RSS

Ceritasex – nikmatnya tubuh ibu halimah

29 Apr

Pagi itu aku tengah sibuk membenahi
kamarku. Sebuah kamar kontrakan yang
baru kutempati sejak sebulan lalu.
Maklum, kamar berukuran 3×4 meter itu
berdinding papan dan terletak di bagian
belakang rumah bersebelahan dengan kamar mandi. Apalagi papannya sudah
banyak yang renggang dan berlubang
hingga bila malam tiba, angin menerobos
masuk dan menebarkan hawa dingin
menusuk tulang. Hanya bagiku,
mendapatkan kamar kost dengan kondisi seperti itu pun merupakan anugerah
tersendiri. Sebelumnya aku nyaris patah semangat
ketika mendapati harga sewaan kamar
yang rata-rata sangat mahal dan tak
terjangkau di kota tempatku kuliah di
sebuah PTN. Hingga ketika Bu Halimah
pemilik warung makan sederhana menawariku untuk tinggal di tempatnya
dengan harga sewa yang murah aku
langsung menyetujuinya. Oh ya, Bu Halimah, ibu kostku itu adalah
seorang janda berusia sekitar 45 tahun.
Sejak kematian suaminya tujuh tahun
lalu, ia tinggal bersama putri tunggalnya
Nastiti. Ia masih sekolah, kelas dua di
sebuah SMTA di kota itu. Mereka hidup dari usaha warung makan sederhana
yang dikelola Bu Halimah dibantu Yu
Narsih, seorang wanita tetangganya. Yu
Narsih hanya membantu di rumah itu
sejak pagi hingga petang setelah warung
makan ditutup. Pembawaan keseharian Bu Halimah tampak sangat santun. Ia
selalu mengenakan busana terusan
panjang terutama bila tampil di luar
rumah atau sedang melayani pembeli di
warungnya. Hingga kendati berstatus
janda dengan wajah lumayan cantik, tak ada laki-laki yang berani iseng atau
menggoda. “Ada memang laki-laki yang
meminta ibu untuk menjadi istrinya.
Tetapi ibu hanya ingin membesarkan
Nastiti sampai ia berumah tangga.
Apalagi sangat sulit mencari pengganti laki-laki seperti ayah Nastiti almarhum,”
katanya suatu ketika aku berkesempatan
berbincang dengannya di suatu
kesempatan. Di tengah kesibukanku memperbaiki
dinding kamar, tiba-tiba kudengar suara
pintu kamar mandi dibuka. Lalu tak lama
berselang kudengar suara pancaran air
yang menyemprot kencang dari kamar
mandi. Padahal di sana tidak ada kran air yang memungkinkan menimbulkan
bunyi serupa. Maka seiring dengan rasa
ingin tahu yang muncul tiba-tiba, aku
segera mencari celah lubang di dinding
yang bersebelahan dengan kamar mandi
untuk bisa mengintipnya. Ah, ternyata yang ada di kamar mandi adalah Bu
Halimah. Wanita itu tengah kencing
sambil berjongkok. Mungkin ia sangat
kebelet kencing hingga begitu
berjongkok semprotan air yang keluar
dari kemaluannya menimbulkan suara berdesir yang cukup kencang sampai ke
telingaku. Aku jadi tersenyum simpul
melihat kenyataan itu. Tadinya aku tidak
berniat melanjutkan untuk mengintip.
Namun ketika sempat kulihat pantat
besar Bu Halimah yang membulat, naluriku sebagai laki-laki dewasa jadi
terpikat. Posisi jongkok Bu Halimah
memang membelakangiku. Namun
karena ia menarik tinggi-tinggi daster
yang dikenakannya, aku dapat melihat
pantat dan pinggulnya. Ah, wanita berkulit kuning itu ternyata
belum banyak kehilangan daya pikatnya
sebagai wanita. Sampai akhirnya aku
memutuskan untuk terus mengintip,
melihat adegan lanjutan yang dilakukan
ibu kostku di kamar mandi yang ternyata membuat tubuhku panas dingin
dibuatnya. Betapa tidak, setelah selesai
kencing, Bu Halimah langsung mencopot
dasternya untuk digantungkannya pada
sebuah tempat gantungan yang tersedia.
Tampak ia telanjang bulat karena dibalik dasternya ia tidak mengenakan celana
dalam maupun kutangnya. Jadilah aku
bisa menikmati seluruh keindahan lekuk-
liku tubuhnya. Bongkahan pantatnya
tampak sangat besar kendati bentuknya
telah agak menggantung. Sepasang buah dadanya yang juga sudah agak
menggantung, ukurannya juga tergolong
besar dengan dihiasi sepasang pentilnya
yang mencuat dan berwarna kecoklatan. Namun yang membuatku kian panas
dingin adalah adegan lanjutan yang
dilakukannya setelah ia mulai
mengguyur air dan menyabuni
tubuhnya. Sebab setelah hampir sekujur
tubuhnya dibaluri busa sabun mandi, ia cukup lama memainkan kedua
tangannya di kedua susu-susunya.
Meremas-remas dan sesekali memilin
puting-putingnya. Sepertinya ia tengah
berusaha membangkitkan dan memuasi
birahinya oleh dirinya sendiri. Lalu, dengan satu tangan yang masih
menggerayang dan meremas di buah
dadanya, satu tangannya yang lain
menelusur ke selangkangannya dan
berhenti di kemaluannya yang
membukit. Kemaluan yang hanya sedikit ditumbuhi bulu rambut itu, berkali-kali
diusap-usapnya dan akhirnya salah satu
jarinya menerobos ke celahnya. Ah, ia
juga mengeluar-masukkan jarinya ke
liang kenikmatannya. Bahkan seperti
tidak puas dengan satu jari tengah tangannya, jari telunjuknya pun ikut
dimasukannya. Hingga akhirnya kedua
jarinya yang digunakan untuk mencolok-
colok vaginanya. Aku yakin Bu Halimah melakukan semua
itu sambil membayangkan bahwa yang
mencolok-colok liang kenikmatannya
adalah penis seorang laki-laki. Terbukti ia
melakukan sambil merem-melek dan
mendesah. Membuktikan bahwa ia mendapatkan kenikmatan atas yang
tengah dilakukannya. Disodori
pertunjukkan panas yang diperagakan
ibu kostku, aku kian tak tahan.
Kukeluarkan kemaluanku yang telah ikut
mengeras dari celana setelah membuka risleting. Kuremas-remas sendiri penisku
sambil membayangkan menyetubuhinya
yang tengah bermasturbrasi. Akhirnya, ketika tubuhnya terlihat
mengejang, karena menahan birahi yang
tak terbendung dan seiring dengan
datangnya puncak kenikmatan yang
didambakan, aku pun kian kencang
meremas dan mengocok kemaluanku sambil terus memelototi tingkah
polahnya. Dan tubuhku ikut mengejang
dan melemas ketika dari ujung penisku
memuntahkan mani yang menyembur
cukup banyak. Dia tampak kaget dan
mencoba mencari sesuatu di dinding kamar mandi yang berbatasan dengan
kamarku. Mungkin ia sempat mendengar
erangan lirih suaraku yang tak sadar
sempat kukeluarkan saat mendapatkan
orgasme. Namun karena aku segera
menjauh dari dinding, ia tak sempat memergokiku. Tetapi,… ah.. entahlah. Hanya sejak saat itu aku sering mencari
kesempatan untuk mengintipnya saat ia
mandi. Bahkan juga mengintip ke
kamarnya saat ia tidur. Kamar Dia
memang bersebelahan dengan kamarku.
Rupanya, untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, selama ini wanita itu
mendapatkannya dari bermasturbrasi.
Hingga aku sering memergoki ia
melakukannya di kamarnya. Dan seperti
Dia, setiap aku mendapatkan kesempatan
untuk melihat ketelanjangannya, selalu aku melanjutkan dengan mengocok
sendiri kemaluanku. Tentu saja sambil
membayangkan menyetubuhi ibu kostku
itu. Sampai akhirnya, mengintip ibu
kostku merupakan acara rutin di setiap
kesempatan seiring dengan gairah birahiku yang kian menggelegak. Sampai suatu malam, setelah sekitar
enam bulan tinggal di rumahnya, aku
bermaksud keluar kamar untuk
menonton televisi di ruang tamu. Maklum
sejak sore aku terus berkutat dengan
diktat dan buku-buku untuk tugas pembuatan paper salah satu mata kuliah.
Namun yang kutemukan di ruang tamu
membuatku sangat terpana. Televisi 17
inchi yang ada memang masih menyala
dan tengah menyiarkan satu acara
infotainment dan disetel dengan volume cukup keras. Namun satu-satunya
penonton yang ada, yakni Dia, tampak
tertidur pulas. Ia tidur dengan
menyelonjorkan kaki di sofa, sementara
daster yang dikenakannya tersingkap
cukup lebar hingga kedua kaki sampai ke pahanya nampak menyembul terbuka.
Biasanya aku akan membangunkan dan
megingatkannya untuk tidur di
kamarnya bila memergoki ibu kostku
tertidur di ruang tamu. Tetapi itu tidak
kulakukan, sayang kalau pemandangan yang menggairahkan sampai
terlewatkan. Ketika aku mendekat, tubuh wanita itu
menggeliat dan posisi kakinya kian
terbuka hingga mengundangku untuk
melihatnya lebih mendekat. Berjongkok
di antara kedua kakinya. Kini bukan
hanya paha mulusnya yang dapat kunikmati. Aku juga dapat melihat organ
miliknya yang paling rahasia karena ia
tidak mengenakan celana dalam. Bibir
luar kemaluannya terlihat coklat
kehitaman dan nampak berkerut.
Pertanda kemaluannya sering diterobos alat kejantanan pria. Sementara di
celahnya, di bagian atas, tampak
kelentitnya yang sebesar biji jagung
terlihat mencuat. Melihat ketelanjangan
tubuh ibu kostku sebenarnya telah cukup
sering kulakukan saat mengintip. Namun melihatnya dari jarak yang cukup dekat
baru kali itu kulakukan. Degup jantungku
jadi terpacu, sementara penisku langsung
menegang. Aku nyaris mengulurkan
tanganku untuk mengusap vaginanya
untuk merasakan lembutnya bulu-bulu halus yang tumbuh di sana atau
merasakan hangatnya celah lubang
kenikmatan itu. Tetapi takut resiko yang harus
kutanggung bila ia terbangun dan tidak
menyukai ulahku, aku urungkan niatku
tersebut. Dan tak tahan terpanggang oleh
gairah yang memuncak, kuputuskan
untuk kembali ke kamar. Untuk beronani, meredakan ketegangan yang meninggi.
Di dalam kamar, kulepaskan seluruh
pakaian yang kukenakan. Lalu tiduran
telanjang diatas ranjang setelah
sebelumnya menarik kain selimut untuk
menutupi tubuh. Seperti itulah biasanya aku beronani sambil membayangkan
keindahan tubuh dan menyetubuhi ibu
kostku. Hanya, baru saja aku mulai
mengelus burungku yang tegak berdiri
tiba-tiba kudengar pintu kamarku yang
tak sempat terkunci dibuka dan seseorang terlihat menerobos masuk ke
dalam. “Hayo, lagi ngocok yah,” suara Dia
mengagetkanku. Ternyata yang
membuka pintu dan masuk kekamarku
adalah ibu kostku. “Ti,… tidak,” jawabku
dan secara reflek segera kutarik selimut untuk menutupi tubuhku. “Jangan
bohong Tris. Ibu tahu kok kamu sering
mengintip ibu saat mandi atau dikamar.
Juga tadi kamu melihati milik ibu saat
tidur di sofa kan?” katanya lirih seperti
berbisik. Ditelanjangi sedemikian rupa aku jadi
malu dan menjadi tegang. Takut kepada
kemarahan Dia atas semua ulah yang
tidak pantas kulakukan. Penisku yang
tadi tegak menantang kini mengkerut,
seiring dengan kehadiran wanita itu di kamarku dan oleh pernyataanya yang
telah menelanjangiku. Aku
membungkam tak dapat bisa bicara.
“Sebenarnya ibu nggak apa-apa kok, Tris.
Malah, eee.. ibu bangga ada anak muda
yang mengagumi bentuk tubuh ibu yang sudah tua begini. Kalau mau, sekarang
kamu boleh melihat semuanya milik ibu
dari dekat dan kamu boleh melakukan
apa saja. Asal kamu bisa menjaga rahasia
serapat-rapatnya,” ujarnya. Aku masih belum tahu arah pembicaraan
ibu kostku hingga hanya diam membisu.
Tetapi, Dia telah melepas daster yang
dikenakannya. Dan dengan telanjang
bulat, setelah sebelumnya mengunci
pintu kamar, ia menghampiriku yang masih terbaring di ranjang. Duduk di tepi
ranjang di sebelahku. Tak urung gairahku
kembali terpacu kendati hanya menatapi
ketelanjangan tubuh wanita yang lebih
pantas menjadi ibuku itu. “Ayo Tris,
jangan cuma melihati begitu. Tadi kamu sebenarnya ingin memegang punya aku
kan? Ayo lakukan semua yang ingin
dilakukan padaku,” suaranya terdengar
berat ketika mengucapkan itu. Mungkin ia telah bernafsu dan ingin
disentuh. Melihat aku tidak bereaksi, aku
kostku akhirnya mengambil insiatif.
Tangannya menjulur, menarik selimut
yang menutupi tubuh telanjangku.
Batang penisku yang tegak mengacung diraihnya dan diremasnya dengan gemas.
Selanjutnya mengelus-elusnya perlahan
hingga aku menjadi kelabakan oleh
sentuhan-sentuhan lembut tangannya di
selangkanganku. Dan sambil melakukan
itu Dia mulai membaringkan tubuhnya di sisiku dalam posisi berhadapan
denganku. Maka buah dadanya yang
berukuran besar dan seperti buah pepaya
menggantung berada tepat di dekat
wajahku. Aku tetap tidak bereaksi
kendati payudaranya seperti sengaja disorongkan ke wajahku. Namun ketika
ia mulai mengocok penisku dan
menimbulkan kenikmatan tak terkira,
keberanianku mulai terbangkitkan.
Payudaranya mulai kujadikan sasaran
sentuhan dan remasan tanganku. Buah dadanya sudah tidak kencang memang,
tetapi karena ukurannya yang tergolong
besar masih membuatku bernafsu untuk
meremas-remasnya. Puas meremas-
remas, aku mulai menjilati pentilnya
secara bergantian dan dilanjutkan dengan mengulumnya dengan mulutku. Rupanya tindakanku itu membuat gairah
Dia menjadi naik. Ia mulai mengerang
dan kian mengaktifkan sentuhan-
sentuhannya di di alat kelaminku.
“Ya Tris, begitu. Ah,.. ah enak. Uh,..
uh..terus terus sedot saja. Ya,.. ya. sshh… ssh.. akhhh”. Dengan mulut masih
mengenyoti susu Dia secara bergantian
kiri dan kanan, tanganku mulai
menyelusur ke bawah. Ke perutnya, lalu
turun ke pusarnya dan akhirnya
kutemukan busungan membukit di selangkangannya. Kemaluan yang hanya
sedikit di tumbuhi rambut itu terasa
hangat ketika aku mulai mengusapnya.
Rupanya itu merupakan wilayah yang
sangat peka bagi seorang wanita. Maka
ketika aku mulai mengusap dan meremas-remas gemas, Dia mulai
menggelinjang. Kakinya dibukanya lebar-
lebar memberi keleluasaan padaku untuk
melakukan segala yang yang
kuiinginkan. Terlebih ketika jari
telunjukku mulai menerobos ke celahnya. Lubang vaginanya ternyata tak cuma
hangat. Tetapi telah basah oleh cairan
yang aku yakin bukan oleh air
kencingnya. Aku jadi makin bernafsu
untuk mencolok-coloknya. Tidak hanya
satu jari yang masuk tetapi jari tengahkupun ikut bicara. Ikut menerobos
masuk ke lubang kenikmatan aku
kostku. Mengocok dan terus
mengocoknya hingga lubang vaginanya
kian becek akibat banyaknya cairan yang
keluar. Ia juga menggelinjang-gelinjang sambil terus mendesah. “Ah,.. ah.. ah aku
tidak kuat lagi Tris. Ayo sekarang kamu
naik ke tubuh aku,” bisiknya akhirnya. Rupanya ia sudah tidak tahan akibat
kemaluannya terus diterobos oleh dua
jariku. Maka tubuhku ditarik dan
menindihnya. Dasar belum punya
pengalaman sedikitpun dengan wanita.
Kendati telah menindihnya, penisku tak kunjung dapat menerobos lubang
kenikmatan aku kostku. Untung Dia
cukup telaten. Dibimbingnya penisku dan
diarahkannya tepat di lubang vaginanya.
“Sudah, dorong masuk tetapi pelan-pelan.
Soalnya aku sudah lama melakukan seperti ini,” bisiknya di telingaku.
Bleessss! Sekali sentak amblas penisku
masuk ke lubang kenikmatan aku
kostku. Aku memang tidak
mengindahkan permintaannya yang
memintaku untuk memasukannya perlahan. Mungkin karena tidak
berpengalaman dan sudah terlanjur naik
ke ubun-ubun gairah yang kurasakan.
Hingga ia sempat vaginaik saat penisku
menancap di lubang vaginanya.
“Auuu, ..ah.ah.. pe..pelan-pelan Tris, shhh….ssh ..ah..ah,”
“Ma,… ma.. maaf bu,” “Iya,.iya. Be,.. besar
sekali punya kamu ya Tris,”
“Punyamu juga besar dan enak,” kataku
sambil terus meremasi kedua
payudaranya. Namun baru beberapa saat aku mulai
memaju mundurkan penisku ke lubang
vaginanya, desah nafasnya kian keras
kudengar. Tubuhnya terus
menggelinjang dan mulai menggoyang-
goyangkan pantatnya. Akibatnya baru beberapa menit permainan berlangsung
aku sudah tak tahan. Betapa tidak,
penisku yang berada di liang vaginanya
terasa dijepit oleh dinding-dinding
kemaluannya. Bahkan terasa seperti
disedot dan diremas-remas. “Aduh,.. ah.. aku tidak tahan. Ah,..ah…
ah..aaaaaahhh,” Aku terkapar di atas
tubuhnya setelah menyemprotkan cukup
banyak air mani di liang sanggamanya.
Indah dan melayang tinggi perasaanku
saat segalanya terjadi. Dan cukup lama aku menindihnya yang memelukku erat
setelah pengalaman persetubuhan
pertamaku itu. “Maaf bu cepat sekali
punya saya keluar. Jadinya cuma
ngotorin” “Tidak apa-apa Tris. Kamu baru
kali ini ya melakukannya? Nanti juga bisa tahan lebih lama” katanya setelah aku
terbaring di sisinya sambil menenangkan
gemuruh di dadaku yang mulai mereda. Dan dengan lembut dia membersihkan air
mani yang berleleran di penisku dan
vaginanya dengan daster yang tadi
dikenakannya. “Sebentar aku bikin kopi
dulu ya, biar kamu semangat lagi,” Dia
keluar dari kamarku sambil membawa dasternya yang telah kotor. Rupanya ia
menyempatkan ke kamar mandi, karena
kudengar ia menyiram dan membasuh
tubuhnya. Cukup lama ia melakukan itu
di kamar mandi. Baru ia kembali ke
kamarku dengan membawa segelas besar kopi panas kesukaanku yang
dibuatnya. Ia mengenakan kain panjang
yang dililitkan sebatas dadanya. Namun
satu-satunya pembungkus tubuhnya itu
langsung dilepaskannya setelah menaruh
gelas kopi dan mengunci kembali pintu kamarku. “Kopinya saya minum dulu ya
bu,” “Oh ya, ya. Silahkan diminum nanti
keburu dingin,” Menyeruput beberapa
tegukan kopi panas buatannya
membuatku kembali bergairah. Aku
menyempatkan diri mencuci rudalku di kamar mandi. Kendati tadi sudah
dibersihkan olehnya, tetapi rasanya
kurang bersih dan agak kaku. Mungkin
karena sperma yang mengering. Ketika aku kembali ke kamar, Dia
langsung menggenggam penisku yang
masih layu. Mungkin ia sudah ingin
gairahnya tertuntaskan dan bermaksud
membangkitkan kejantananku dengan
mengelus dan meremas-remasnya. Tetapi dengan halus kutepis tangannya. “Aku
telentang saja,..,” kataku.
Dia naik atas ranjang dan aku segera
menyusulnya. Ia yang telah tiduran
dengan posisi mengangkang, kudekati
bagian bawah tubuhnya tepat di antara kedua pahanya. Ah, liang sanggamanya
sudah banyak kerutan terutama di bagian
bibir kemaluannya. Warnanya coklat
kehitaman. Bahkan ada bagian dagingnya
yang menggelambir keluar. Ia mencoba
menutupi kemaluannya dengan tangannya. Mungkin ia malu bagian
paling rahasia miliknya dipelototi begitu.
Tetapi segera kusingkirkan tangannya.
Dan ketika tanganku mulai melakukan
sentuhan di sana, ia mandah saja. Bahkan
saat telunjuk jari tanganku mulai mencoloknya, ia mendesah. Tak puas
hanya memasukkan satu jari, jari
tengahku menyusul masuk
mencoloknya. Dan aku mulai
mengkorek-koreknya dengan
mengeluar-masukkan kedua jariku itu. Akibatnya ia menggelinjang dan
mendesah. Kedua jariku semakin basah oleh cairan
vaginanya. Baunya sangat khas, entah
mirip bau apa, sulit kucarikan
padanannya. Hanya yang pasti, bau
vaginanya tidak membuatku jijik.
Hidungku semakin kudekatkan untuk lebih membauinya. Tetapi ketika lidahku
mulai kugunakan untuk menyapu bagian
luar bibir vaginanya ia memberontak.
“Hiiii, jangan Tris, ah,.. ah.. jorok ah. Kamu
nggak jijik? Shhh,… akhhh… shhh,
….shhhh,” Ia mencoba menolakkan kepalaku menjauhkan mulutku dari
lubang nikmatnya. Aku tetap nekad,
mulut dan lidahku tambah liar
menggeremusi dengan gemas liang
sanggamanya itu. Hingga ia kian
menggelepar dan menggelinjang. Mulutnya mendesis seperti orang
kepedasan. Mulut dan lidahku yang
meliar ke bagian dalam vaginanya
menimbulkan sensasi tersendiri. Berkali-
kali ia mengangkat pantatnya dan
membuat lidah dan mulutku semakin menekan dan menekan ke
kedalamannya. Ludahku yang bercampur
dengan cairan vaginanya menjadikan
lubang nikmatnya terasa sangat basah.
Tetapi, ketika lidahku mulai melakukan
sapuan ke lubang duburnya dengan cara mengangkat sedikit pantatnya, ia kembali
berontak. “Apa-apaan ini, hiii,.. jangan ah
kotor. Uhhh… ahhh… shhh.. shh,” Aku sering melihat film BF, saat wanita
dijilati lubang anusnya, ia tambah
menggelinjang dan merintih. Berarti
lubang dubur sangat peka oleh sentuhan.
Dan memang terbukti, Dia tambah
merintih dan mengerang. Hanya baru beberapa saat sapuan kulakukan,
tubuhnya telah mengejang. Kedua
pahanya menjepit kencang kepalaku
disusul dengan mengejutnya dubur dan
lubang vaginanya. “Ohhh, aku sudah
enak Tris. Kamu sih menjilat-jilat di situ. Kamu sudah sering ya melakukan dengan
wanita,” “Tidak bu,” “Kok kamu tahu
yang seperti itu,” “Saya hanya ikut-ikutan
adegan film BF” Ujarku. ” Bapaknya Titi
(panggilan Nastiti, anaknya) sih
jangankan menjilat dubur. Menjilati vagina aku saja tidak pernah,” katanya. Kubiarkan ia sesaat meredakan nafasnya
yang memburu. Lalu aku mulai menindih
tubuhnya ketika ia menyatakan siap
untuk melakukan permainan berikutnya.
penisku mulai naik-turun keluar-masuk
dari liang sanggamanya. Bunyinya sangat khas dan membuatku tambah bergairah.
Sementara tanganku tak henti-hentinya
meremasi susu-susunya. Pentil susunya
yang besar dan mengeras kusedot-sedot
dengan mulutku. Itu membuatnya
keenakan dan kembali mendesah. Ia tak mau kalah. Pinggulnya mulai digoyang.
Pantat besarnya dijadikan landasan untuk
menggoyang. Jadilah benda bulat
panjang milikku yang berada di
dalamnya mulai merasakan nikmat oleh
gesekan dinding vaginanya. Goyangan pinggul dan naik-turunnya tubuhku di
bagian bawah sepertinya seirama. Terasa
syuur, dan ah, nikmat. Tak lupa, sesekali
bibirnya kucium. Ia membalasnya lebih
hangat. Lidahku disedotnya nikmat.
Jadilah kami bak sepasang kekasih yang tengah meluahkan gairah. Saling berpacu
dan saling memberi kenikmatan. Aku tak
peduli lagi bahwa yang tengah
kusetubuhi adalah ibu kostku. Wanita
yang jauh lebih tua usianya dan selama
ini kuhormati karena penampilannya yang selalu nampak santun. Tak
kusangka ia menyimpan bara yang siap
melelehkan. Liang nikmat Dia mulai
berdenyut-denyut kembali. Mungkin ia
akan kembali orgasme seperti yang juga
tengah kurasakan. Goyangan pinggulnya semakin kencang tetapi tidak teratur.
Maka sodokan penisku ke lubang
nikmatnya semakin garang. Menghujam
dan kian menghujam seolah hendak
membelah bagian bawah tubuhnya. Puncaknya, ketika Dia mulai merintih dan
kian mendesah, tanganku mulai
menyelinap ke pinggulnya dan
menyelusup ke pantatnya. Di sana aku
meremas dan mencari celah agar dapat
menyentuh duburnya. Dan setelah terpegang, jari telunjukku mencolek-
colek lubang anusnya. Akibatnya
matanya seperti membelalak dan hanya
menampakkan warna putihnya.
Dirangsang di dua lubangnya sekaligus
membuatnya seperti cacing kepanasan. Maka ketika tubuhnya semakin
mengejang, dan tubuhku dipeluknya
erat. Jari telunjukku kupaksa masuk ke
lubang duburnya. Sedang penisku
kubenamkan sekuatnya di vaginanya.
Jadilah pertahanan wanita itu ambrol, vaginanya kian berdenyut dan menjepit
sementara erangannya semakin kencang
dan bahkan vaginaik. Sedang dari
rudalku, menyembur sebanyak-
sebanyaknya sperma ke lubang
nikmatnya. Karena banyaknya sperma yang mengguyur, kurasakan ada yang
meleleh keluar dari mulut kemaluannya
yang masih terterobos oleh penisku. “Ah,
aku puas sekali Tris. Baru kali ini aku
merasakan yang seperti ini,” katanya. Kami masih terkapar di ranjang. Ada rasa
ngilu dan tulang-tulangku seperti dilolosi.
Tetapi sangat nikmat. Ada tiga ronde
permainan yang kulakukan malam itu.
Dia mengaku sangat kecapaian ketika aku
memintanya kembali. Menjelang subuh, ia pamit untuk kembali ke kamarnya.
“Kalau kamu suka, aku siap
melakukannya setiap waktu. Tetapi
tolong jaga erat-erat rahasia kita ini,”
ujarnya berpesan. Aku mengangguk
setuju. Bahkan sebelum keluar dari kamarku ia kuhadiahi ciuman panjang.
Pantat besarnya kuremas-remas gemas
dan nyaris punyaku bangkit kembali.
“Sudah ah, besok malam bisa kita
sambung lagi. Kamu Tris, besok harus
kuliah kan,” katanya. Bergegas ia menyelinap keluar dari kamarku. Takut
dengan gairahnya yang kembali
terpancing. Perselingkuhanku dengannya
terus berlangsung. Di setiap kesempatan,
kalau tidak aku yang mengajaknya, ia
yang mengambil insiatif. Bahkan di siang hari, kalau aku lagi ngebet, sengaja bolos
dari kampus. Mampir ke warungnya dan
memberi kode, lalu ia akan pulang
menyempatkan melayaniku di kamarku
atau di kamarnya. Ia memang tergolong
wanita panas yang terpicu hasrat seksualnya. Seperti siang itu, karena hanya ada satu
mata kuliah, aku pulang agak siang dari
kampus. Aku langsung ke warung untuk
makan siang dan bermaksud memberi
kode pada ibu kostku. Tetapi ia tidak di
sana. ” Ibu baru saja pulang, mungkin untuk istirahat,” kata Yu Narsih,
pembantunya yang ada menunggu
warung melayani pembeli. Jarak antara
warung dengan rumah memang dekat
tak lebih dari 50 meter. Maka setelah
menyantap makan siangku, aku langsung ngabur ke rumah. Dia tidak sedang tidur
seperti yang kusangka. Ia sedang
melipati pakaian yang telah diambilnya
dari jemuran duduk di ruang tengah.
Maka dasar sudah horny, kudekati ia dan
kupeluk dari belakang. “Kuliahnya bebas Tris,” katanya. “Cuma
satu mata kuliah kok,” jawabku.
Ia berkeringat, mungkin karena
kesibukannya melayani pembeli sejak
pagi. Baunya khas, bau wanita dewasa.
Tetapi tidak mengurangi gairahku untuk memesrainya. Ia mulai menggelinjang
ketika tanganku menyelusup ke balik
dasternya dan mencari gundukan buah
dadanya. Kuremas-remas susunya dan
kupilin putingnya. Aku jadi gemas karena ia tak bereaksi.
Tetapi melanjutkan pekerjaanya
memberesi pakaian-pakaian yang telah
dicucinya. Maka sambil menciumi
lehernya, tanganku terus merayap dan
merayap sampai kutemukan vaginanya yang masih tertutup CD. Baru ketika
hendak kutarik CD nya ia berontak.
“Kamu pengin Tris?,” “Iya. Habis
vaginanya enak sih,” kataku. Celana
dalamnya berhasil kulepaskan tanpa
membuka dasternya. Sebenarnya ia mengajakku untuk main di kamarnya.
Tetapi kutolak, aku ingin ia melayaniku di
sofa. Apalagi Nastiti tengah camping di
sekolahnya sejak dua hari lalu. Jadi aku
tidak perlu takut ketahuan anak gadisnya
itu. Dan lagi aku cuma butuh pelepasan hajat secara singkat karena harus
menyelesaikan makalah yang harus jadi
besok pagi. Kalau main di kamar, pasti
akan memakan waktu lama karena Dia
pasti tak mau cuma kusetubuhi sebentar. Jadilah setelah sebentar menjilati
vaginanya dan meremasi susunya, hanya
dengan menyingkap dasternya aku mulai
menyetubuhinya. Dengan posisi duduk di
sofa ia kangkangkan kakinya hingga
memudahkanku memasukkan penis ke liang nikmatnya. Kugenjot pelan lalu
mulai cepat, karena nafsuku memang
sudah naik ke ubun-ubun. Namun pada saat aku memuncratkan
sperma ke lubang vaginanya, samar-
samar kulihat seseorang melihati
perbuatan kami. Ia adalah Yu Narsih,
pembantu aku. Kulihat ia mengintip dari
balik gorden di pintu dekat kamar mandi. Rupanya ia masuk dari pintu belakang
rumah yang memang tidak terkunci. Aku
langsung berdiri dan melangkah ke arah
dapur. “Dasar anak muda, kalau lagi ada
mau nggak sabaran,” katanya tersenyum
melihat tingkahku. Dibersihkannya sperma yang berleleran di sekitar
kemaluannya dengan daster yang
dikenakannya. Ia tidak tahu bahwa
sebenarnya aku tengah mencoba
mengejar Yu Narsih yang langsung
menyelinap keluar setelah perbuatanku dengan ibu kostku. Aku jadi panik, takut
Yu Narsih akan menceritakan peristiwa
yang dilihatnya kepada para tetangga.
Kuputuskan untuk tidak menceritakan
padanya ihwal Yu Narsih. Biarlah akan
kucoba meredamnya, pikirku. Selepas sore kutemui Yu Narsih di
rumahnya. Jarak rumah Yu Narsih hanya
sekitar 500 meter. Terpencil di tepi sawah.
Aku memang sering main ke rumahnya
dan kenal baik dengan suaminya, Kang
Sarjo yang berprofesi sebagai tukang becak. Wanita berusia sekitar 35 tahun
dan berkulit agak gelap itu, cukup kaget
ketika aku datang. “Kang Sarjo mana Yu?”
“Oh, baru saja berangkat narik. Ada perlu
dengan dia?” Plong, lega rasa hatiku. Aku
memang ragu, takut permasalahan yang ingin kusampaikan ke Yu Narsih di
dengar suaminya. Aku dipersilahkannya
duduk di balai, satu-satunya perabotan
yang ada di ruang tamu rumah
berdinding pagar itu. Yu Narsih pun
duduk menyebelahiku. “Tidak. Aku malah perlu sama Yu Narsih kok,” kataku. Dengan pelan kusampaikan maksud
kedatanganku. Aku meminta Yu Narsih
tidak menceritakan apa yang dilihatnya
siang tadi kepada orang-orang. Kasihan
ibu kostku akan jadi bahan gunjingan
orang. Dan sejauh ini Dia tidak tahu kalau Yu Narsih sebenarnya telah memergoki
perbuatan itu hingga aku memintanya
pula untuk tidak menegur ibu kostku. Ia
cuma terdiam membisu sampai aku
menyelesaikan semua yang ingin
kusampaikan. “Ah, saya ndak apa-apa kok Mas Tris. Saya malah yang minta
maaf, tadi nyelonong masuk,” ujarnya.
“Tetapi saya tidak enak sama Yu Narsih.
Yu Narsih jangan cerita sama siapa-siapa
ya,” kataku lebih menegaskan. Seperti
menghiba saat aku menyampaikan itu. “Iya mas. Masak saya menjelek-jelekkan
Mas Tris dan ibu sih,” Mendengar kesungguhan dan
ketulusannya itu aku merasakan beban
berat yang tadi menindihku berkurang.
Akupun langsung pamit pulang. Sejak itu
aku dengan tenang dapat memuasi ibu
kostku. Aku tinggal di rumah ibu kostku sampai lulus kuliah dan telah
memperoleh pekerjaan. Bahkan, saat ini
saya tengah dalam persiapan perkawinan
dengan Nastiti, putri tunggal ibu kostku,
entah apa jadinya nanti,…. Apakah Dia
akan tetap meminta layananku bila aku telah menjadi menantunya ?

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada April 29, 2012 in Cerita Dewasa

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: