November 2010 Seperti yang pernah aku ceritakan pada
kisah sebelumnya, aku sudah sangat
sering berhubungan badan dengan adik
laki-lakiku. Namun kali ini aku
melakukannya dengan anggota
keluargaku yang lain, yaitu Ayah kandungku sendiri! Aku sadar kalau
perbuatan ini sangat salah. Tetapi aku
tidak tahu harus bagaimana lagi, karena
kini sudah tidak ada yang dapat aku
lakukan untuk dapat merubah semuanya.
Seperti kata pepatah ‘Nasi sudah menjadi bubur’. Mungkin ada yang masih ingat kalau aku
adalah gadis keturunan Betawi dan
Sunda? Ayahku memang berasal dari
Jakarta. Walaupun perawakan Ayahku
tidak tinggi besar, namun karena wajah
beliau yang tegas, orang lain menjadi segan dengannya. Apalagi saat kumis
Ayah masih sengaja dibiarkan tumbuh
panjang yang tentu saja membuatnya
menjadi terlihat semakin seram. Beberapa
komentar dari mantan pacar maupun
teman-temanku yang sudah pernah melihat Ayah membuatku semakin yakin
kalau beliau cukup menakutkan. Sudah sekitar 2 bulan ini aku tidak bekerja
lagi karena di kantorku sedang ada
pengurangan karyawan. Setelah berhenti
bekerja, aku hanya mengisi waktu
luangku dengan melamar pekerjaan serta
membantu Ibu di rumah. Sementara itu sekitar 2 minggu lagi aku juga berencana
akan segera melangsungkan pernikahan
dengan pacarku yang sekarang. Tentu saja
hal ini membuatku cukup sibuk sehingga
aku tidak terlalu mengambil pusing lagi
memikirkan sulitnya mencari pekerjaan. Hari itu hanya ada aku di rumah, Ayahku
sedang ada urusan penting, sedangkan
Ibu pergi berbelanja kebutuhan pokok.
Begitu juga dengan adik-adikku, ada yang
sedang kerja maupun kuliah. Karena cuaca
hari itu cukup panas aku memutuskan untuk mandi. Dengan segera aku
mengambil handuk dari kamarku lalu
menuju ke kamar mandi. Setelah melepas
pakaian yang menempel satu-persatu, aku
mulai membersihkan seluruh permukaan
tubuhku hingga kembali harum dan segar. Kira-kira setengah jam aku berada di
kamar mandi. Karena tidak ada orang lain
lagi di rumah, dengan hanya mengenakan
handuk aku segera menuju ke kamar
tidur untuk berganti pakaian. Namun baru
berjalan beberapa langkah, samar-samar aku mendengar suara pintu depan diketuk
oleh seseorang. ‘Tok… Tok… Tok…’ terdengar lagi suara
ketukan tetapi kali ini lebih keras. “Aduh… Siapa sih?” tanyaku dalam hati. “Teh bukain pintunya…! Ini Ayah…!”
terdengar suara pria yang ternyata adalah
Ayahku. Karena belum sempat berganti pakaian,
dengan hanya masih memakai handuk
aku langsung membukakan pintu untuk
Ayahku. “Kok cepet sih pulangnya Yah?” tanyaku
heran ketika aku sudah membukakan
pintu. “Udah selesai kok urusannya…” jelas Ayah
singkat. “Oh gitu? Ya udah Ayah istirahat dulu
sana…” kataku sambil menutup pintu lalu
menguncinya kembali. Setelah yakin pintu depan sudah dalam
keadaan terkunci, aku pun segera
beranjak ke kamar untuk berganti
pakaian karena takut masuk angin. Ketika
sudah berada di kamar aku mengambil
pakaian dari dalam lemari. Baru saja aku bersiap untuk melepas handukku, tiba-
tiba saja terdengar suara pintu kamarku
dibuka. Tentu saja aku kaget karena ketika
membalikkan tubuh rupanya Ayahku
sudah berada di dalam kamar. “Ayah kok masuk nggak ketok pintu dulu
sih!?” aku setengah membentak ke
Ayahku. “Ma-maaf Teh… Ayah cuma mau tanya Ibu
udah pulang apa belum?” tanya Ayah
yang kemudian langsung duduk di atas
tempat tidurku. Tidak biasanya Ayah masuk ke kamarku
dengan tiba-tiba, apalagi tanpa mengetuk
pintu terlebih dahulu. Akhirnya handuk
yang tadinya sudah siap untuk kulepas,
aku kencangkan lagi ikatannya. “Belum Yah…” jawabku seadanya. “Kok tumben sih belum pulang?” tanya
Ayah yang kali ini sambil memandangi
tubuhku. “Nggak tau deh… Emangnya kenapa sih
Yah? Baru ditinggal sebentar udah kangen
aja sama Ibu…” kataku bercanda. “Hehehe… Bisa aja anak Ayah yang satu
ini…” Ayah tertawa mendengar ucapanku. Namun setelah percakapan itu suasana
menjadi sepi. Bukan karena tidak tahu
harus berbicara apa, tetapi keberadaan
aku dan Ayah di kamar ini. Selain karena
hanya ada kami berdua, kondisi tubuhku
yang masih memakai handuk juga menambah ketidaknyamanan di dalam
ruangan ini. “Teh… Sini duduk di sebelah Ayah…” tiba-
tiba Ayahku berkata sambil menunjuk
tempat di sebelahnya. Tanpa ada perasaan curiga sama sekali,
aku pun menuruti permintaan Ayah
karena merasa beliau ingin membicarakan
sesuatu yang sangat penting denganku. “Teh… Sebentar lagi kan kamu nikah…”
kata Ayah serius. “Iya Yah…! Ayah seneng kan Teteh
akhirnya nikah?” tanyaku memotong
perkataan Ayah. “Ayah seneng kok Teh… Tapi sebenernya
Ayah sedikit nggak rela kalo anak
kesayangan Ayah diambil orang lain…”
lanjut Ayah dengan raut wajah sedih. “Ya ampun…! Ayah tenang aja deh… Teteh
tuh milik Ayah dan akan seterusnya
kayak gitu kok…” jawabku berusaha
menenangkan Ayah. “Ka-kalo begitu… Te-teteh mau kan
bersetubuh sama Ayah?” tanya Ayahku
dengan terbata-bata. “A-ayaah…!! Ayah ngomong apa sih!?”
aku sungguh marah sekaligus bingung
mendengar permintaan Ayah barusan. “Teh… Ayah sayang Teteh… Sebelum
kamu nikah, Ayah pengen banget bisa
bersetubuh sama kamu…” ucap Ayah
yang membuatku yakin kalau aku tidak
salah dengar. “…………” tenggorokanku terasa seperti
tersendat dan tidak dapat berkata apa-apa
lagi. Seolah tidak ingin menunggu jawaban
dariku, tangan kanan Ayah mulai
memegang daguku. Sementara tangannya
yang sebelah lagi menggenggam
tanganku, yang masih dalam keadaan
memegang handuk, dengan penuh kehangatan. Ayah mengangkat daguku
hingga kepalaku menengadah tepat ke
arah wajahnya. Kulihat pancaran kedua
mata Ayah begitu penuh kasih sayang,
namun bukan seperti tatapan sayang
orangtua kepada anaknya, melainkan layaknya seorang pria memandangi
kekasihnya. Aku hanya diam saja diperlakukan seperti
ini. Belum sempat aku berpikir atau
berbuat sesuatu, tiba tiba wajah Ayah
sudah berada sangat dekat dengan
wajahku hingga membuatku menahan
nafas. Kepalanya perlahan turun dan mengecup bibirku. Cukup lama Ayah
mengulum bibir mungilku. Perlahan tetapi
pasti, aku mulai gelisah. Birahiku mulai
naik. Tanpa kusadari kuikuti saja kemauan
Ayahku ini. “Aaaaah…” aku mendesah sangat pelan
sehingga nyaris tidak terdengar. Setelah beberapa lama, kini aku antara
pasrah dan menikmati cumbuan ini. Tiba-
tiba saja bibirku diciumi Ayah dengan
nafsu. Aku sudah tak bisa berpikir jernih
lagi. Dengan memejamkan mata, aku
langsung membalas ciuman Ayahku dengan liar. Kami berdua pun saling
bertukar ludah dengan panas. Nafsu birahiku mulai tidak dapat tertahan
ketika tangan kiri Ayah menyentuh
payudaraku dan melakukan remasan
lembut. Tidak hanya bibirku yang dijamah
bibir Ayah. Leher mulusku pun tidak luput
dari sentuhan Ayah. Bibir tersebut kemudian beranjak naik ke telingaku.
Jantungku berdetak kencang dan
wajahku terasa panas. “Mmmmh… Yaaaaah…” desahku ketika
lidah Ayah mulai bermain di belakang
telingaku. Ayah kemudian membaringkan tubuhku
di atas kasur tempat tidurku agar posisiku
dapat lebih nyaman. “Yaah jangaaaaan…! Na-nantiii ketauaaan
Ibuuu…!” aku mencoba untuk menolak
keinginan Ayah walaupun di dalam hati
aku juga sangat menginginkannya. Tetapi Ayah yang sudah dikuasai hawa
nafsu tidak menanggapi perkataanku
sama sekali. Saat ini aku tidaklah seperti
seorang putri kecil lagi bagi Ayah,
melainkan sebagai objek pelampiasan
nafsu birahinya. Sambil menindih tubuhku, bibirku diciuminya lagi. Tidak
lama kemudian handuk yang melilit di
tubuhku disingkapkannya, sehingga
tubuhku kini dalam keadaan tanpa
penutup sama sekali. “Badan Teteh harum bangeeet…” bisik
Ayah mesra. Ayah tidak puas-puasnya memandang
dan menciumi tubuhku. Apalagi kulit
putih halus yang membalut tubuhku
semakin meningkatkan hawa nafsunya.
Sehingga begitu pandangannya mengarah
ke payudaraku, tangan Ayah mulai membelainya. Jari-jari kasarnya menjepit
dan meremas-remas putingku, perlahan
namun sama nikmatnya dengan remasan
yang kuat dan keras. “Mmmmmmh…” aku mendesah nikmat. Sementara tangan Ayah mulai mengelus-
elus pahaku yang mulus dan putih. Kedua
putingku kemudian dikulumnya
bergantian antara kiri dan kanan. “Yaaaah… Ooooohh…” desahku lagi ketika
kumis tipis milik Ayah menggesek
dadaku. “Ayah sayang kamu Teh…” kata Ayah
sambil memandangku, kali ini dengan
tatapan yang sangat aneh. “Yaaah… Teee… Mmmm…” belum selesai
aku berbicara bibir Ayah kembali
mengulum bibirku. Sewaktu Ayah mencium bibirku dengan
memasukkan lidahnya, aku tidak tinggal
diam. Dengan panasnya kami saling
beradu lidah. Ayah sungguh pintar
membuatku terhanyut sehingga saat ini
aku sudah tidak memikirkan lagi bahwa perbuatan yang sedang kulakukan adalah
sebuah dosa besar. Yang dapat kulakukan
saat itu adalah memalingkan wajah ke
samping karena merasa malu dapat
terangsang oleh permainan Ayah
kandungku sendiri. Tidak puas hanya bermain dengan bibir
dan payudaraku saja, kini bibir Ayah
mulai turun ke perut dan berhenti di
vaginaku. Aku semakin terangsang ketika
bibir Ayah mencium bibir vaginaku. Lidah
Ayah kemudian mencoba untuk menerobos masuk ke dalam. Aku juga
dapat merasakan hembusan nafas Ayah
menerpa vagina bagian luarku yang
semakin menambah sensasi nikmat. “Aaaaaaaah… Ayaaaaaaaah…!!!” aku
mendesah kencang ketika lidah Ayah
mengenai klitorisku. Perlahan kedua kakiku mulai melebar
karena rangsangan dari lidah Ayah yang
sedang memainkan klitorisku. Tubuhku
terasa ingin terbang ketika merasakan
jari-jari Ayah ikut bermain di dalam
vaginaku. Aku dapat merasakan permukaan vaginaku mulai basah pada
bagian belahannya, bukan hanya karena
air liur Ayah, namun juga karena
rangsangan yang terus-menerus diberikan
oleh beliau. Setelah beberapa lama aku pun mulai
memiliki keberanian untuk melihat ke
bawah dimana selangkanganku sedang
dijilati dan dihisap-hisap oleh Ayahku.
Sungguh lihai mulut serta lidah Ayah
menyedot dan juga menjilati vaginaku sampai membuat kakiku mengejang
hebat. Lidah Ayah bergerak lincah,
kadang dengan gerakan lambat, kadang
cepat bahkan terkadang sampai menjilat
memutari vaginaku. Akibatnya beberapa menit kemudian
tubuhku mulai mengejang, lalu aku dapat
merasakan dari dalam vaginaku ada
sesuatu yang mengalir dengan kuat dan
siap untuk dikeluarkan. “Oooohh… Teteeeeh keluaaaar Yaaaah…!!
Ooooooohh…” aku mengerang panjang
dalam orgasme pertamaku ini. Kemudian Ayah dengan sengaja
menghentikan jilatannya untuk
mengamati lendir vaginaku yang keluar
dalam jumlah banyak sehingga sampai
menetes ke tempat tidur. Sebuah senyum
mesum terpancar pada wajah tua beliau. Sepertinya Ayah senang sekali karena
berhasil membuat putri kandungnya
mencapai puncak kenikmatan untuk
pertama kalinya. “Sluurp… Enaak bangeet cairannya Teteh…
Hhmmm… Jauh lebih enaak dari Ibu
kamu…” kata Ayah sambil menikmati sisa
cairan yang masih menempel di vaginaku. Sesaat kemudian Ayah mulai membuka
seluruh pakaiannya yang masih dalam
keadaan lengkap seperti ketika beliau
pergi tadi, hingga kini kami berdua sudah
dalam keadaan telanjang. Ayah lalu
mengambil posisi berlutut di sebelahku lalu mengarahkan tanganku ke batang
penisnya. Merinding juga aku melihat
batang kemaluan Ayah yang sangat besar
dan masih terlihat perkasa. Dengan mata sedikit terpejam aku mulai
memegang batang penis Ayah dengan
tangan kananku. Namun karena ukuran
penis Ayah sangat panjang, maka tangan
kecilku ini hanya mampu menggenggam
hingga setengahnya saja. Perlahan aku meremas-remas penis tersebut sebelum
mulai mengocoknya. Sesekali aku
membuat gerakan memutar yang
membuat Ayah menggelinjang nikmat. “Ooooh… Enaaaaak Teeeeh…!!” kata Ayah
ketika aku mengocok penisnya itu dengan
lebih cepat. Ketika wajahku sudah berada tepat di
depan penis Ayah, dengan perlahan
kujilati seluruh penisnya dengan lidahku.
Mulai dari ujung kepalanya yang
berwarna kemerahan, hingga batangnya
yang kekar. Sesekali cairan bening yang keluar dari penis Ayah juga aku jilati
hingga bersih. “Iseepiiin doong Teeeh…” perintah Ayah. Mungkin karena Ayah sudah tidak dapat
tahan lagi dengan perlakuanku terhadap
penisnya, dengan tidak sabar beliau
mengarahkannya ke mulutku hingga
akhirnya aku pun mulai mengulum penis
tersebut. “Iyaaaaaah… Teruuuss…!! Ooooooh…
Enaaaaaaaaak…!!!” teriak Ayahku. Karena aku sudah cukup berpengalaman
dalam melakukan oral seks, Ayahku jadi
sangat menikmati hisapanku. Penis Ayah
yang berukuran besar keluar masuk di
dalam mulutku. Sesekali aku menghisap
penisnya dengan kuat sekaligus menggigitnya pelan. Kedua tangan Ayah
juga tidak tinggal diam dan ikut bermain
pada kedua putingku. Aku terus bekerja keras mengulum dan
memainkan lidahku pada batang penis
Ayah yang terasa sesak di mulutku. Benda
itu bergetar setiap kali lidahku menyapu
kepalanya. Ayahku yang semakin merasa
keenakan menggerakkan pinggulnya ke depan dan belakang secara perlahan
seolah-olah seperti sedang bersetubuh. “Mmmmhh… Kamuu jagooo bangeeet
ngiseepnya Teeeh…!!” puji Ayah sambil
mengelus rambutku. “Sluuurpp… Hhhmmmm… Sluuuuurpp…”
dipuji seperti itu membuat aku semakin
bersemangat menghisap penis milik Ayah. “Uuuuhh… Enaaak bangeeeet Teeh… Te-
teruus gituiiiin… Iyaaaah… Mmmmm…”
Ayah mengerang sambil memegangi
kepalaku. Sambil terus mengulum penis Ayah,
tanganku juga ikut mengocok batangnya
ataupun memijat buah zakarnya. Kurang
lebih 15 menit penis Ayah berada di dalam
mulutku, akhirnya beliau tidak dapat
menahan untuk segera mengeluarkan spermanya. Tanpa sadar Ayahku
menggerakkan pinggulnya lebih cepat
sehingga membuatku kelabakan. “Ayaaah pengeeeen keluaaaar Teeeeh…!!
Aaaaaaah… Teruuuus…!!” teriak Ayah
dengan nafas memburu karena sudah
ingin mencapai orgasme. ‘Creeeeett… Creeeeeettt… Creeeeeeettt…’
tidak lama kemudian keluarlah sperma
Ayah dengan sangat deras ke dalam
mulutku. “Teeeeeh…!! Teteeeeeeeh…!!! Aaaaaaah…!!!”
Ayah berteriak-teriak tidak terkendali
seperti orang kesetanan. Sungguh hangat rasanya ketika sperma
Ayah menyirami mulut dan
tenggorokanku dengan derasnya.
Walaupun jumlah sperma milik Ayah
sangat banyak serta beraroma tidak
sedap, dengan menahan mual aku tetap berusaha menelannya hingga tidak tersisa
sedikitpun. Memang melakukan oral seks sudah
seperti bakat terpendamku, sehingga
pasanganku pasti sangat menikmatinya.
Adik laki-lakiku adalah salah satu orang
yang sangat ketagihan dengan hisapanku.
Penis Ayah semakin menyusut di dalam mulutku ketika semburan spermanya
sudah mulai terasa melemah hingga
akhirnya berhenti sama sekali. Namun sepertinya Ayah masih belum
terlihat puas karena nampak dari penisnya
yang masih tegang. Ayah hanya menarik
penisnya dari mulutku lalu duduk. Aku
memanfaatkan waktu ini untuk
beristirahat sebentar karena beliau sendiri katanya butuh waktu beberapa menit
untuk mengumpulkan spermanya. Aku
dan Ayah menghimpun kembali tenaga
yang cukup terkuras. Baru beristirahat sebentar nafsu Ayah
sudah sudah bangkit lagi “Teh lanjutin lagi
yuk…” pinta beliau. Ayah lalu memintaku untuk naik ke atas
wajahnya sehingga kini kami berada
dalam posisi saling menjilati kemaluan
pasangan masing-masing. Tanpa perlu
diperintah lagi, aku membungkukkan
tubuhku dan meraih penis milik Ayah lalu kukocok perlahan sambil menjilatinya.
Kugerakkan lidahku menelusuri batang
penis Ayah sekaligus buah zakarnya.
Jilatanku lalu naik lagi ke ujungnya
dimana aku mulai membuka mulut siap
untuk menelannya lagi. Tinggi badanku dengan Ayah yang tidak
berbeda jauh, membuat kami nyaman
berada dalam posisi ini. Untuk beberapa
saat hanya suara desah nafas dan jilatan
saja yang terdengar di dalam ruangan ini. “Enak ya Teh? Sluuuurp… Mmmmmh…”
tanyanya sambil terus menjilat-jilat
vaginaku. “Iyaaaah… Enaaaaak bangeeeet Yaaah…!!
Oooooh…” berulangkali aku melenguh
dan mendesah dibuatnya. Terus terang gaya ini jelas jauh lebih
nikmat dari sebelumnya karena aku juga
dapat ikut merasakan di oral oleh Ayah.
Sementara aku merasakan jari Ayah
menggantikan tugas lidahnya untuk
bermain di vaginaku. Jari tersebut kemudian membuat gerakan memutar di
dalam liang vaginaku. Tidak sampai di situ
saja, jari Ayah tadi dimasukkannya lebih
dalam ke vaginaku sedangkan jari-jarinya
yang lain mengelus-elus klitorisku. Dan satu hal yang membuatku semakin
melayang adalah saat lidah Ayah juga
turut menjilati vaginaku. Sungguh suatu
sensasi yang hebat sampai pinggulku
turut bergoyang menikmatinya dan
sekaligus semakin membuatku bersemangat mengulum penis milik Ayah. “Yaaah…! Teteeh udaah nggaaak
tahaaan…!” kataku sambil berhenti
mengulum penis Ayah. “Sluurp… Sabaaar Teeeh… Tahaaan
duluuu…! Kitaa keluaaar barengaaan…!!”
ucap Ayah yang tetap menjilati vaginaku. “Akkkhhhhh… Teteeeeh keluar…!!” karena
sudah tidak kuat lagi akhirnya vaginaku
kembali mengeluarkan cairan. Akibat merasa sangat lelah karena sudah
mencapai orgasme dua kali, kali ini aku
yang merobohkan tubuh di sebelah Ayah.
Sementara Ayah yang mungkin masih
merasa tanggung karena belum mencapai
klimaks lagi mulai berdiri di depanku. Matanya dengan tajam memandang ke
arah kemaluanku. Aku juga dapat
mendengar nafas Ayah demikian
memburu karena birahi beliau yang
belum terlampiaskan seluruhnya. “Yah nanti dulu… Teteh masih capek nih…”
pintaku karena sudah mengerti dengan
apa yang diinginkan oleh Ayah saat ini. Ayah yang seakan tidak memperdulikan
kondisiku, mengambil posisi tepat di atas
tubuhku sambil mencium bibirku dengan
ganas. Kemudian Ayah mengarahkan
penisnya yang masih berlumuran air liur
ke liang vaginaku. Aku sungguh tegang ketika melihat penis Ayah menempel di
vaginaku dan mencoba untuk masuk.
Walaupun aku memang sudah tidak
perawan lagi, namun penis Ayah terlihat
kesulitan menjebol vaginaku yang masih
sempit. “Aaaaaaah… Ayaaaaaaah…!!” aku merintih
ketika kepala penis milik Ayah
menggesek-gesek klitorisku. Supaya lebih memudahkan aksi Ayah, aku
pun mulai membuka kedua pahaku lebar-
lebar. Melihat reaksiku, Ayah semakin
berusaha menekan penis beliau ke dalam
vaginaku. Perlahan namun pasti penis
tersebut mulai dapat masuk menembus selaput dinding vaginaku walau baru
setengahnya saja. Dengan tidak mengenal
kata menyerah, Ayah terus mendorong
penisnya hingga benda yang kira-kira
berukuran 18 cm itu mulai tenggelam di
dalam lubang vaginaku. “Aaaaaahh… Ayaaaaahhh…!!!!
Aaaaaaaaahhhh…” aku memekik panjang
ketika dengan tiba-tiba Ayah
menghujamkan penisnya dengan kuat. “Yaaah…!! Aaaaaah… Pelaaan-pelaaaaan…!!
Oooohh… Aaaaaah…” teriakku merasa
kesakitan ketika penis Ayah mulai keluar
masuk vaginaku tanpa kendali. Ternyata Ayah sama sekali tidak
menghiraukan jeritanku agar beliau
menyutubuhiku dengan sedikit lembut.
Seakan sudah lupa daratan, Ayah malah
semakin buas bermain di kemaluanku.
Aku hanya dapat memejamkan mata serta menggigit pelan bibirku untuk menahan
rasa sakit yang timbul dari dalam
vaginaku. Lambat laun rasa sakit yang
kurasakan mulai hilang dan berganti
dengan nikmat yang luar biasa. “Ayaaahh…!! Aaaaaahhh… Teruuus
Yaaaah…!! Enaaaaak… Aaaaaah…” desahku
yang mulai dapat beradaptasi dengan
permainan kasar Ayah. Aku sungguh tidak kuasa untuk menahan
rintihan setiap kali Ayah menggerakkan
pantatnya ke arah vaginaku. Gesekan
demi gesekan penis Ayah pada dinding
dalam liang senggamaku sungguh
membuatku terangsang. Pinggulku juga ikut menggeliat-geliat menikmati tusukan-
tusukan dari penis Ayah. Dapat aku lihat
bagaimana batang penis tersebut keluar
masuk vaginaku. Bahkan aku selalu
menahan nafas ketika penis milik Ayah
masuk ke dalam kemaluanku yang hampir tidak dapat menampung
ukurannya yang besar itu. “Oooohh… Enaaaaak bangeeet Teeeeh…!!
Aaaaah… Aaaaaah…” kata Ayah di sela-
sela persetubuhan kami. “Teteeh jugaa ngerasaaa enaaaak Yaah…!
Teruuus Yaaah…!! Nikmatiiin Teteeeeh
semaaauu Ayaaah…!” aku berteriak sangat
kencang tanpa memikirkan kalau suaraku
bisa saja terdengar oleh orang lain. Ayah kemudian menempelkan kedua
tangannya di dadaku lalu meremas-remas
payudaraku. Aku dapat merasakan
putingku semakin mengeras. Sodokan
penis Ayah yang liar ditambah dengan
remasan pada kedua payudaraku tentu saja membuatku semakin menjerit-jerit. “Aaaaah… Aaaaahhh… Teruuuuus
Yaaah…!! Puasiiin Teteeeh… Aaaahhh…”
jeritku seiring dengan irama persetubuhan
kami. Kuakui Ayah sangat berpengalaman
dalam hal ini walaupun memang tidak
banyak variasi yang dilakukan oleh beliau.
Makanya aku juga tidak heran kalau
sekarang kedua orang tuaku sudah
memiliki 4 orang anak. Namun akhirnya kali ini aku juga dapat merasakan
kenikmatan seperti yang pernah dialami
oleh Ibuku. “Ayaaaaaah…! Ooooohh… Teteeeeh
keluaaaaaar…!!” aku melenguh kencang
melepaskan segala perasaan nikmat yang
kurasa. Tidak lama kemudian aku dapat
merasakan cukup banyak cairan vaginaku
mengalir keluar dengan cepat. Vaginaku
yang sudah basah berulangkali diterobos
oleh penis Ayah. Tidak jarang payudaraku
diremas-remas dan putingku dihisap. Mungkin karena sudah merasa bosan
dengan posisi ini, Ayah lalu membalikkan
tubuhku hingga sekarang aku bertumpu
dengan kedua lututku. Aku yang masih
lemas hanya dapat mengikuti saja
kemauan Ayahku. Dari arah belakang Ayah kembali
menusuk vaginaku. Tentu saja posisi
seperti ini membuat sodokan Ayah terasa
semakin dalam dan nikmat. Dengan penis
yang masih menusuk di dalam vaginaku,
Ayah mencium lembut leherku. Ayah membuatku semakin terangsang dengan
memegang-megang kedua payudaraku. “Ooooohh… Ssssshhh… Aaaaaaaahh…” aku
mendesah-desah meresapi permainan ini. Permainan Ayah membuatku semakin
terhanyut karena beliau memulai
sodokannya dengan genjotan-genjotan
pelan, namun lama-kelamaan terasa
kencang dan kasar sampai tubuhku
berguncang dengan hebatnya. Gesekan penis Ayah dengan dinding vaginaku
seperti menimbulkan getaran-getaran
listrik yang membuat birahiku kembali
bangkit. Aku ikut menggoyangkan
pantatku sehingga terdengar suara badan
kami beradu. “Teruuus Teh…!! Iyaaaa… Goyangiiin
pantaaat kamuuu…!” kata Ayah sambil
mempercepat dorongan penisnya. Suara tempat tidur yang ikut bergoyang
bercampur dengan erangan kami berdua.
Tidak lama kemudian aku kembali
orgasme! Aku merasa lelah sekali karena
selain baru saja mencapai orgasme untuk
yang keempat kalinya, tubuhku pun mengeluarkan banyak sekali keringat. Lututku seketika lemas sehingga kini aku
berada dalam posisi tengkurap di ranjang.
Posisi tersebut membuat Ayah semakin
beringas. Aku memberikan ruang dengan
mengangkat pantatku sedikit ke atas.
Ayah semakin kuat menekan penisnya hingga tubuhku semakin terhentak-
hentak tidak karuan. Sementara itu, dapat
kurasakan penis Ayah mulai berdenyut-
denyut kencang tanda beliau sudah akan
mencapai orgasme. Benar seperti dugaanku, beberapa saat
kemudian Ayah mengerang “Ooohh…
Ayaah udaah mauuu keluaaar Teeeh…!!” “Jangaaaan keluaariin di daleeem Yaaah…!!
Mmmmhh… Aaaaahh !” jawabku karena
takut hamil oleh Ayahku sendiri. Namun tidak seperti perkiraanku bahwa
Ayah akan mengeluarkan spermanya di
dalam vaginaku, dengan terburu-buru
beliau justru mencabut penisnya.
Kemudian sambil membalikkan tubuhku,
Ayah mengocok-ngocok penisnya sendiri hingga spermanya keluar dengan deras
sampai membasahi bagian perut dan
dadaku. Sungguh pemandangan yang
aneh melihat seorang Ayah mengocok-
ngocok penisnya di depan anaknya
sendiri. Ayah lalu menyuruhku membersihkan
sisa sperma pada penisnya. Dengan
senang hati aku menjilati penis tersebut
sampai bersih. Setelah itu Ayah
menjatuhkan tubuhnya di sebelah
kananku. Harus kuakui sungguh hebat untuk pria seusia Ayah masih memiliki
stamina yang cukup kuat dan dapat
membuatku orgasme hingga berkali-kali. “Heeeh… Heeeeh… Te-teteh ja-jangan
bilang siapa-siapa yah…” kata Ayah
dengan nafas yang tersengal-sengal. “Pasti dong Yah…!” jawabku yakin karena
aku juga tidak ingin hal ini sampai
diketahui oleh orang lain, terutama Ibu. Di saat sedang mengistirahatkan tubuh
kami yang lelah dan penuh keringat,
sempat terlintas di pikiranku kalau beliau
tidaklah seperti orang-orang yang pernah
menikmati tubuhku sebelumnya. Saat
orang-orang tersebut, termasuk juga adik laki-lakiku, ingin sekali memuntahkan
sperma mereka di dalam vaginaku, Ayah
justru lebih memilih untuk
mengeluarkannya di dalam mulutku.
Mungkin Ayah masih memakai akal
sehatnya karena takut apabila nanti beliau akan memiliki cucu yang berasal dari
spermanya sendiri. Sejak hari itu pula, baik di waktu siang
maupun malam hari, aku dan Ayah selalu
mencari kepuasan bersama saat di dalam
rumah hanya ada kami berdua atau ketika
keluargaku yang lain sedang terlelap. – TAMAT – Posted By: Indah Dewi Pramitha

 

Tag: , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.