RSS

Cerita sex – TKW Pemikat

29 Apr

Empat tahun lalu aku masih tinggal
dikota B. Waktu itu aku berumur 26
tahun. Aku tinggal dirumah sepupu,
karena sementara masih menganggur
aku iseng-iseng membantu sepupu bisnis
kecil-kecilan di pasar. 3 bulan aku jalani dengan biasa saja. Hingga akhirnya secara
tak disengaja aku kenal seorang
pelanggan yang biasa menggunakan jasa
angkutan barang pasar yang kebetulan
aku yang mengemudikannya. Bu Murni
namanya. Sambil ngobrol ngalor-ngidul aku antar dia sampai dirumahnya yang
memang agak jauh dari pasar tempat dia
berjualan kain-kain dan baju. Sesampai dirumahnya aku bantuin dia
mengangkat barang-barangnya. Mungkin
karena sudah mulai akrab aku enggak
langsung pulang. Toh, memang ini
penumpang yang terakhir. Aku duduk
saja di depan rumahnya yang sejuk, karena kebetulan ada seperti dipan dari
bambu dihalaman di bawah pohon
jambu. Dari dalam aku mendengar suara
seperti memerintah kepada seseorang.. “Pit.. Tuh bawain air yang dikendil ke
depan..,” begitu suara Bu Murni. Aku tidak mendengar ada jawaban dari
yang diperintah Bu Murni tadi. Yang ada
tiba-tiba seorang gadis umur kira-kira 20
tahunan keluar dari rumah membawa
gelas dan kendil air putih segar. Wajahnya
biasa saja, agak mirip Bu Murni, tapi kulitnya putih dan semampai pula. Dia
tersenyum.. “Mas, minum dulu.. Air kendil seger lho..”
begitu dia menyapaku.
“I.. Iya.. Makasih..” balasku. Masih sambil senyum dia balik kanan
untuk masuk kembali ke dalam
rumahnya. Aku masih tertegun sambil
memandangnya. Seperti ingin tembus
pandang saja niatku, ‘Pantatnya aduhai,
jalannya serasi, lumayan deh..’ batinku. Tak seberapa lama Bu Murni keluar. Dia
sudah ganti baju, mungkin yang biasa dia
pakai kesehariannya.. “Dik Wahyu, itu tadi anak saya si Pipit..”
kata Bu Murni.
“Dia tuh lagi ngurus surat-surat katanya
mau ke Malaysia jadi TKW.” lanjutnya.
Aku manggut-manggut..
“O gitu yah.. Ngapain sih kok mau jauh- jauh ke Malaysia, kan jauh.. Nanti kalau
ada apa-apa gimana..” aku menimpalinya. Begitu seterusnya aku ngobrol sebentar
lalu pamit undur diri. Belum sampai aku
menstater mobil pickupku, Bu Murni
sambil berlari kecil ke arahku.. “Eh dik Wahyu, tunggu dulu katanya Pipit
mau ikut sampai terminal bis. Dia mau
ambil surat-surat dirumah kakaknya.
Tungguin sebentar ya..” Aku tidak jadi menstater dan sambil
membuka pintu mobil aku tersenyum
karena inilah saatnya aku bisa puas
mengenal si Pipit. Begitulah akhirnya aku
dan Pipit berkenalan pertama kali. Aku
antar dia mengambil surat-surat TKW- nya. Di dalam perjalanan kami ngobrol
dan sambil bersendau gurau. “Pit.., namamu Pipit. Kok nggak ada
lesung pipitnya..” kataku ngeledek. Pipit
juga tak kalah ngeledeknya.
“Mas aku kan sudah punya lesung yang
lain.. Masak sih kurang lagi..” balas Pipit.. Di situ aku mulai berani ngomong yang
sedikit nakal, karena sepertinya Pipit tak
terlalu kaku dan lugu layaknya gadis-
gadis didesa. Pantas saja dia berani
merantau keluar negeri, pikirku. Sesampai dirumah kakaknya, ternyata
tuan rumah sedang pergi membantu
tetangga yang sedang hajatan. Hanya ada
anaknya yang masih kecil kira-kira 7
tahunan dirumah. Pipit menyuruhnya
memanggilkan ibunya. “Eh Ugi, Ibu sudah lama belum perginya?
susulin sana, bilang ada Lik Pipit gitu
yah..” Ugi pergi menyusul ibunya yang tak lain
adalah kakaknya Pipit. Selagi Ugi sedang
menyusul ibunya, aku duduk-duduk di
dipan tapi di dalam rumah. Pipit masuk
ke ruangan dalam mungkin ambil air
atau apa, aku diruangan depan. Kemudian Pipit keluar dengan segelas air
putih ditangannya. “Mas minum lagi yah.. Kan capek nyetir
mobil..” katanya. Diberikannya air putih itu, tapi mata Pipit
yang indah itu sambil memandangku
genit. Aku terima saja gelasnya dan
meminumnya. Pipit masih saja
memandangku tak berkedip. Akupun
akhirnya nekat memandang dia juga, dan tak terasa tanganku meraih tangan Pipit,
dingin dan sedikit berkeringat. Tak
disangka, malah tangan Pipit meremas
jariku. Aku tak ambil pusing lagi tangan
satunya kuraih, kugenggam. Pipit
menatapku. “Mas.. Kok kita pegang-pegangan sih..”
Pipit setengah berbisik.
Agak sedikit malu aku, tapi kujawab
juga, “Abis, .. Kamu juga sih..” Setelah itu sambil sama-sama tersenyum
aku nekad menarik kedua tangannya
yang lembut itu hingga tubuhnya
menempel di dadaku, dan akhirnya kami
saling berpelukan tidak terlalu erat
tadinya. Tapi terus meng-erat lagi, erat lagi.. Buah dadanya kini menempel lekat
didadaku. Aku semakin mendapat
keberanian untuk mengelus wajahnya.
Aku dekatkan bibirku hingga menyentuh
bibirnya. Merasa tidak ada protes,
langsung kukecup dan mengulum bibirnya. Benar-benar nikmat. Bibirnya
basah-basah madu. Tanganku mendekap
tubuhku sambil kugoyangkan dengan
maksud sambil menggesek buah
dadanya yang mepet erat dengan
tubuhku. Sayup-sayup aku mendengar Pipit seperti mendesah lirih, mungkin
mulai terangsang kali.. Apalagi tanpa basa-basi tonjolan di
bawah perutku sesekali aku sengaja
kubenturkan kira-kira ditengah
selangkangannya. Sesekali seperti dia
tahu iramanya, dia memajukan sedikit
bagian bawahnya sehingga tonjolanku membentur tepat diposisi “mecky”nya. Sinyal-sinyal nafsu dan birahiku mulai
memuncak ketika tanpa malu lagi Pipit
menggelayutkan tangannya dipundakku
memeluk, pantatnya goyang memutar,
menekan sambil mendesah. Tanganku
turun dan meremas pantatnya yang padat. Akupun ikut goyang melingkar
menekan dengan tonjolan penisku yang
menegang tapi terbatas karena masih
memakai celana lumayan ketat. Ingin
rasanya aku gendong tubuh Pipit untuk
kurebahkan ke dipan, tapi urung karena Ugi yang tadi disuruh Pipit memanggil
ibunya sudah datang kembali. Buru-buru kami melepas pelukan,
merapikan baju, dan duduk seolah-olah
tidak terjadi apa-apa. Begitu masuk, Ugi
yang ternyata sendirian berkata seperti
pembawa pesan. “Lik Pipit, Ibu masih lama, sibuk sekali
lagi masak buat tamu-tamu. Lik Pipit
suruh tunggu aja. Ugi juga mau ke sana
mau main banyak teman. sudah ya Lik..” Habis berkata begitu Ugi langsung lari
ngeloyor mungkin langsung buru-buru
mau main dengan teman-temannya. Aku
dan Pipit saling menatap, tak habis pikir
kenapa ada kesempatan yang tak terduga
datang beruntun untuk kami, tak ada rencana, tak ada niat tahu-tahu kami
hanya berdua saja disebuah rumah yang
kosong ditinggal pemiliknya. “Mas, mending kita tunggu saja yah..
sudah jauh-jauh balik lagi kan mubazir..
Tapi Mas Wahyu ada acara nggak nanti
berabe dong..” berkata Pipit memecah
keheningan. Dengan berbunga-bunga aku tersenyum
dan setuju karena memang tidak ada
acara lagi aku dirumah. “Pit sini deh.. Aku bisikin..” kataku sambil
menarik lengan dengan lembut.
“Eh, kamu cantik juga yah kalau
dipandang-pandang..” Tanpa ba-Bi-Bu lagi Pipit malah
memelukku, mencium, mengulum
bibirku bahkan dengan semangatnya
yang sensual aku dibuat terperanjat
seketika. Akupun membalasnya dengan
buas. Sekarang tidak berlama-lama lagi sambil berdiri. Aku mendorong
mengarahkannya ke dipan untuk
kemudian merebahkannya dengan masih
berpelukan. Aku menindihnya, dan
masih menciumi, menjilati lehernya,
sampai ke telinga sebelah dalam yang ternyata putih mulus dan beraroma
sejuk. Tangannya meraba tonjolan
dicelanaku dan terus meremasnya seiring
desahan birahinya. Merasa ada
perimbangan, aku tak canggung-
canggung lagi aku buka saja kancing bajunya. Tak sabar aku ingin menikmati
buah dada keras kenyal berukuran 34
putih mulus dibalik bra-nya. Sekali sentil tali bra terlepas, kini tepat di
depan mataku dua tonjolan seukuran
kepalan tangan aktor Arnold
Swchargeneger, putih keras dengan
puting merah mencuat kurang lebih 1 cm.
Puas kupandang, dilanjutkan menyentuh putingnya dengan lubang hidungku,
kuputar-putar sebelum akhirnya kujilati
mengitari diameternya kumainkan
lidahku, kuhisap, sedikit menggigit, jilat
lagi, bergantian kanan dan kiri. Pipit
membusung menggeliat sambil menghela nafas birahi. Matanya merem
melek lidahnya menjulur membasahi
bibirnya sendiri, mendesah lagi.. Sambil
lebih keras meremas penisku yang sudah
mulai terbuka resluiting celanaku karena
usaha Pipit. Tanganku mulai merayap ke sana kemari
dan baru berhenti saat telah kubuka
celana panjang Pipit pelan tapi pasti,
hingga berbugil ria aku dengannya.
Kuhajar semua lekuk tubuhnya dengan
jilatanku yang merata dari ujung telinga sampai jari-jari kakinya. Nafas Pipit mulai
tak beraturan ketika jilatanku kualihkan
dibibir vaginanya. Betapa indah, betapa
merah, betapa nikmatnya. Clitoris Pipit
yang sebesar kacang itu kuhajar dengan
kilatan kilatan lidahku, kuhisap, kuplintir- plintir dengan segala keberingasanku.
Bagiku Mecky dan klitoris Pipit mungkin
yang terindah dan terlezaat se-Asia
tenggara. Kali ini Pipit sudah seperti terbang
menggelinjang, pantatnya mengeras
bergoyang searah jarum jam padahal
mukaku masih membenam
diselangkangannya. Tak lama kemudian
kedua paha Pipit mengempit kepalaku membiarkan mulutku tetap membenam
di meckynya, menegang, melenguhkan
suara nafasnya dan… “Aauh.. Ahh.. Ahh.. Mas.. Pipit.. Mas..
Pipit.. Keluar.. Mas..” mendengar lenguhan
itu semakin kupagut-pagut, kusedot-
sedot meckynya, dan banjirlah si-rongga
sempit Pipit itu. Iri sekali rasanya kalau
aku tak sempat keluar orgasme, kuangkat mukaku, kupegang penisku,
kuhujam ke vaginanya. Ternyata tak
terlalu susah karena memang Pipit tidak
perawan lagi. Aku tak perduli siapa yang
mendahului aku, itu bukan satu hal
penting. Yang penting saat ini aku yang sedang berhak penuh mereguk
kenikmatan bersamanya. Lagipula aku
memang orang yang tidak terlalu fanatik
norma kesucian, bagiku lebih nikmat
dengan tidak memikirkan hal-hal njelimet
seperti itu. Kembali ke “pertempuranku”, setengah
dari penisku sudah masuk keliang vagina
sempitnya, kutarik maju mundur pelan,
pelan, cepet, pelan lagi, tanganku sambil
meremas buah dada Pipit. Rupanya Pipit
mengisyaratkan untuk lebih cepat memacu kocokan penis saktiku, akupun
tanggap dan memenuhi keinginannya.
Benar saja dengan “Ahh.. Uhh”-nya Pipit
mempercepat proses penggoyangan aku
kegelian. Geli enak tentunya. Semakin
keras, semakin cepat, semakin dalam penisku menghujam. Kira-kira 10 menit berlalu, aku tak tahan
lagi setelah bertubi-tubi menusuk,
menukik ke dalam sanggamanya disertai
empotan dinding vagina bidadari calon
TKW itu, aku setengah teriak berbarengan
desahan Pipit yang semakin memacu, dan akhirnya detik-detik penyampaian
puncak orgasme kami berdua datang.
Aku dan Pipit menggelinjang, menegang,
daan.. Aku orgasme menyemprotkan
benda cair kental di dalam mecky Pipit.
Sebaliknya Pipit juga demikian. Mengerang panjang sambil tangannya
menjambak rambutku.. Tubuhku serasa
runtuh rata dengan tanah setelah terbang
ke angkasa kenikmatan. Kami
berpelukan, mulutku berbisik dekat
telinga Pipit. “Kamu gila Pit.. Bikin aku kelojotan..
Nikmat sekali.. Kamu puas Pit?”
Pipit hanya mengangguk, “Mas Wahyu..,
aku seperti di luar angkasa lho Mas.. Luar
biasa benar kamu Mas..” bisiknya.. Sadar kami berada dirumah orang, kami
segera mengenakan kembali pakaian
kami, merapihkannya dan bersikap
menenangkan walaupun keringat kami
masih bercucuran. Aku meraih gelas dan
meminumnya. Kami menghabiskan waktu menunggu
kakaknya Pipit datang dengan ngobrol
dan bercanda. Sempat Pipit bercerita
bahwa keperawanannya telah hilang
setahun lalu oleh tetangganya sendiri
yang sekarang sudah meninggal karena demam berdarah. Tapi tidak ada
kenikmatan saat itu karena berupa
perkosaan yang entah kenapa Pipit
memilih untuk memendamnya saja. Begitulah akhirnya kami sering bertemu
dan menikmati hari-hari indah menjelang
keberangkatan Pipit ke Malaysia. Kadang
dirumahnya, saat Bu Murni kepasar,
ataupun di kamarku karena memang
bebas 24 jam tanpa pantauan dari sepupuku sekalipun. Tak lama setelah keberangkatan Pipit aku
pindah ke Jakarta. Khabar terakhir
tentang Pipit aku dengar setahun yang
lalu, bahwa Pipit sudah pulang kampung,
bukan sendiri tapi dengan seorang anak
kecil yang ditengarai sebagai hasil hubungan gelap dengan majikannya
semasa bekerja di negeri Jiran itu. Sedang
tentangku sendiri masih berpetualang
dan terus berharap ada “Pipit-Pipit” lain
yang nyasar ke pelukanku. Aku masih
berjuang untuk hal itu hingga detik ini. Kasihan sekali gue..

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada April 29, 2012 in Cerita Dewasa

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: