RSS

Cerita sex – TKW Pemikat

Empat tahun lalu aku masih tinggal
dikota B. Waktu itu aku berumur 26
tahun. Aku tinggal dirumah sepupu,
karena sementara masih menganggur
aku iseng-iseng membantu sepupu bisnis
kecil-kecilan di pasar. 3 bulan aku jalani dengan biasa saja. Hingga akhirnya secara
tak disengaja aku kenal seorang
pelanggan yang biasa menggunakan jasa
angkutan barang pasar yang kebetulan
aku yang mengemudikannya. Bu Murni
namanya. Sambil ngobrol ngalor-ngidul aku antar dia sampai dirumahnya yang
memang agak jauh dari pasar tempat dia
berjualan kain-kain dan baju. Sesampai dirumahnya aku bantuin dia
mengangkat barang-barangnya. Mungkin
karena sudah mulai akrab aku enggak
langsung pulang. Toh, memang ini
penumpang yang terakhir. Aku duduk
saja di depan rumahnya yang sejuk, karena kebetulan ada seperti dipan dari
bambu dihalaman di bawah pohon
jambu. Dari dalam aku mendengar suara
seperti memerintah kepada seseorang.. “Pit.. Tuh bawain air yang dikendil ke
depan..,” begitu suara Bu Murni. Aku tidak mendengar ada jawaban dari
yang diperintah Bu Murni tadi. Yang ada
tiba-tiba seorang gadis umur kira-kira 20
tahunan keluar dari rumah membawa
gelas dan kendil air putih segar. Wajahnya
biasa saja, agak mirip Bu Murni, tapi kulitnya putih dan semampai pula. Dia
tersenyum.. “Mas, minum dulu.. Air kendil seger lho..”
begitu dia menyapaku.
“I.. Iya.. Makasih..” balasku. Masih sambil senyum dia balik kanan
untuk masuk kembali ke dalam
rumahnya. Aku masih tertegun sambil
memandangnya. Seperti ingin tembus
pandang saja niatku, ‘Pantatnya aduhai,
jalannya serasi, lumayan deh..’ batinku. Tak seberapa lama Bu Murni keluar. Dia
sudah ganti baju, mungkin yang biasa dia
pakai kesehariannya.. “Dik Wahyu, itu tadi anak saya si Pipit..”
kata Bu Murni.
“Dia tuh lagi ngurus surat-surat katanya
mau ke Malaysia jadi TKW.” lanjutnya.
Aku manggut-manggut..
“O gitu yah.. Ngapain sih kok mau jauh- jauh ke Malaysia, kan jauh.. Nanti kalau
ada apa-apa gimana..” aku menimpalinya. Begitu seterusnya aku ngobrol sebentar
lalu pamit undur diri. Belum sampai aku
menstater mobil pickupku, Bu Murni
sambil berlari kecil ke arahku.. “Eh dik Wahyu, tunggu dulu katanya Pipit
mau ikut sampai terminal bis. Dia mau
ambil surat-surat dirumah kakaknya.
Tungguin sebentar ya..” Aku tidak jadi menstater dan sambil
membuka pintu mobil aku tersenyum
karena inilah saatnya aku bisa puas
mengenal si Pipit. Begitulah akhirnya aku
dan Pipit berkenalan pertama kali. Aku
antar dia mengambil surat-surat TKW- nya. Di dalam perjalanan kami ngobrol
dan sambil bersendau gurau. “Pit.., namamu Pipit. Kok nggak ada
lesung pipitnya..” kataku ngeledek. Pipit
juga tak kalah ngeledeknya.
“Mas aku kan sudah punya lesung yang
lain.. Masak sih kurang lagi..” balas Pipit.. Di situ aku mulai berani ngomong yang
sedikit nakal, karena sepertinya Pipit tak
terlalu kaku dan lugu layaknya gadis-
gadis didesa. Pantas saja dia berani
merantau keluar negeri, pikirku. Sesampai dirumah kakaknya, ternyata
tuan rumah sedang pergi membantu
tetangga yang sedang hajatan. Hanya ada
anaknya yang masih kecil kira-kira 7
tahunan dirumah. Pipit menyuruhnya
memanggilkan ibunya. “Eh Ugi, Ibu sudah lama belum perginya?
susulin sana, bilang ada Lik Pipit gitu
yah..” Ugi pergi menyusul ibunya yang tak lain
adalah kakaknya Pipit. Selagi Ugi sedang
menyusul ibunya, aku duduk-duduk di
dipan tapi di dalam rumah. Pipit masuk
ke ruangan dalam mungkin ambil air
atau apa, aku diruangan depan. Kemudian Pipit keluar dengan segelas air
putih ditangannya. “Mas minum lagi yah.. Kan capek nyetir
mobil..” katanya. Diberikannya air putih itu, tapi mata Pipit
yang indah itu sambil memandangku
genit. Aku terima saja gelasnya dan
meminumnya. Pipit masih saja
memandangku tak berkedip. Akupun
akhirnya nekat memandang dia juga, dan tak terasa tanganku meraih tangan Pipit,
dingin dan sedikit berkeringat. Tak
disangka, malah tangan Pipit meremas
jariku. Aku tak ambil pusing lagi tangan
satunya kuraih, kugenggam. Pipit
menatapku. “Mas.. Kok kita pegang-pegangan sih..”
Pipit setengah berbisik.
Agak sedikit malu aku, tapi kujawab
juga, “Abis, .. Kamu juga sih..” Setelah itu sambil sama-sama tersenyum
aku nekad menarik kedua tangannya
yang lembut itu hingga tubuhnya
menempel di dadaku, dan akhirnya kami
saling berpelukan tidak terlalu erat
tadinya. Tapi terus meng-erat lagi, erat lagi.. Buah dadanya kini menempel lekat
didadaku. Aku semakin mendapat
keberanian untuk mengelus wajahnya.
Aku dekatkan bibirku hingga menyentuh
bibirnya. Merasa tidak ada protes,
langsung kukecup dan mengulum bibirnya. Benar-benar nikmat. Bibirnya
basah-basah madu. Tanganku mendekap
tubuhku sambil kugoyangkan dengan
maksud sambil menggesek buah
dadanya yang mepet erat dengan
tubuhku. Sayup-sayup aku mendengar Pipit seperti mendesah lirih, mungkin
mulai terangsang kali.. Apalagi tanpa basa-basi tonjolan di
bawah perutku sesekali aku sengaja
kubenturkan kira-kira ditengah
selangkangannya. Sesekali seperti dia
tahu iramanya, dia memajukan sedikit
bagian bawahnya sehingga tonjolanku membentur tepat diposisi “mecky”nya. Sinyal-sinyal nafsu dan birahiku mulai
memuncak ketika tanpa malu lagi Pipit
menggelayutkan tangannya dipundakku
memeluk, pantatnya goyang memutar,
menekan sambil mendesah. Tanganku
turun dan meremas pantatnya yang padat. Akupun ikut goyang melingkar
menekan dengan tonjolan penisku yang
menegang tapi terbatas karena masih
memakai celana lumayan ketat. Ingin
rasanya aku gendong tubuh Pipit untuk
kurebahkan ke dipan, tapi urung karena Ugi yang tadi disuruh Pipit memanggil
ibunya sudah datang kembali. Buru-buru kami melepas pelukan,
merapikan baju, dan duduk seolah-olah
tidak terjadi apa-apa. Begitu masuk, Ugi
yang ternyata sendirian berkata seperti
pembawa pesan. “Lik Pipit, Ibu masih lama, sibuk sekali
lagi masak buat tamu-tamu. Lik Pipit
suruh tunggu aja. Ugi juga mau ke sana
mau main banyak teman. sudah ya Lik..” Habis berkata begitu Ugi langsung lari
ngeloyor mungkin langsung buru-buru
mau main dengan teman-temannya. Aku
dan Pipit saling menatap, tak habis pikir
kenapa ada kesempatan yang tak terduga
datang beruntun untuk kami, tak ada rencana, tak ada niat tahu-tahu kami
hanya berdua saja disebuah rumah yang
kosong ditinggal pemiliknya. “Mas, mending kita tunggu saja yah..
sudah jauh-jauh balik lagi kan mubazir..
Tapi Mas Wahyu ada acara nggak nanti
berabe dong..” berkata Pipit memecah
keheningan. Dengan berbunga-bunga aku tersenyum
dan setuju karena memang tidak ada
acara lagi aku dirumah. “Pit sini deh.. Aku bisikin..” kataku sambil
menarik lengan dengan lembut.
“Eh, kamu cantik juga yah kalau
dipandang-pandang..” Tanpa ba-Bi-Bu lagi Pipit malah
memelukku, mencium, mengulum
bibirku bahkan dengan semangatnya
yang sensual aku dibuat terperanjat
seketika. Akupun membalasnya dengan
buas. Sekarang tidak berlama-lama lagi sambil berdiri. Aku mendorong
mengarahkannya ke dipan untuk
kemudian merebahkannya dengan masih
berpelukan. Aku menindihnya, dan
masih menciumi, menjilati lehernya,
sampai ke telinga sebelah dalam yang ternyata putih mulus dan beraroma
sejuk. Tangannya meraba tonjolan
dicelanaku dan terus meremasnya seiring
desahan birahinya. Merasa ada
perimbangan, aku tak canggung-
canggung lagi aku buka saja kancing bajunya. Tak sabar aku ingin menikmati
buah dada keras kenyal berukuran 34
putih mulus dibalik bra-nya. Sekali sentil tali bra terlepas, kini tepat di
depan mataku dua tonjolan seukuran
kepalan tangan aktor Arnold
Swchargeneger, putih keras dengan
puting merah mencuat kurang lebih 1 cm.
Puas kupandang, dilanjutkan menyentuh putingnya dengan lubang hidungku,
kuputar-putar sebelum akhirnya kujilati
mengitari diameternya kumainkan
lidahku, kuhisap, sedikit menggigit, jilat
lagi, bergantian kanan dan kiri. Pipit
membusung menggeliat sambil menghela nafas birahi. Matanya merem
melek lidahnya menjulur membasahi
bibirnya sendiri, mendesah lagi.. Sambil
lebih keras meremas penisku yang sudah
mulai terbuka resluiting celanaku karena
usaha Pipit. Tanganku mulai merayap ke sana kemari
dan baru berhenti saat telah kubuka
celana panjang Pipit pelan tapi pasti,
hingga berbugil ria aku dengannya.
Kuhajar semua lekuk tubuhnya dengan
jilatanku yang merata dari ujung telinga sampai jari-jari kakinya. Nafas Pipit mulai
tak beraturan ketika jilatanku kualihkan
dibibir vaginanya. Betapa indah, betapa
merah, betapa nikmatnya. Clitoris Pipit
yang sebesar kacang itu kuhajar dengan
kilatan kilatan lidahku, kuhisap, kuplintir- plintir dengan segala keberingasanku.
Bagiku Mecky dan klitoris Pipit mungkin
yang terindah dan terlezaat se-Asia
tenggara. Kali ini Pipit sudah seperti terbang
menggelinjang, pantatnya mengeras
bergoyang searah jarum jam padahal
mukaku masih membenam
diselangkangannya. Tak lama kemudian
kedua paha Pipit mengempit kepalaku membiarkan mulutku tetap membenam
di meckynya, menegang, melenguhkan
suara nafasnya dan… “Aauh.. Ahh.. Ahh.. Mas.. Pipit.. Mas..
Pipit.. Keluar.. Mas..” mendengar lenguhan
itu semakin kupagut-pagut, kusedot-
sedot meckynya, dan banjirlah si-rongga
sempit Pipit itu. Iri sekali rasanya kalau
aku tak sempat keluar orgasme, kuangkat mukaku, kupegang penisku,
kuhujam ke vaginanya. Ternyata tak
terlalu susah karena memang Pipit tidak
perawan lagi. Aku tak perduli siapa yang
mendahului aku, itu bukan satu hal
penting. Yang penting saat ini aku yang sedang berhak penuh mereguk
kenikmatan bersamanya. Lagipula aku
memang orang yang tidak terlalu fanatik
norma kesucian, bagiku lebih nikmat
dengan tidak memikirkan hal-hal njelimet
seperti itu. Kembali ke “pertempuranku”, setengah
dari penisku sudah masuk keliang vagina
sempitnya, kutarik maju mundur pelan,
pelan, cepet, pelan lagi, tanganku sambil
meremas buah dada Pipit. Rupanya Pipit
mengisyaratkan untuk lebih cepat memacu kocokan penis saktiku, akupun
tanggap dan memenuhi keinginannya.
Benar saja dengan “Ahh.. Uhh”-nya Pipit
mempercepat proses penggoyangan aku
kegelian. Geli enak tentunya. Semakin
keras, semakin cepat, semakin dalam penisku menghujam. Kira-kira 10 menit berlalu, aku tak tahan
lagi setelah bertubi-tubi menusuk,
menukik ke dalam sanggamanya disertai
empotan dinding vagina bidadari calon
TKW itu, aku setengah teriak berbarengan
desahan Pipit yang semakin memacu, dan akhirnya detik-detik penyampaian
puncak orgasme kami berdua datang.
Aku dan Pipit menggelinjang, menegang,
daan.. Aku orgasme menyemprotkan
benda cair kental di dalam mecky Pipit.
Sebaliknya Pipit juga demikian. Mengerang panjang sambil tangannya
menjambak rambutku.. Tubuhku serasa
runtuh rata dengan tanah setelah terbang
ke angkasa kenikmatan. Kami
berpelukan, mulutku berbisik dekat
telinga Pipit. “Kamu gila Pit.. Bikin aku kelojotan..
Nikmat sekali.. Kamu puas Pit?”
Pipit hanya mengangguk, “Mas Wahyu..,
aku seperti di luar angkasa lho Mas.. Luar
biasa benar kamu Mas..” bisiknya.. Sadar kami berada dirumah orang, kami
segera mengenakan kembali pakaian
kami, merapihkannya dan bersikap
menenangkan walaupun keringat kami
masih bercucuran. Aku meraih gelas dan
meminumnya. Kami menghabiskan waktu menunggu
kakaknya Pipit datang dengan ngobrol
dan bercanda. Sempat Pipit bercerita
bahwa keperawanannya telah hilang
setahun lalu oleh tetangganya sendiri
yang sekarang sudah meninggal karena demam berdarah. Tapi tidak ada
kenikmatan saat itu karena berupa
perkosaan yang entah kenapa Pipit
memilih untuk memendamnya saja. Begitulah akhirnya kami sering bertemu
dan menikmati hari-hari indah menjelang
keberangkatan Pipit ke Malaysia. Kadang
dirumahnya, saat Bu Murni kepasar,
ataupun di kamarku karena memang
bebas 24 jam tanpa pantauan dari sepupuku sekalipun. Tak lama setelah keberangkatan Pipit aku
pindah ke Jakarta. Khabar terakhir
tentang Pipit aku dengar setahun yang
lalu, bahwa Pipit sudah pulang kampung,
bukan sendiri tapi dengan seorang anak
kecil yang ditengarai sebagai hasil hubungan gelap dengan majikannya
semasa bekerja di negeri Jiran itu. Sedang
tentangku sendiri masih berpetualang
dan terus berharap ada “Pipit-Pipit” lain
yang nyasar ke pelukanku. Aku masih
berjuang untuk hal itu hingga detik ini. Kasihan sekali gue..

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada April 29, 2012 in Cerita Dewasa

 

Tag: , , ,

Crita dwasa – Vony.. dimanakah kamu?

Voni… Dimana Kau?. Cerita ini terjadi di
tahun 2002, ketika saya, Agus, bekerja di
sebuah perusahaan IT di bilangan Jakata
Selatan. Perusahaan saya saat itu
menyewa sebuah rumah yang dijadikan
kantor. Selain perusahaan saya, rumah tersebut juga disewa oleh dua
perusahaan lainnya yang bergerak di
bidang jasa. Saat itu saya bekerja sebagai
staf administrasi. Perusahaan saya
terbilang kecil, hanya memiliki karyawan
di bawah sepuluh orang saja. Kehidupan seksual saya sebenarnya
normal, saya telah berkeluarga dan
memiliki anak berumur satu tahun.
Kebahagiaan kami berjalan seperti
layaknya sebuah keluarga kecil yang
bahagia, tanpa kekurangan satu hal pun. Hingga pada suatu saat, perusahaan yang
bersebelahan dengan saya, sebut saja PT
A, mempekerjakan seorang karyawati
baru di bidang administrasi. Namanya
Voni. Gadis ini berperawakan kecil,
namun manis. Berkulit sawo matang dengan mata berbulu lentik. Rambutnya
agak ikal. Voni ini keturunan arab. Sering
saya dengar bahwa pria keturunan Arab
memiliki libido yang sangat tinggi. Untuk
perempuannya, saya belum pernah
mendengar selentingan mengenai perilaku seksnya. Kehadirannya menyita perhatian semua
karyawan yang bekerja di sana, tidak
hanya karyawan tempat perusahaan Voni
berkerja, PT A, tapi semua perusahaan
yang menyewa tempat tersebut. Hal ini
sangat memungkinkan, karena memang perangai Voni sangat ceria, agak centil,
dan juga selalu berpakaian ketat
mengundang birahi pria manapun yang
melihatnya. Seringkali Aku dan Voni mencuri
pandang, pandangannya mengisyaratkan
sesuatu yang saat itu, aku sendiri belum
bisa menangkap makna yang
tersembunyi. Suatu ketika, kami bertemu di depan
pintu masuk. Saat itu pintu masih dalam
keadaan terkunci, sehingga kami
terpaksa harus menunggu sampai teman
kami yang membawa kunci datang.
Dengan agak gugup, saya mencoba memberanikan diri menyapanya. “Voni ya.. Gimana.. Kerasan kerja di sini?”
pertanyaan yang benar-benar retoris,
hanya sebagai ice breaking.
“Lumayan lah..” jawabnya sambil
menyodorkan kue kecil, “Mau Mas..?” Aku ambil biskuit pemberiannya dan
mulailah pembicaraan mengalir lebih
lancar. “Dari mana dapat info tentang lowongan
pekerjaan di sini?” selidikku.
“Saudara saya kenal dekat dengan
pemiliki PT A, lagipula saya masih
dihitung sebagai magang kok. Jam
kerjanya tidak terlalu memaksa, karena saya masih sambil kuliah,” jawabnya
dengan manis. Terlihat jelas lesung pipit
di pipi sebelah kiri dan lentik bulu
matanya. “Si Mas sombong ya.. Selama tiga bulan
saya kerja di sini, belum pernah menegur
saya, sedangkan yang lain sudah saya
kenal. Setiap saya lihat Mas, pandangan
Mas, dingin, seakan tidak menghargai
keberadaan saya” “Ah itu perasaan Voni saja, saya tidak
begitu kok, kalau tidak percaya tanya saja
sama karyawan yang lain, Saya ini
tipenya periang loh..” obral saya.
“Tapi nggak apa-apa kok, justru
dinginnya Mas memancing rasa penasaran saya..” timpalnya manja.
“Oh ya Mas, kalau ada waktu bisa nggak
Mas membantu saya mengajarkan
komputer Sabtu ini, saya ada tugas dari
kantor, namun agak kesulitan
menyelesaikannya, lagian si Mas kan libur hari Sabtu..?” undangnya penuh manja.
“Wah.. Belum tentu bisa..” timpal saya sok
menjual mahal, “Nanti lah akan saya
beritahu,” lalu kami pun saling bertukar
nomor HP.
“Mas.. Jadi nggak ngajarin saya, saya sudah di kantor nih..” tanyanya pada
Sabtu itu.
“Wah saya lupa..” pikirku, karena panik
langsung saja saya jawab, “Iya saya
dalam perjalanan kok ke sana..”. Setiba di kantor, Voni telah berada di
depan meja komputer. Dengan celana
jeans dan baju putih ketat, jenis pakaian
kesukaannya, jelas mempertontonkan
lekuk tubuh sintal dan buah dadanya
yang ranum. Sambil menelan ludah aku hampiri
mejanya sambil memulai mengajarkan
komputer. Dari samping tampak jelas dua
tonjolan di balik baju ketatnya tersebut,
terlebih baju tersebut agak terbuka di
bagian atasnya. Langsung saja darah saya berdesir melihat pemandangan ini. “Wuih.. Beda banget sama yang
dirumah..” pikirku. Cukup lama aku mengajarinya komputer
hingga waktu makan siang tiba. Saat itu
aku memberanikan diri menyapanya. “Kamu nggak lapar?” tanyaku sambil
memegang perutnya, maklum sudah
hampir dua jam aku menahan libido
melihat pemandangan menggiurkan.
Tanpa dinyana ia menjawab sekenanya. “Lapar yang mana nih? Yang di perut atau
di bawah perut?”
“Wah berani juga nih anak. Ya dua-
duanya dong, terserah kamu mana yang
mau diatasi lebih dahulu, perut atau
bawah perut?” kataku kini dengan mengelus pahanya.
“Terserah Mas deh..” tangannya
menggenggam tanganku dengan erat. Tak berapa lama, matanya seakan
mengajakku untuk pindah ruangan.
Ruang atasannya, yang semula dikunci
dibukanya sambil menggandeng
tanganku. Aku yang di belakangnya
manut saja, karena memang kami berdua sudah sangat on. Setiba di ruangan tersebut, langsung saja
kulumat bibir tipisnya.. Wuih seperti di
surga rasanya. Kecupanku dibalasnya
mesra dan terasa sekali hangat bibirnya. Lama bibir kami saling berpagutan. Tak
kusangka, ternyata responnya luar biasa.
Tanpa terasa tangan kami terus menjalar
mencari arah genggaman yang seakan
tidak pernah kami dapatkan. Aku sendiri
tidak jauh dari menggenggam pantatnya yang sintal di balik jeansnya, sambil
sesekali menggesekkan batangku ke arah
vaginanya. Sambil mendesah Voni terus
membalas ciumanku seakan tidak ingin
melepaskan. Sementara aku mulai
mencoba menelanjanginya. Tangan kananku kucoba untuk melepaskan
zipper celana jeans Voni dan juga
celanaku. Kudengar semakin keras
desahannya ketika alat kelamin kami
saling bertemu, meskipun masih
terhalang oleh CD masing-masing. Tak lama aku lepaskan pengikat celana
kami masing-masing dan dengan cepat
Voni menurunkan celana jeansnya,
demikian juga aku. Kulucuti celanaku dan
juga T-Shirt yang menutupi badanku.
Masih mengenakan CD dan baju ketatnya, Voni langsung kembali melumat bibirku,
sementara tangan kananku mulai aktif
mencoba menyusup ke dalam CDnya.
Dengan cepat Voni memegang tangan
kananku tersebut sambil menggelengkan
kepalanya. Dengan kecewa kutarik tanganku dari balik CDnya, meskipun
sempat terasa bulu-bulu halus yang telah
membasah karena rangsangan yang ada. Setelah gagal menembus CD, aku
mencoba memasukkan tanganku ke
dalam BHnya, kali ini Voni tidak
menolaknya, malah melenguh laksana
sapi saja. Tanpa terasa ternyata, tangan
kanan Voni telah meremas penisku sementara tangan kirinya melingkar di
leherku. Tampak sekali betapa Voni
merasakan setiap remasanku dan
remasannya di penisku. Setiap
kudenyutkan penisku, setiap kali pula
Voni melenguh, ditambah lagi ketika kuremas buah dadanya dan kupelintir
putingnya. Tak tahan dengan permainan tanganku
itu, tiba-tiba Voni melenguh dengan agak
ditahan. “Wah.. Cepat juga ‘dapat’nya nih anak..”
pikirku, sambil terus kuremas dan
kuhisap puting dan buah dadanya. Setelah merasakan orgasme pertamanya,
Voni kemudian membungkuk
menghadapku sambil melepaskan
atasannya. Praktis kini dia hanya
memakai CD saja. Sambil membungkuk
langsung saja dia menurunkan CD Crocodile ku. Dengan mantap dijilatnya
kepala penisku sambil meremas batang
dan sesekali mengelus buah pelirku.
Slowly but sure Voni memainkan penisku
dengan tiga unsur; tangan, mulut dan
lidah. Kombinasi gerakan, kocokan dan kulumannya sungguh luar biasa. Kembali
kurasakan perbedaan ketika aku
menjamah istriku yang selalu ingin
konvensional saja. Tak kuasa aku menahan gempurannya,
kuangkat kepalanya dan kini ia kembali
sejajar denganku. Kulumat mesra kembali
bibirnya sambil berbisik. “Boleh ya..?” tanyaku dan tanganku
mencoba masuk ke dalam CDnya untuk
kedua kalinya. Kali ini ia tidak menjawab dan hanya
mengangguk. Dengan senang kutelusuri
bagian sensitif di bawah perut tersebut.
Terasa bulu-bulu halusnya yang telah
basah sejak permainan tangan kami
pertama. Ketika tangan kananku mencobanya masuk, tangan kiriku
dengan perlahan menurunkan CDnya.
Kini kami telah berhadapan naked. Mulai
kugesek-gesekkan penisku di depan
vaginanya. Desahan kudengar kembali
dari bibirnya, kali ini sambil kulirik ke sekitar ruangan untuk dapat bersandar,
sampai akhirnya kutemukan meja agak
besar dan sambil kudorong badannya ke
arah meja tersebut. Setelah bersandar, Voni langsung
merebahkan tubuhnya di meja tersebut
dan langsung tampak jelas kulit
mulusnya dengan dua gundukan di atas
serta barisan ’semut hitam’ di bagian
bawah. Tahi lalat di samping kiri perutnya menambah sensasi rangsangan
yang ada. “Ayo cepat Mas..” ajaknya mengaburkan
lamunanku sambil mencoba meraih
penisku untuk diarahkan ke liang
vaginanya. Tanpa menunggu waktu lama, langsung
saja kucoba membenamkan penisku ke
liang vaginanya. Wuih, susah dan sempit
sekali. “Pelan-pelan Mas..” ucapnya lirih. Tak kusangka tingkah lakunya yang agak
centil selama ini ternyata tidak serta
merta membuatnya menjadi cewek
gampangan. Terbukti, dia masih perawan
ketika aku menyetubuhinya saat itu. Dengan perlahan, kucoba membenamkan
penisku ke dalam vaginanya. Masuk,
kemudian keluar dan kembali masuk,
demikian beberapa kali, untuk
memberikan space yang cukup agar
penisku bisa leluasa di dalam lubang surgawi tersebut. Sampai akhirnya,
berhasil juga kubenamkan penisku itu. “Bless..”
“Ach.. Ehm..” Seperti bersahutan bunyi penetrasi
penisku dengan desahannya. Semakin
lama kupacu penetrasiku di dalam
vaginanya, sementara kedua tanganku
meremas payudaranya dan sesekali
kuarahkan untuk memegang pantatnya yang seksi. Sepuluh menit kemudian, kembali Voni
melenguh ketika mendapatkan
orgasmenya yang kedua siang itu. Selang
beberapa lama, Voni bergerak, berbalik
membelakangiku. Kutahu maksudnya,
sambil dituntunnya, penisku kumasukkan ke dalam vaginanya dan
kamipun memulai ‘aksi’ doggy style. Sungguh besar juga libido Voni yang
keturunan Arab ini, terbukti gerakannya
seperti membabi buta ketika dia
membelakangiku. Sampai sakit rasanya
mengikuti gerakan cepat dan rotasi yang
dilakukannya. Benar-benar pengalaman seks yang luar biasa. Sambil menggoyang-goyangkan
pantatnya, sesekali dicobanya untuk
meraih zakarku dari arah bawah, kadang
tanpa disadarinya, dipencetnya zakarku,
sampai aku menjerit kesakitan.
Sementara aku, tetap memacunya dari belakang dan kedua tanganku
menggenggam buah dadanya yang
ranum tersebut. Cukup lama kami dalam
posisi tersebut, sampai akhirnya terasa
penisku agak berkejut ingin
memuntahkan lahar sperma hangatnya. Sambil terbata-bata kutanya dia, mau
dikeluarkan di mana? Dengan cepat dia
cabut penetrasi doggy style dan langsung
menghadapku. Diraihnya penisku dan
digenggamnya dengan penuh nafsu.
Sambil menjilati kepala penisku. Kemudian langsung dikocok-kocoknya
penisku dan dikulumnya ketika
dirasakannya penisku mulai berdenyut.
Dan.. Tumpahlah semua lahar sperma
yang ada dalam penisku. Dengan
seksama, ditelannya limpahan spermaku, meskipun masih ada juga bagian yang
tercecer di bibirnya yang tipis. Ceceran di
bibirnya dijilatinya dengan lidahnya
sekan tidak rela membuang percuma
lelehan sperma dari penisku. Aksinya
ditutup dengan pembersihan sisa-sisa sperma di kepala penisku. Sambil tersenyum, kami berdua
menuntaskan birahi kami dengan sebuah
kecupan mesra yang panjang. Kami tahu,
bahwa ini bukanlah yang terakhir yang
kami lakukan. Sambil terengah-engah
Voni berucap mesra. “Makasih ya Mas.. Next time bisa lagi
kan?” Dengan tersenyum penuh arti, tentu saja
sebagai lelaki normal, aku anggukkan
kepalaku mengiyakan.. Setelah kejadian itu, kami sering
melakukannya, malah kami sering nekat
melakukannya sepulang kerja di
ruanganku, di ruang tamu bahkan di WC.
Namun kini, hampir setahun kami tidak
berhubungan lagi. Aku kehilangan kontak dengannya. Terakhir yang aku
tahu, dia akan menikah dan tinggal di
daerah Tangerang.. Voni.. Jika kau membaca cerita ini.. Aku
masih membutuhkanmu sayang..

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada April 29, 2012 in Cerita Dewasa

 

Tag: ,

Ceritasex – nikmatnya tubuh ibu halimah

Pagi itu aku tengah sibuk membenahi
kamarku. Sebuah kamar kontrakan yang
baru kutempati sejak sebulan lalu.
Maklum, kamar berukuran 3×4 meter itu
berdinding papan dan terletak di bagian
belakang rumah bersebelahan dengan kamar mandi. Apalagi papannya sudah
banyak yang renggang dan berlubang
hingga bila malam tiba, angin menerobos
masuk dan menebarkan hawa dingin
menusuk tulang. Hanya bagiku,
mendapatkan kamar kost dengan kondisi seperti itu pun merupakan anugerah
tersendiri. Sebelumnya aku nyaris patah semangat
ketika mendapati harga sewaan kamar
yang rata-rata sangat mahal dan tak
terjangkau di kota tempatku kuliah di
sebuah PTN. Hingga ketika Bu Halimah
pemilik warung makan sederhana menawariku untuk tinggal di tempatnya
dengan harga sewa yang murah aku
langsung menyetujuinya. Oh ya, Bu Halimah, ibu kostku itu adalah
seorang janda berusia sekitar 45 tahun.
Sejak kematian suaminya tujuh tahun
lalu, ia tinggal bersama putri tunggalnya
Nastiti. Ia masih sekolah, kelas dua di
sebuah SMTA di kota itu. Mereka hidup dari usaha warung makan sederhana
yang dikelola Bu Halimah dibantu Yu
Narsih, seorang wanita tetangganya. Yu
Narsih hanya membantu di rumah itu
sejak pagi hingga petang setelah warung
makan ditutup. Pembawaan keseharian Bu Halimah tampak sangat santun. Ia
selalu mengenakan busana terusan
panjang terutama bila tampil di luar
rumah atau sedang melayani pembeli di
warungnya. Hingga kendati berstatus
janda dengan wajah lumayan cantik, tak ada laki-laki yang berani iseng atau
menggoda. “Ada memang laki-laki yang
meminta ibu untuk menjadi istrinya.
Tetapi ibu hanya ingin membesarkan
Nastiti sampai ia berumah tangga.
Apalagi sangat sulit mencari pengganti laki-laki seperti ayah Nastiti almarhum,”
katanya suatu ketika aku berkesempatan
berbincang dengannya di suatu
kesempatan. Di tengah kesibukanku memperbaiki
dinding kamar, tiba-tiba kudengar suara
pintu kamar mandi dibuka. Lalu tak lama
berselang kudengar suara pancaran air
yang menyemprot kencang dari kamar
mandi. Padahal di sana tidak ada kran air yang memungkinkan menimbulkan
bunyi serupa. Maka seiring dengan rasa
ingin tahu yang muncul tiba-tiba, aku
segera mencari celah lubang di dinding
yang bersebelahan dengan kamar mandi
untuk bisa mengintipnya. Ah, ternyata yang ada di kamar mandi adalah Bu
Halimah. Wanita itu tengah kencing
sambil berjongkok. Mungkin ia sangat
kebelet kencing hingga begitu
berjongkok semprotan air yang keluar
dari kemaluannya menimbulkan suara berdesir yang cukup kencang sampai ke
telingaku. Aku jadi tersenyum simpul
melihat kenyataan itu. Tadinya aku tidak
berniat melanjutkan untuk mengintip.
Namun ketika sempat kulihat pantat
besar Bu Halimah yang membulat, naluriku sebagai laki-laki dewasa jadi
terpikat. Posisi jongkok Bu Halimah
memang membelakangiku. Namun
karena ia menarik tinggi-tinggi daster
yang dikenakannya, aku dapat melihat
pantat dan pinggulnya. Ah, wanita berkulit kuning itu ternyata
belum banyak kehilangan daya pikatnya
sebagai wanita. Sampai akhirnya aku
memutuskan untuk terus mengintip,
melihat adegan lanjutan yang dilakukan
ibu kostku di kamar mandi yang ternyata membuat tubuhku panas dingin
dibuatnya. Betapa tidak, setelah selesai
kencing, Bu Halimah langsung mencopot
dasternya untuk digantungkannya pada
sebuah tempat gantungan yang tersedia.
Tampak ia telanjang bulat karena dibalik dasternya ia tidak mengenakan celana
dalam maupun kutangnya. Jadilah aku
bisa menikmati seluruh keindahan lekuk-
liku tubuhnya. Bongkahan pantatnya
tampak sangat besar kendati bentuknya
telah agak menggantung. Sepasang buah dadanya yang juga sudah agak
menggantung, ukurannya juga tergolong
besar dengan dihiasi sepasang pentilnya
yang mencuat dan berwarna kecoklatan. Namun yang membuatku kian panas
dingin adalah adegan lanjutan yang
dilakukannya setelah ia mulai
mengguyur air dan menyabuni
tubuhnya. Sebab setelah hampir sekujur
tubuhnya dibaluri busa sabun mandi, ia cukup lama memainkan kedua
tangannya di kedua susu-susunya.
Meremas-remas dan sesekali memilin
puting-putingnya. Sepertinya ia tengah
berusaha membangkitkan dan memuasi
birahinya oleh dirinya sendiri. Lalu, dengan satu tangan yang masih
menggerayang dan meremas di buah
dadanya, satu tangannya yang lain
menelusur ke selangkangannya dan
berhenti di kemaluannya yang
membukit. Kemaluan yang hanya sedikit ditumbuhi bulu rambut itu, berkali-kali
diusap-usapnya dan akhirnya salah satu
jarinya menerobos ke celahnya. Ah, ia
juga mengeluar-masukkan jarinya ke
liang kenikmatannya. Bahkan seperti
tidak puas dengan satu jari tengah tangannya, jari telunjuknya pun ikut
dimasukannya. Hingga akhirnya kedua
jarinya yang digunakan untuk mencolok-
colok vaginanya. Aku yakin Bu Halimah melakukan semua
itu sambil membayangkan bahwa yang
mencolok-colok liang kenikmatannya
adalah penis seorang laki-laki. Terbukti ia
melakukan sambil merem-melek dan
mendesah. Membuktikan bahwa ia mendapatkan kenikmatan atas yang
tengah dilakukannya. Disodori
pertunjukkan panas yang diperagakan
ibu kostku, aku kian tak tahan.
Kukeluarkan kemaluanku yang telah ikut
mengeras dari celana setelah membuka risleting. Kuremas-remas sendiri penisku
sambil membayangkan menyetubuhinya
yang tengah bermasturbrasi. Akhirnya, ketika tubuhnya terlihat
mengejang, karena menahan birahi yang
tak terbendung dan seiring dengan
datangnya puncak kenikmatan yang
didambakan, aku pun kian kencang
meremas dan mengocok kemaluanku sambil terus memelototi tingkah
polahnya. Dan tubuhku ikut mengejang
dan melemas ketika dari ujung penisku
memuntahkan mani yang menyembur
cukup banyak. Dia tampak kaget dan
mencoba mencari sesuatu di dinding kamar mandi yang berbatasan dengan
kamarku. Mungkin ia sempat mendengar
erangan lirih suaraku yang tak sadar
sempat kukeluarkan saat mendapatkan
orgasme. Namun karena aku segera
menjauh dari dinding, ia tak sempat memergokiku. Tetapi,… ah.. entahlah. Hanya sejak saat itu aku sering mencari
kesempatan untuk mengintipnya saat ia
mandi. Bahkan juga mengintip ke
kamarnya saat ia tidur. Kamar Dia
memang bersebelahan dengan kamarku.
Rupanya, untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, selama ini wanita itu
mendapatkannya dari bermasturbrasi.
Hingga aku sering memergoki ia
melakukannya di kamarnya. Dan seperti
Dia, setiap aku mendapatkan kesempatan
untuk melihat ketelanjangannya, selalu aku melanjutkan dengan mengocok
sendiri kemaluanku. Tentu saja sambil
membayangkan menyetubuhi ibu kostku
itu. Sampai akhirnya, mengintip ibu
kostku merupakan acara rutin di setiap
kesempatan seiring dengan gairah birahiku yang kian menggelegak. Sampai suatu malam, setelah sekitar
enam bulan tinggal di rumahnya, aku
bermaksud keluar kamar untuk
menonton televisi di ruang tamu. Maklum
sejak sore aku terus berkutat dengan
diktat dan buku-buku untuk tugas pembuatan paper salah satu mata kuliah.
Namun yang kutemukan di ruang tamu
membuatku sangat terpana. Televisi 17
inchi yang ada memang masih menyala
dan tengah menyiarkan satu acara
infotainment dan disetel dengan volume cukup keras. Namun satu-satunya
penonton yang ada, yakni Dia, tampak
tertidur pulas. Ia tidur dengan
menyelonjorkan kaki di sofa, sementara
daster yang dikenakannya tersingkap
cukup lebar hingga kedua kaki sampai ke pahanya nampak menyembul terbuka.
Biasanya aku akan membangunkan dan
megingatkannya untuk tidur di
kamarnya bila memergoki ibu kostku
tertidur di ruang tamu. Tetapi itu tidak
kulakukan, sayang kalau pemandangan yang menggairahkan sampai
terlewatkan. Ketika aku mendekat, tubuh wanita itu
menggeliat dan posisi kakinya kian
terbuka hingga mengundangku untuk
melihatnya lebih mendekat. Berjongkok
di antara kedua kakinya. Kini bukan
hanya paha mulusnya yang dapat kunikmati. Aku juga dapat melihat organ
miliknya yang paling rahasia karena ia
tidak mengenakan celana dalam. Bibir
luar kemaluannya terlihat coklat
kehitaman dan nampak berkerut.
Pertanda kemaluannya sering diterobos alat kejantanan pria. Sementara di
celahnya, di bagian atas, tampak
kelentitnya yang sebesar biji jagung
terlihat mencuat. Melihat ketelanjangan
tubuh ibu kostku sebenarnya telah cukup
sering kulakukan saat mengintip. Namun melihatnya dari jarak yang cukup dekat
baru kali itu kulakukan. Degup jantungku
jadi terpacu, sementara penisku langsung
menegang. Aku nyaris mengulurkan
tanganku untuk mengusap vaginanya
untuk merasakan lembutnya bulu-bulu halus yang tumbuh di sana atau
merasakan hangatnya celah lubang
kenikmatan itu. Tetapi takut resiko yang harus
kutanggung bila ia terbangun dan tidak
menyukai ulahku, aku urungkan niatku
tersebut. Dan tak tahan terpanggang oleh
gairah yang memuncak, kuputuskan
untuk kembali ke kamar. Untuk beronani, meredakan ketegangan yang meninggi.
Di dalam kamar, kulepaskan seluruh
pakaian yang kukenakan. Lalu tiduran
telanjang diatas ranjang setelah
sebelumnya menarik kain selimut untuk
menutupi tubuh. Seperti itulah biasanya aku beronani sambil membayangkan
keindahan tubuh dan menyetubuhi ibu
kostku. Hanya, baru saja aku mulai
mengelus burungku yang tegak berdiri
tiba-tiba kudengar pintu kamarku yang
tak sempat terkunci dibuka dan seseorang terlihat menerobos masuk ke
dalam. “Hayo, lagi ngocok yah,” suara Dia
mengagetkanku. Ternyata yang
membuka pintu dan masuk kekamarku
adalah ibu kostku. “Ti,… tidak,” jawabku
dan secara reflek segera kutarik selimut untuk menutupi tubuhku. “Jangan
bohong Tris. Ibu tahu kok kamu sering
mengintip ibu saat mandi atau dikamar.
Juga tadi kamu melihati milik ibu saat
tidur di sofa kan?” katanya lirih seperti
berbisik. Ditelanjangi sedemikian rupa aku jadi
malu dan menjadi tegang. Takut kepada
kemarahan Dia atas semua ulah yang
tidak pantas kulakukan. Penisku yang
tadi tegak menantang kini mengkerut,
seiring dengan kehadiran wanita itu di kamarku dan oleh pernyataanya yang
telah menelanjangiku. Aku
membungkam tak dapat bisa bicara.
“Sebenarnya ibu nggak apa-apa kok, Tris.
Malah, eee.. ibu bangga ada anak muda
yang mengagumi bentuk tubuh ibu yang sudah tua begini. Kalau mau, sekarang
kamu boleh melihat semuanya milik ibu
dari dekat dan kamu boleh melakukan
apa saja. Asal kamu bisa menjaga rahasia
serapat-rapatnya,” ujarnya. Aku masih belum tahu arah pembicaraan
ibu kostku hingga hanya diam membisu.
Tetapi, Dia telah melepas daster yang
dikenakannya. Dan dengan telanjang
bulat, setelah sebelumnya mengunci
pintu kamar, ia menghampiriku yang masih terbaring di ranjang. Duduk di tepi
ranjang di sebelahku. Tak urung gairahku
kembali terpacu kendati hanya menatapi
ketelanjangan tubuh wanita yang lebih
pantas menjadi ibuku itu. “Ayo Tris,
jangan cuma melihati begitu. Tadi kamu sebenarnya ingin memegang punya aku
kan? Ayo lakukan semua yang ingin
dilakukan padaku,” suaranya terdengar
berat ketika mengucapkan itu. Mungkin ia telah bernafsu dan ingin
disentuh. Melihat aku tidak bereaksi, aku
kostku akhirnya mengambil insiatif.
Tangannya menjulur, menarik selimut
yang menutupi tubuh telanjangku.
Batang penisku yang tegak mengacung diraihnya dan diremasnya dengan gemas.
Selanjutnya mengelus-elusnya perlahan
hingga aku menjadi kelabakan oleh
sentuhan-sentuhan lembut tangannya di
selangkanganku. Dan sambil melakukan
itu Dia mulai membaringkan tubuhnya di sisiku dalam posisi berhadapan
denganku. Maka buah dadanya yang
berukuran besar dan seperti buah pepaya
menggantung berada tepat di dekat
wajahku. Aku tetap tidak bereaksi
kendati payudaranya seperti sengaja disorongkan ke wajahku. Namun ketika
ia mulai mengocok penisku dan
menimbulkan kenikmatan tak terkira,
keberanianku mulai terbangkitkan.
Payudaranya mulai kujadikan sasaran
sentuhan dan remasan tanganku. Buah dadanya sudah tidak kencang memang,
tetapi karena ukurannya yang tergolong
besar masih membuatku bernafsu untuk
meremas-remasnya. Puas meremas-
remas, aku mulai menjilati pentilnya
secara bergantian dan dilanjutkan dengan mengulumnya dengan mulutku. Rupanya tindakanku itu membuat gairah
Dia menjadi naik. Ia mulai mengerang
dan kian mengaktifkan sentuhan-
sentuhannya di di alat kelaminku.
“Ya Tris, begitu. Ah,.. ah enak. Uh,..
uh..terus terus sedot saja. Ya,.. ya. sshh… ssh.. akhhh”. Dengan mulut masih
mengenyoti susu Dia secara bergantian
kiri dan kanan, tanganku mulai
menyelusur ke bawah. Ke perutnya, lalu
turun ke pusarnya dan akhirnya
kutemukan busungan membukit di selangkangannya. Kemaluan yang hanya
sedikit di tumbuhi rambut itu terasa
hangat ketika aku mulai mengusapnya.
Rupanya itu merupakan wilayah yang
sangat peka bagi seorang wanita. Maka
ketika aku mulai mengusap dan meremas-remas gemas, Dia mulai
menggelinjang. Kakinya dibukanya lebar-
lebar memberi keleluasaan padaku untuk
melakukan segala yang yang
kuiinginkan. Terlebih ketika jari
telunjukku mulai menerobos ke celahnya. Lubang vaginanya ternyata tak cuma
hangat. Tetapi telah basah oleh cairan
yang aku yakin bukan oleh air
kencingnya. Aku jadi makin bernafsu
untuk mencolok-coloknya. Tidak hanya
satu jari yang masuk tetapi jari tengahkupun ikut bicara. Ikut menerobos
masuk ke lubang kenikmatan aku
kostku. Mengocok dan terus
mengocoknya hingga lubang vaginanya
kian becek akibat banyaknya cairan yang
keluar. Ia juga menggelinjang-gelinjang sambil terus mendesah. “Ah,.. ah.. ah aku
tidak kuat lagi Tris. Ayo sekarang kamu
naik ke tubuh aku,” bisiknya akhirnya. Rupanya ia sudah tidak tahan akibat
kemaluannya terus diterobos oleh dua
jariku. Maka tubuhku ditarik dan
menindihnya. Dasar belum punya
pengalaman sedikitpun dengan wanita.
Kendati telah menindihnya, penisku tak kunjung dapat menerobos lubang
kenikmatan aku kostku. Untung Dia
cukup telaten. Dibimbingnya penisku dan
diarahkannya tepat di lubang vaginanya.
“Sudah, dorong masuk tetapi pelan-pelan.
Soalnya aku sudah lama melakukan seperti ini,” bisiknya di telingaku.
Bleessss! Sekali sentak amblas penisku
masuk ke lubang kenikmatan aku
kostku. Aku memang tidak
mengindahkan permintaannya yang
memintaku untuk memasukannya perlahan. Mungkin karena tidak
berpengalaman dan sudah terlanjur naik
ke ubun-ubun gairah yang kurasakan.
Hingga ia sempat vaginaik saat penisku
menancap di lubang vaginanya.
“Auuu, ..ah.ah.. pe..pelan-pelan Tris, shhh….ssh ..ah..ah,”
“Ma,… ma.. maaf bu,” “Iya,.iya. Be,.. besar
sekali punya kamu ya Tris,”
“Punyamu juga besar dan enak,” kataku
sambil terus meremasi kedua
payudaranya. Namun baru beberapa saat aku mulai
memaju mundurkan penisku ke lubang
vaginanya, desah nafasnya kian keras
kudengar. Tubuhnya terus
menggelinjang dan mulai menggoyang-
goyangkan pantatnya. Akibatnya baru beberapa menit permainan berlangsung
aku sudah tak tahan. Betapa tidak,
penisku yang berada di liang vaginanya
terasa dijepit oleh dinding-dinding
kemaluannya. Bahkan terasa seperti
disedot dan diremas-remas. “Aduh,.. ah.. aku tidak tahan. Ah,..ah…
ah..aaaaaahhh,” Aku terkapar di atas
tubuhnya setelah menyemprotkan cukup
banyak air mani di liang sanggamanya.
Indah dan melayang tinggi perasaanku
saat segalanya terjadi. Dan cukup lama aku menindihnya yang memelukku erat
setelah pengalaman persetubuhan
pertamaku itu. “Maaf bu cepat sekali
punya saya keluar. Jadinya cuma
ngotorin” “Tidak apa-apa Tris. Kamu baru
kali ini ya melakukannya? Nanti juga bisa tahan lebih lama” katanya setelah aku
terbaring di sisinya sambil menenangkan
gemuruh di dadaku yang mulai mereda. Dan dengan lembut dia membersihkan air
mani yang berleleran di penisku dan
vaginanya dengan daster yang tadi
dikenakannya. “Sebentar aku bikin kopi
dulu ya, biar kamu semangat lagi,” Dia
keluar dari kamarku sambil membawa dasternya yang telah kotor. Rupanya ia
menyempatkan ke kamar mandi, karena
kudengar ia menyiram dan membasuh
tubuhnya. Cukup lama ia melakukan itu
di kamar mandi. Baru ia kembali ke
kamarku dengan membawa segelas besar kopi panas kesukaanku yang
dibuatnya. Ia mengenakan kain panjang
yang dililitkan sebatas dadanya. Namun
satu-satunya pembungkus tubuhnya itu
langsung dilepaskannya setelah menaruh
gelas kopi dan mengunci kembali pintu kamarku. “Kopinya saya minum dulu ya
bu,” “Oh ya, ya. Silahkan diminum nanti
keburu dingin,” Menyeruput beberapa
tegukan kopi panas buatannya
membuatku kembali bergairah. Aku
menyempatkan diri mencuci rudalku di kamar mandi. Kendati tadi sudah
dibersihkan olehnya, tetapi rasanya
kurang bersih dan agak kaku. Mungkin
karena sperma yang mengering. Ketika aku kembali ke kamar, Dia
langsung menggenggam penisku yang
masih layu. Mungkin ia sudah ingin
gairahnya tertuntaskan dan bermaksud
membangkitkan kejantananku dengan
mengelus dan meremas-remasnya. Tetapi dengan halus kutepis tangannya. “Aku
telentang saja,..,” kataku.
Dia naik atas ranjang dan aku segera
menyusulnya. Ia yang telah tiduran
dengan posisi mengangkang, kudekati
bagian bawah tubuhnya tepat di antara kedua pahanya. Ah, liang sanggamanya
sudah banyak kerutan terutama di bagian
bibir kemaluannya. Warnanya coklat
kehitaman. Bahkan ada bagian dagingnya
yang menggelambir keluar. Ia mencoba
menutupi kemaluannya dengan tangannya. Mungkin ia malu bagian
paling rahasia miliknya dipelototi begitu.
Tetapi segera kusingkirkan tangannya.
Dan ketika tanganku mulai melakukan
sentuhan di sana, ia mandah saja. Bahkan
saat telunjuk jari tanganku mulai mencoloknya, ia mendesah. Tak puas
hanya memasukkan satu jari, jari
tengahku menyusul masuk
mencoloknya. Dan aku mulai
mengkorek-koreknya dengan
mengeluar-masukkan kedua jariku itu. Akibatnya ia menggelinjang dan
mendesah. Kedua jariku semakin basah oleh cairan
vaginanya. Baunya sangat khas, entah
mirip bau apa, sulit kucarikan
padanannya. Hanya yang pasti, bau
vaginanya tidak membuatku jijik.
Hidungku semakin kudekatkan untuk lebih membauinya. Tetapi ketika lidahku
mulai kugunakan untuk menyapu bagian
luar bibir vaginanya ia memberontak.
“Hiiii, jangan Tris, ah,.. ah.. jorok ah. Kamu
nggak jijik? Shhh,… akhhh… shhh,
….shhhh,” Ia mencoba menolakkan kepalaku menjauhkan mulutku dari
lubang nikmatnya. Aku tetap nekad,
mulut dan lidahku tambah liar
menggeremusi dengan gemas liang
sanggamanya itu. Hingga ia kian
menggelepar dan menggelinjang. Mulutnya mendesis seperti orang
kepedasan. Mulut dan lidahku yang
meliar ke bagian dalam vaginanya
menimbulkan sensasi tersendiri. Berkali-
kali ia mengangkat pantatnya dan
membuat lidah dan mulutku semakin menekan dan menekan ke
kedalamannya. Ludahku yang bercampur
dengan cairan vaginanya menjadikan
lubang nikmatnya terasa sangat basah.
Tetapi, ketika lidahku mulai melakukan
sapuan ke lubang duburnya dengan cara mengangkat sedikit pantatnya, ia kembali
berontak. “Apa-apaan ini, hiii,.. jangan ah
kotor. Uhhh… ahhh… shhh.. shh,” Aku sering melihat film BF, saat wanita
dijilati lubang anusnya, ia tambah
menggelinjang dan merintih. Berarti
lubang dubur sangat peka oleh sentuhan.
Dan memang terbukti, Dia tambah
merintih dan mengerang. Hanya baru beberapa saat sapuan kulakukan,
tubuhnya telah mengejang. Kedua
pahanya menjepit kencang kepalaku
disusul dengan mengejutnya dubur dan
lubang vaginanya. “Ohhh, aku sudah
enak Tris. Kamu sih menjilat-jilat di situ. Kamu sudah sering ya melakukan dengan
wanita,” “Tidak bu,” “Kok kamu tahu
yang seperti itu,” “Saya hanya ikut-ikutan
adegan film BF” Ujarku. ” Bapaknya Titi
(panggilan Nastiti, anaknya) sih
jangankan menjilat dubur. Menjilati vagina aku saja tidak pernah,” katanya. Kubiarkan ia sesaat meredakan nafasnya
yang memburu. Lalu aku mulai menindih
tubuhnya ketika ia menyatakan siap
untuk melakukan permainan berikutnya.
penisku mulai naik-turun keluar-masuk
dari liang sanggamanya. Bunyinya sangat khas dan membuatku tambah bergairah.
Sementara tanganku tak henti-hentinya
meremasi susu-susunya. Pentil susunya
yang besar dan mengeras kusedot-sedot
dengan mulutku. Itu membuatnya
keenakan dan kembali mendesah. Ia tak mau kalah. Pinggulnya mulai digoyang.
Pantat besarnya dijadikan landasan untuk
menggoyang. Jadilah benda bulat
panjang milikku yang berada di
dalamnya mulai merasakan nikmat oleh
gesekan dinding vaginanya. Goyangan pinggul dan naik-turunnya tubuhku di
bagian bawah sepertinya seirama. Terasa
syuur, dan ah, nikmat. Tak lupa, sesekali
bibirnya kucium. Ia membalasnya lebih
hangat. Lidahku disedotnya nikmat.
Jadilah kami bak sepasang kekasih yang tengah meluahkan gairah. Saling berpacu
dan saling memberi kenikmatan. Aku tak
peduli lagi bahwa yang tengah
kusetubuhi adalah ibu kostku. Wanita
yang jauh lebih tua usianya dan selama
ini kuhormati karena penampilannya yang selalu nampak santun. Tak
kusangka ia menyimpan bara yang siap
melelehkan. Liang nikmat Dia mulai
berdenyut-denyut kembali. Mungkin ia
akan kembali orgasme seperti yang juga
tengah kurasakan. Goyangan pinggulnya semakin kencang tetapi tidak teratur.
Maka sodokan penisku ke lubang
nikmatnya semakin garang. Menghujam
dan kian menghujam seolah hendak
membelah bagian bawah tubuhnya. Puncaknya, ketika Dia mulai merintih dan
kian mendesah, tanganku mulai
menyelinap ke pinggulnya dan
menyelusup ke pantatnya. Di sana aku
meremas dan mencari celah agar dapat
menyentuh duburnya. Dan setelah terpegang, jari telunjukku mencolek-
colek lubang anusnya. Akibatnya
matanya seperti membelalak dan hanya
menampakkan warna putihnya.
Dirangsang di dua lubangnya sekaligus
membuatnya seperti cacing kepanasan. Maka ketika tubuhnya semakin
mengejang, dan tubuhku dipeluknya
erat. Jari telunjukku kupaksa masuk ke
lubang duburnya. Sedang penisku
kubenamkan sekuatnya di vaginanya.
Jadilah pertahanan wanita itu ambrol, vaginanya kian berdenyut dan menjepit
sementara erangannya semakin kencang
dan bahkan vaginaik. Sedang dari
rudalku, menyembur sebanyak-
sebanyaknya sperma ke lubang
nikmatnya. Karena banyaknya sperma yang mengguyur, kurasakan ada yang
meleleh keluar dari mulut kemaluannya
yang masih terterobos oleh penisku. “Ah,
aku puas sekali Tris. Baru kali ini aku
merasakan yang seperti ini,” katanya. Kami masih terkapar di ranjang. Ada rasa
ngilu dan tulang-tulangku seperti dilolosi.
Tetapi sangat nikmat. Ada tiga ronde
permainan yang kulakukan malam itu.
Dia mengaku sangat kecapaian ketika aku
memintanya kembali. Menjelang subuh, ia pamit untuk kembali ke kamarnya.
“Kalau kamu suka, aku siap
melakukannya setiap waktu. Tetapi
tolong jaga erat-erat rahasia kita ini,”
ujarnya berpesan. Aku mengangguk
setuju. Bahkan sebelum keluar dari kamarku ia kuhadiahi ciuman panjang.
Pantat besarnya kuremas-remas gemas
dan nyaris punyaku bangkit kembali.
“Sudah ah, besok malam bisa kita
sambung lagi. Kamu Tris, besok harus
kuliah kan,” katanya. Bergegas ia menyelinap keluar dari kamarku. Takut
dengan gairahnya yang kembali
terpancing. Perselingkuhanku dengannya
terus berlangsung. Di setiap kesempatan,
kalau tidak aku yang mengajaknya, ia
yang mengambil insiatif. Bahkan di siang hari, kalau aku lagi ngebet, sengaja bolos
dari kampus. Mampir ke warungnya dan
memberi kode, lalu ia akan pulang
menyempatkan melayaniku di kamarku
atau di kamarnya. Ia memang tergolong
wanita panas yang terpicu hasrat seksualnya. Seperti siang itu, karena hanya ada satu
mata kuliah, aku pulang agak siang dari
kampus. Aku langsung ke warung untuk
makan siang dan bermaksud memberi
kode pada ibu kostku. Tetapi ia tidak di
sana. ” Ibu baru saja pulang, mungkin untuk istirahat,” kata Yu Narsih,
pembantunya yang ada menunggu
warung melayani pembeli. Jarak antara
warung dengan rumah memang dekat
tak lebih dari 50 meter. Maka setelah
menyantap makan siangku, aku langsung ngabur ke rumah. Dia tidak sedang tidur
seperti yang kusangka. Ia sedang
melipati pakaian yang telah diambilnya
dari jemuran duduk di ruang tengah.
Maka dasar sudah horny, kudekati ia dan
kupeluk dari belakang. “Kuliahnya bebas Tris,” katanya. “Cuma
satu mata kuliah kok,” jawabku.
Ia berkeringat, mungkin karena
kesibukannya melayani pembeli sejak
pagi. Baunya khas, bau wanita dewasa.
Tetapi tidak mengurangi gairahku untuk memesrainya. Ia mulai menggelinjang
ketika tanganku menyelusup ke balik
dasternya dan mencari gundukan buah
dadanya. Kuremas-remas susunya dan
kupilin putingnya. Aku jadi gemas karena ia tak bereaksi.
Tetapi melanjutkan pekerjaanya
memberesi pakaian-pakaian yang telah
dicucinya. Maka sambil menciumi
lehernya, tanganku terus merayap dan
merayap sampai kutemukan vaginanya yang masih tertutup CD. Baru ketika
hendak kutarik CD nya ia berontak.
“Kamu pengin Tris?,” “Iya. Habis
vaginanya enak sih,” kataku. Celana
dalamnya berhasil kulepaskan tanpa
membuka dasternya. Sebenarnya ia mengajakku untuk main di kamarnya.
Tetapi kutolak, aku ingin ia melayaniku di
sofa. Apalagi Nastiti tengah camping di
sekolahnya sejak dua hari lalu. Jadi aku
tidak perlu takut ketahuan anak gadisnya
itu. Dan lagi aku cuma butuh pelepasan hajat secara singkat karena harus
menyelesaikan makalah yang harus jadi
besok pagi. Kalau main di kamar, pasti
akan memakan waktu lama karena Dia
pasti tak mau cuma kusetubuhi sebentar. Jadilah setelah sebentar menjilati
vaginanya dan meremasi susunya, hanya
dengan menyingkap dasternya aku mulai
menyetubuhinya. Dengan posisi duduk di
sofa ia kangkangkan kakinya hingga
memudahkanku memasukkan penis ke liang nikmatnya. Kugenjot pelan lalu
mulai cepat, karena nafsuku memang
sudah naik ke ubun-ubun. Namun pada saat aku memuncratkan
sperma ke lubang vaginanya, samar-
samar kulihat seseorang melihati
perbuatan kami. Ia adalah Yu Narsih,
pembantu aku. Kulihat ia mengintip dari
balik gorden di pintu dekat kamar mandi. Rupanya ia masuk dari pintu belakang
rumah yang memang tidak terkunci. Aku
langsung berdiri dan melangkah ke arah
dapur. “Dasar anak muda, kalau lagi ada
mau nggak sabaran,” katanya tersenyum
melihat tingkahku. Dibersihkannya sperma yang berleleran di sekitar
kemaluannya dengan daster yang
dikenakannya. Ia tidak tahu bahwa
sebenarnya aku tengah mencoba
mengejar Yu Narsih yang langsung
menyelinap keluar setelah perbuatanku dengan ibu kostku. Aku jadi panik, takut
Yu Narsih akan menceritakan peristiwa
yang dilihatnya kepada para tetangga.
Kuputuskan untuk tidak menceritakan
padanya ihwal Yu Narsih. Biarlah akan
kucoba meredamnya, pikirku. Selepas sore kutemui Yu Narsih di
rumahnya. Jarak rumah Yu Narsih hanya
sekitar 500 meter. Terpencil di tepi sawah.
Aku memang sering main ke rumahnya
dan kenal baik dengan suaminya, Kang
Sarjo yang berprofesi sebagai tukang becak. Wanita berusia sekitar 35 tahun
dan berkulit agak gelap itu, cukup kaget
ketika aku datang. “Kang Sarjo mana Yu?”
“Oh, baru saja berangkat narik. Ada perlu
dengan dia?” Plong, lega rasa hatiku. Aku
memang ragu, takut permasalahan yang ingin kusampaikan ke Yu Narsih di
dengar suaminya. Aku dipersilahkannya
duduk di balai, satu-satunya perabotan
yang ada di ruang tamu rumah
berdinding pagar itu. Yu Narsih pun
duduk menyebelahiku. “Tidak. Aku malah perlu sama Yu Narsih kok,” kataku. Dengan pelan kusampaikan maksud
kedatanganku. Aku meminta Yu Narsih
tidak menceritakan apa yang dilihatnya
siang tadi kepada orang-orang. Kasihan
ibu kostku akan jadi bahan gunjingan
orang. Dan sejauh ini Dia tidak tahu kalau Yu Narsih sebenarnya telah memergoki
perbuatan itu hingga aku memintanya
pula untuk tidak menegur ibu kostku. Ia
cuma terdiam membisu sampai aku
menyelesaikan semua yang ingin
kusampaikan. “Ah, saya ndak apa-apa kok Mas Tris. Saya malah yang minta
maaf, tadi nyelonong masuk,” ujarnya.
“Tetapi saya tidak enak sama Yu Narsih.
Yu Narsih jangan cerita sama siapa-siapa
ya,” kataku lebih menegaskan. Seperti
menghiba saat aku menyampaikan itu. “Iya mas. Masak saya menjelek-jelekkan
Mas Tris dan ibu sih,” Mendengar kesungguhan dan
ketulusannya itu aku merasakan beban
berat yang tadi menindihku berkurang.
Akupun langsung pamit pulang. Sejak itu
aku dengan tenang dapat memuasi ibu
kostku. Aku tinggal di rumah ibu kostku sampai lulus kuliah dan telah
memperoleh pekerjaan. Bahkan, saat ini
saya tengah dalam persiapan perkawinan
dengan Nastiti, putri tunggal ibu kostku,
entah apa jadinya nanti,…. Apakah Dia
akan tetap meminta layananku bila aku telah menjadi menantunya ?

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada April 29, 2012 in Cerita Dewasa

 

Tag: , ,

Cerita dewasa – Jamu Awet Muda

Perkenalkan namaku A, mahasiswa
tingkat 3 sebuah perguruan tinggi swasta
di DP. Tinggiku 172 cm berat 67 kg, atletis,
wajahku lumayan ganteng, dan dengan
modal ini pula aku banyak menarik
perhatian gadis-gadis teman kuliahku. Aku tidak mempunyai pacar tetap bukan
karena aku homo atau sejenisnya tapi
melainkan karena aku tidak terlalu
tertarik pada gadis-gadis seusiaku apalagi
yang lebih muda. Aku lebih senang
kencan dengan tante-tante yang usianya sama dengan ibuku. Keperjakaanku hilang ketika aku berusia
13 tahun, akibat dikencani oleh seorang
janda tetanggaku. Sejak saat itu aku
hanya tertarik untuk kencan dengan
wanita setengah baya, karena permainan
mereka yang aduhai dan mampu membuatku terbang ke awang-awang.
Sampai sekarang sudah belasan tante-
tante atau janda kesepian yang telah
kukencani. Tidak semuanya berdasarkan
uang, tapi ada juga yang karena suka
sama suka, yang jenis ini biasanya karena wajahnya masih cantik dan bodinya
sensual, kalau jelek ya.. terpaksa deh aku
pasang tarif lumayan tinggi, hitung-
hitung uang lelah. Pengalamanku yang akan kuceritakan ini
mungkin sudah pernah dialami oleh
beberapa orang yang rajin membaca situs
17Tahun.com ini, karena berhubungan
dengan seseorang yang sangat terkenal
khususnya pada tahun 1980-an sebagai seorang artis dan penyanyi. Kejadiannya
sekitar tahun 1997 akhir waktu itu aku
dan temanku R (laki-laki) sedang
ngobrol-ngobrol sehabis pulang sekolah
di kawasan Blok M. R bertanya padaku
apakah aku mau kencan dengan seorang artis. Aku tentu saja menjawab mau,
pikirku kapan lagi bisa kencan dengan
tante-tante, artis lagi. “Siapa artisnya, jangan-jangan Maissy
lagi?” kataku setengah meledek R.
“Bukan goblok, emangnya gue
phedophili, itu tuh Tante TP”, jawab R.
Aku terkejut bukan main, jadi gosip itu
benar bahwa Tante TP wanita setengah baya yang usianya sudah lebih 50 tahun
itu suka main dengan anak muda, untuk
memelihara kecantikan wajahnya.
“Yang bener loe, Tante TP yang punya
operet PPK itu kan, yang dulu suka
bawain lagu anak-anak tahun 80-an”, tanyaku memastikan.
“Iya bener, nih gue ada nomor HP-nya..
elo telpon aja kalo kagak percaya.” Jawab
R meyakinkanku.
“Oke deh gue percaya, kapan kita ke
sana?” tanyaku. “Besok deh kita cabut aja sekolah itung-
itung refreshing oke?” jawab R, aku
mengiyakan dan berjanji dengan R untuk
bertemu di kafe OLA di PI Mall esok
harinya. Keesokan harinya tepat jam 10.00, aku
bertemu R di kafe OLA.
Aku bertanya, “Udah ditelpon belum,
Tante TP-nya entar dia telat lagi.”
“Tenang aja deh udah beres, dia sebentar
lagi datang”, kata R meyakinkanku. Benar juga seperempat jam kemudian
kulihat sesosok wanita setengah baya
mengenakan baju putih berkerudung dan
mengenakan kacamata hitam lebar,
tampaknya ia tidak mau dikenali orang
banyak. Tante TP langsung duduk di tempat kami, dan membayar bill
makanan lalu langsung mengajak kami
pergi. Kami berdua mengikutinya, lalu
kami bertiga meluncur ke hotel SHD di
kawasan Sudirman di mana Tante TP
sudah menyuruh asistennya untuk mem- booking kamar hotel tersebut. Dia tidak
banyak bicara sepanjang jalan kecuali
menanyakan namaku dan rumahku.
Selebihnya justru aku yang bengong
karena sebentar lagi aku akan berkencan
dengan seorang artis yang waktu aku kecil dulu aku sering melihat wajahnya di
TV membawakan lagu anak-anak
kesukaanku. Akhirnya kami sampai juga, Tante TP
menyuruhku dan R untuk naik ke kamar
lebih dulu baru kemudian ia menyusul,
supaya orang tidak curiga katanya. Aku
dan R sampai di kamar langsung saja
bersorak kegirangan, “Gila gue ngentot ama TP, pasti anak-anak kagak bakalan
ada yang percaya nih.. beneran itu TP
yang sering di TV.” Tak lama kemudian Tante TP menyusul
masuk ke kamar, begitu sampai ia
langsung membuka kerudung dan
kacamatanya, kemudian ia menyuruhku
dan R mandi untuk membersihkan
badan. Setelah mandi, aku dan R keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan
handuk, agak malu juga sih dari balik
handuk itu menyembul batang
kemaluanku yang ternyata sudah lebih
tidak sabar dari tuannya untuk segera
merasakan liang sorga Tante TP. Tante TP hanya tersenyum saja, kemudian ia
menyuruh kami berdua untuk ikut
berbaring di sisinya, Aku di sebelah
kanan, R di sebelah kiri. Ia merangkul
kami berdua seperti anaknya, kemudian
ia mencium bibirku dengan lembut, aku pun membalasnya, R sepertinya iri dan
dengan tidak sabar ia meremas payudara
Tante TP. “Aduh sabar dikit dong Nak.. nanti juga
Tante kasih”, kata Tante TP sambil
tersenyum pada R dan kemudian ganti
mencium bibir R. Melihat hal itu aku jadi
bernafsu juga ingin meremas-remas
payudara Tante TP. Perlahan-lahan kubuka kancing bajunya satu persatu dan
nampaklah payudaranya yang montok
dan masih terlihat kencang dibungkus
bra warna pink yang menantang. Aku
remas pelan sambil jari-jariku berusaha
mencari puting susunya, Tante TP mengerang pelan pertanda ia merasakan
kenikmatan saat aku menyentuh puting
susunya dari balik BH-nya. “Ahh.. enak.. sebentarnya Tante buka aja
deh sekalian.” Tangan Tante TP meraih ke
punggungnya melepaskan hook BH-nya
dan sekaligus membuka kemejanya
sehingga sekarang ia hanya mengenakan
rok panjang berwarna hitam. Payudaranya montok dan menantang
ukurannya sekitar 36C, putih dan
mancung dengan puting yang berwarna
agak kecoklatan. Aku dan R jadi sangat
bernafsu, segera saja kami berdua
meremas payudara Tante TP satu orang satu. Tante TP mengerang dengan penuh
nafsu. “Ayo dong anak-anak hisap pentil
Tante”, katanya memohon. Tidak perlu
disuruh dua kali, aku dan R segera
mengisap puting susu Tante TP, menjilat,
menghisap, sambil sesekali kugigit pelan. “Ahh.. enak.. ohh.. agak keras gigitnya
dong.. achh..!” erangan Tante TP justru
semakin membuatku dan R bernafsu
mengisap dan mengigit puting Tante TP. Tante TP tidak diam saja, ia juga bereaksi
dengan menyingkapkan handuk yang
dipakai olehku dan R, kemudian
tangannya menggengam batang
kemaluan kami satu tangan satu. Tante TP
agak terkejut dengan ukuran batang kemaluanku yang 21 cm dengan
diameter 3,5 cm, batang kemaluan R
sedikit lebih pendek yaitu 19 cm dengan
diameter yang sama. Batang kemaluan
kami diremas dan dikocok pelan,
kemudian agak kencang, membuat kami menggelinjang dan semakin bernafsu
untuk menikmati payudara Tante TP.
“Aduh Tante jangan keras-keras nanti
keluar loh..!” kata R setengah bercanda.
“Jangan keluar dulu dong anak manis..
Tante belum apa-apa nih, lagipula jangan keluarin di sini, nanti aja di mulut Tante
biar Tante minum semua sperma kamu.”
Aku berpikir, jadi gosip itu benar bahwa
Tante TP gemar mengkonsumsi sperma
anak-anak muda untuk menjaga
keindahan kulit dan tubuhnya. Pantas saja, walaupun usianya sudah lebih 50
tahun, tubuhnya masih terlihat seperti
umur 25-an. Kemudian kami berganti posisi, Tante TP
bergerak ke arahku kemudian
membuang handukku ke lantai.
Kemudian Tante TP menggenggam
batang kemaluanku dan menjilati
ujungnya yang terlihat ada setetes precum akibat aku sudah terangsang
hebat. Ia kemudian memasukkan batang
kemaluanku ke dalam mulutnya mulai
dari kepalanya sampai ke ujung
pangkalnya sambil meremas-remas biji
pelirku. Dia sangat ahli sekali dalam urusan ini, nikmatnya sampai ke ubun-
ubun, dijilat, dikulum, bibirnya mengitari
sepanjang topi bajanya, sambil ujung
lidahnya menusuk-nusuk ke lubang kecil
di ujung batang kemaluanku berharap
masih ada precum yang tersisa. “Ahh.. Tante enak banget Tante.. ohh..!”
desahku menahan nikmat yang tiada
tara. Untung aku punya pengalaman
dengan tante-tante, kalau tidak.. pasti
sejak tadi aku sudah muncrat, saking
jagonya hisapan Tante TP. Sementara Tante TP asyik menikmati batang
kemaluanku, R tidak tinggal diam, dia
menyibakkan rok Tante TP sampai
terlihat celana dalamnya dan pelan-pelah
R menurunkan celana dalam hitam milik
Tante TP dan terlihatlah liang kewanitaan Tante TP yang ditumbuhi oleh bulu-bulu
yang lebat, pahanya terlihat mulus bagai
pualam, bukti wanita ini tahu bagaimana
merawat diri dengan baik. Tante TP kemudian membuka roknya dan
melemparnya ke lantai. Kini ia sudah
telanjang bulat, Aku dan R sungguh
sangat mengagumi kemulusan dan
kemolekan tubuh Tante TP, benar-benar
luar biasa untuk wanita seusianya. Tante TP kembali mengulum batang
kemaluanku dan R mengambil posisi di
bawah Tante TP, dan bersiap menikmati
liang kewanitaan Tante TP. Ia mengelus
paha Tante TP, kemudian menjilatinya
mulai dari lutut terus naik ke atas ke lubang surga Tante TP. R menyibakkan
bulu-bulu yang menutupinya kemudian
ia menjulurkan lidahnya mencari-cari
klitoris Tante TP, menjilatnya sambil
dijepit dengan kedua bibirnya. “Achh.. oohh.. anak nakall.. awww..!”
Tante TP mengerang-ngerang seperti
orang gila ketika klitorisnya diperlakukan
seperti itu. Cairan kewanitaannya tampak
meleleh membasahi bibir R yang
sepertinya justru menyukai rasanya. “Ohh.. aku nggak tahan deh anak-anak,
ayo kita mulai aja deh”, kata Tante TP
sambil membalikkan badannya dan
beralih menghampiri batang kemaluan R.
“Kamu masukin batang kemaluan kamu
sekarang ya A, aku hisap batang kemaluan teman kamu”, katanya
memberi komando, aku hanya
mengangguk setuju. Tante TP mengambil posisi doggy style, ia
menungging dan mengarahkan liang
kewanitaannya padaku. Aku
menyaksikan liang kewanitaannya yang
berwarna merah muda itu terbuka di
hadapanku dan tampak cairan kenikmatannya meleleh keluar. Aku
segera mengambil posisi, kupegang
batang kemaluanku dan mulai
mengarahkannya ke liang kewanitaan
Tante TP, pelan-pelan kumasukkan sambil
tanganku berpegang pada kedua bongkahan pantat Tante TP. Liang
kewanitaannya sempit dan agak susah
untuk batang kemaluanku yang besar
untuk masuk padahal cairan
kenikmatannya sudah mengalir deras. Pelan-pelan kumasukkan dan ketika
kepalanya berhasil masuk kuhentakkan
pantatku, akhirnya batang kemaluanku
berhasil masuk semuanya, Tante TP agak
terdorong ke depan dan berteriak ketika
batang kemaluanku masuk ke liang kewanitaannya. “Ahh.. enak A, terus
kocok kontol kamu di liang memek
Tante.. ahh!” teriaknya. Aku segera
memainkan gerakan maju mundur
mengeluarmasukkan batang kemaluanku
di liang kewanitaannya yang sempit dan dinding kemaluannya seperti memijit-
mijit batang kemaluanku, hisapan lembah
sorganya seperti memaksa spermaku
untuk keluar. Sementara Tante TP
mengulum batang kemaluan R, aku asyik
memainkan batang kemaluanku keluar masuk liang kewanitaan Tante TP. Kira-kira setengah jam kemudian aku
merasakan spermaku seperti hendak
berontak keluar, kupercepat gerakanku,
“Ohh.. Tante.. saya mau keluarr.. nihh..”
kataku pelan. Kurasakan badanku mulai
tegang dan batang kemaluanku seperti berdenyut dengan keras. Mendadak Tante
TP mencabut batang kemaluanku dari
liang kewanitaannya dan dengan
gerakan cepat ia memasukkan batang
kemaluanku ke dalam mulutnya.
Bersamaan dengan itu aku mencapai klimaks, “Aaahh.. aku mau keluar Tante..
ahh!” tulang-tulangku serasa rontok
semua, badanku serasa melayang saat
spermaku muncrat di dalam mulut Tante
TP. Batang kemaluanku berdenyut keras
sambil memuntahkan sperma dalam jumlah yang cukup banyak. Terlihat Tante
TP sibuk menelan seluruh spermaku, dia
tidak ingin ada yang tersisa. Batang
kemaluanku diurut-urut dengan kasar
berharap semua spermaku terkuras habis
dan pindah ke mulutnya. Aku langsung terkapar tidak berdaya,
tenagaku habis. Seiring dengan
dilepasnya mulut tante TP dari batang
kemaluanku, ia berbaring telentang
sambil membuka kakinya lebar-lebar.
“Sekarang giliran kamu nyumbang sperma buat Tante”, katanya sambil
tersenyum pada R. R begitu bernafsu
langsung menusukkan batang
kemaluannya ke liang kewanitaan Tante
TP, keluar masuk dengan lancar karena
tadi aku sudah membuka jalannya, ia mengangkat paha Tante TP dan
menaruhnya di bahunya agar batang
kemaluannya bisa masuk lebih dalam
lagi. “Ohh.. Tante.. Aku juga mau keluar
sebentar lagi..” katanya lirih. “Iya Nak..
ayo terusin aja..” Tiba-tiba Tante TP menyuruh R berhenti.
“Tunggu dulu ya.. kamu mau ngerasain
sesuatu yang baru nggak.” R kontan
menjawab mau, Tante TP menyuruh R
bergerak agak ke atas kemudian
menaruh batang kemaluannya di tengah- tengah payudaranya. Tante TP kemudian
menghimpit batang kemaluan R dengan
kedua payudaranya, dan menyuruh R
kembali melakukan gerakan mengocok-
ngocok. Kurang ajar si R dapat atraksi lain
tapi aku tidak. Gaya ini ternyata cukup ampuh terbukti baru 5 menit, R sudah
mengerang lagi, “Aduh.. Tante nggak
tahan nih.. mau keluar..” Tante TP
tersenyum, “Ayo keluarin aja..” Beberapa detik kemudian, R meregang
hebat dan langsung Tante TP
menggenggam batang kemaluannya dan
memasukkannya ke dalam mulutnya.
“Ahh.. Tante.. enakk.. ahh..” kulihat R
meregang nikmat saat spermanya dihisap habis oleh Tante TP. Dan sama seperti aku
ia pun terkulai lemas sesaat kemudian.
Tante TP tersenyum penuh kemenangan.
“Ternyata kalian anak muda berdua tidak
bisa mengalahkan seorang nenek seperti
saya”. Aku menjawab, “Terang aja nenek- neneknya penghisap tenaga anak muda.”
Kami pun tertawa bersama dan
beristirahat sejenak. Lalu kami menikmati
hidangan makanan dan minuman yang
dipesan Tante TP, dalam keadaan masih
telanjang bulat. “Terus terang aku masih pengen nih, tapi
nanti malam ada show di TMII, biasa..
acaranya Mbak TT, Tante belum orgasme
nih, kalian bantu Tante masturbasi ya”,
katanya. Kami setuju saja, lalu kami
membantu Tante TP dengan menjilati payudaranya satu orang satu sementara
ia mengocok liang kewanitaannya
dengan jari-jarinya. Setelah ia klimaks,
kami pun mandi bersama lalu memakai
pakaian kembali, lalu bergegas
meninggalkan hotel, tapi tidak ada satu pun diantara aku dan R yang mau french
kiss dengan Tante TP sebelum pulang,
kebayang dong berarti aku ikut
merasakan sperma si R dan si R juga
merasakan spermaku, nggak janji la
yaw.. Sebelum pulang Tante TP menyerahkan amplop yang isinya uang
dua juta rupiah, aku dan R langsung
berfoya-foya di plaza SNY makan dan
belanja sepuasnya.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada April 21, 2012 in Cerita Dewasa

 

Sekretaris Cantik Diperkosa

Fabiola, yang biasa dipanggil Febby,
seorang wanita cantik berusia 25 tahun.
Febby bekerja disalah satu perusahaan
pariwisata yang cukup terkenal sebagai
sekretaris. Tubuh Febby cukup sintal dan
berisi, didukung dengan sepasang gunung kembar berukuran 36B serta
wajah yang cantik, membuat setiap pria
pasti meliriknya, setiap kali ia berjalan. Seperti biasa setiap hari Febby pergi ke
kantornya di bilangan Roxi Mas, yang
tanpa disadarinya ia dibuntuti
sekelompok pemuda iseng yang hendak
menculiknya. Sudah beberapa hari para pemuda itu
mempelajari kebiasaan Febby pergi dan
pulang kantor. Dan hari itu mereka sudah
menyusun rencana yang matang untuk
menculik Febby. Tiba-tiba dijalan yang
sepi taksi yang ditumpangi Febby dicegat secara tiba-tiba, dan sambil mengancam
sopir taksinya, mereka langsung
menyeret Febby masuk kedalam mobil
mereka, dan tancap gas keras-keras,
hingga akhirnya mobil mereka larikan
kearah pinggir kota, dimana teman- teman mereka yang lain sudah
menunggu disebuah rumah yang sudah
dipersiapkan untuk ‘mengerjai’ Febby. Didalam mobil Febby diapit oleh dua
orang pemuda berkulit hitam, sedangkan
yang dua lagi duduk dikursi depan.
Febby sudah gemetaran karena takut,
dan benar-benar tidak berdaya ketika
dua orang yang mengapitnya memegang-megang tubuhnya yang
sintal dan putih itu. Dua pasang tangan
hitam bergentayangan disekujur
tubuhnya, yang kebetulan pada hati itu
Febby mengenakan rok lebar sebatas
lutut, dengan atasan blouse putih krem yang agak tipis, hingga bra Wacoal hitam
yang dikenakannya lumayan terlihat jelas
dari balik blouse tersebut. Dengan leluasa disepanjang jalan tangan-
tangan jahil tertersebut bergentayangan
dibalik rok Febby sambil meremas-remas
paha putih mulus tersebut, hingga
akhirnya mereka tiba dirumah tersebut,
dan mobil langsung dimasukkan kedalam garasi dan rolling doorpun langsung
ditutup rapat-rapat. Febby yang sudah
terikat tangan dan kakinya, serta mulut
tersumpal dan mata ditutup saputangan
digendong masuk kedalam ruang tamu,
dan didudukkan disofa yang cukup lebar. Ikatan tangan, kaki, mulut dan mata
Febby dibuka, dan alangkah terkejutnya
ia sekitar tiga puluh pemuda yang hanya
memakai cawat memandanginya dengan
penuh nafsu seks. Tanpa menunggu lebih
lama lagi, Febby pun mulai dikerjai oleh mereka. Febby yang sudah tidak berdaya
itu hanya bisa duduk bersandar di sofa
dengan lemas ketika salah seorang lelaki
mulai membuka kancing blouse-nya satu
persatu hingga blouse putih tersebut
dicopot dari tubuh sintalnya itu. Beberapa orang lagi berusaha membuka
rok merah Febby hingga Febby pun
akhirnya hanya memakai bra hitam serta
celana dalam nylon berwarna hijau
muda, dan membuat dirinya terlihat
makin menggairahkan, dan spontan saja para pemuda berandal tersebut langsung
terlihat ereksi dengan kerasnya. Celana
dalam Febby pun langsung buru-buru
dilepas dan menjadi rebutan untuk
mereka. Febby dipaksa duduk dengan
mengangkang lebar-lebar, hingga
vagina-nya yang ditumbuhi rambut-
rambut halus itu terlihat dengan jelas, dan
mereka pun bergantian menjilati serta
menghisap-hisap bibir vagina Febby dengan nafsunya. Kepala mereka terlihat
tenggelam diantara kedua pangkal paha
Febby, sementara yang lainnya
bergantian meremas-remas kedua
gunung kembar Febby yang montok itu.
Kop BH Febby diturunkan ke bawah hingga kedua gunung kembarnya
muncul bergelayutan dengan indahnya,
dan menjadi bulan-bulanan pemuas nafsu
untuk mereka. Tidak puas dengan hanya meremas-
remas saja, beberapa orang mulai
mencoba untuk mengisap-ngisap puting
susu gunung kembar Febby yang ranum
itu, hingga akhirnya Febby pun dipaksa
oral seks untuk mereka. Bergantian mereka memaksa Febby untuk
mengulum-ngulum batang penis mereka
keluar masuk mulutnya. Kepala Febby
dipegangi dari arah belakang hingga
tidak bisa bergerak, sementara itu yang
lain bergantian mengeluar-masukkan batang penis mereka dimulut Febby yang
seksi itu hingga mentok kepangkal paha
mereka. Batang penis yang rata-rata panjangnya
17 senti itu terlihat masuk semua kedalam
mulut Febby, hingga mencapai
kerongkongannya. Tak ketinggalan
Febby pun dipaksa untuk ‘mencicipi’
buah zakar mereka secara bergantian. Sepasang buah sakar tampak terlihat
dikulum Febby hingga masuk semua
kedalam mulutnya yang mungil itu.
Wajah Febby yang cantik itu bergantian
ditekan-tekan diselangkangan para
pemuda berandal tersebut hingga buah sakar mereka masuk semua kedalam
mulutnya. Setelah puas dengan acara ‘pemanasan’
tersebut Febby pun dipaksa tiduran diatas
kanvas diruang tamu tersebut dan
dengan paha yang mengangkang lebar,
batang penispun mulai keluar masuk
vagina Febby yang masih ‘rapat’ itu, mereka dengan tidak sabarnya
bergantian menjajal vagina Febby dengan
batang penis mereka yang rata-rata
panjang dan besar itu. Bagi yang belum
kebagian jatah terpaksa memainkan-
mainkan penisnya diwajah dan mulut Febby. Beberapa orang dengan nafsunya
memukul-mukulkan batang penisnya di
wajah Febby sambil mendesah-desah
dengan nafsu. Bosan dengan gaya
tiduran, Febby dipaksa duduk di sofa lagi
dengan paha mengangkang lebar dan kembali ‘di embat’ bergantian, sementara
bibir Febby tetap sibuk dipaksa
mengulum batang penis yang tampak
mengkilat karena air liur Febby yang
menempel di batang penis tersebut. Sementara para pemuda yang mendapat
giliran mengocok vagina Febby tampak
sangat bersemangat sekali hingga bunyi
batang penis yang keluar masuk vagina
Febby terdengar sangat jelas. Hampir dua
jam sudah Febby “dikerjain” dengan intensif oleh puluhan pemuda tersebut,
hingga akhirnya satu persatu mulai
berejakulasi. Tiga puluh pemuda
mengantri Febby untuk berejakulasi
diwajah Febby yang cantik itu. Dimulai oleh empat orang berdiri
mengelilingi Febby dengan batang penis
menempel disekitar wajah Febby yang
cantik. Sementara seorang lagi mengocok
vagina Febby dengan nafsunya, hingga
akhirnya ia tak tahan lagi dan mencabut batang penisnya dari vagina Febby,
dan…. croott…. crootttt… croooottttt!!! air
mani muncrat mengenai sekujur wajah
Febby, melihat hal tersebut yang lain pun
tak mau ketinggalan dan bergantian
mengocok-ngocok batang penisnya cepat-cepat diwajah dan mulut Febby,
hingga berakhir dengan semprotan air
mani diwajahnya. Bahkan tak sedikit
mengeluarkan airmani nya didalam
mulut Febby, lalu memaksa Febby untuk
menelannya. Sekitar dua puluh menit, wajah Febby
dihujani ‘air mani’ yang kental itu, hingga
Febby terlihat basah kuyub oleh sperma
mulai dari rambut hingga gunung
kembarnya terlihat mengkilat oleh
basahnya sperma puluhan pemuda berandal tersebut. Part II Jam menunjukkan pukul jam satu siang,
dan Febby pun baru selesai ‘dikerjain’
oleh mereka, dan terlihat lemas tak
berdaya dengan muka yang masih
belepotan sperma. Tiga orang pemuda
membawa Febby kedalam kamar mandi yang terlihat sangat mewah, dan
memandikan Febby dengan air hangat
serta sabun cair yang sangat wangi.
Febby disuruh tiduran sambil direndam
air hangat, sementara ketiga pemuda
tersebut bergantian menyabuni tubuh Febby yang putih sintal itu dengan
bernafsu, sambil sesekali meremas-remas
selangkangan dan gunung kembar Febby
yang terasa licin oleh sabun tersebut.
Hingga akhirnya ketiga pemuda tersebut
sudah tidak tahan lagi dan Febby pun diperkosa lagi didalam kamar mandi itu. Mereka mengeluarkan Febby dari bak
rendam, dan dibawah pancuran air
hangat Febby dipaksa nungging, dan dua
pemuda bergantian menyetubuhi Febby
dari arah belakang, sedangkan yang
satunya mengeluarmasukkan batang penisnya di mulut Febby, sambil
memegangi rambut Febby hingga kepala
Febby tidak dapat bergerak. Setengah
jam sudah Febby ‘diobok-obok’ didalam
kamar mandi, dan diakhiri dengan
meyemprotkan air mani masing-masing didalam mulut Febby, dan tiga porsi air
mani itu dalam sekejap sudah pindah
kedalam mulut Febby, dan sisa-sisa
sperma masih terlihat berceceran
disekitar wajah Febby yang putih itu. Part III Selesai dimandikan, Febby kembali
didandani hingga terlihat sangat cantik.
Bra hitamnya yang berukuran 36B itu
kembali dipasangkan. Celana dalam nylon
Febby sudah raib jadi rebutan, hingga
vagina Febby dibiarkan terlihat, sementara beberapa pemuda berandal itu
sibuk menjepretkan kamera digitalnya
kearah Febby. Febby dipaksa berpose
dengan berbagai gaya yang sensual,
mulai dari adegan membuka bra nya
sendiri hingga duduk mengangkang sambil memasukkan batangan ketimun
kedalam vaginanya. Puas mengambil berbagai pose Febby,
seorang pemuda mengambil dua gelas
minuman dari dalam kulkas dan
sepotong hamburger untuk Febby. Dan
betapa terkejutnya Febby ketika tahu
bahwa dua gelas minuman tersebut adalah sperma yang sudah disimpan
berhari-hari di dalam kulkas. Seorang
pemuda lagi mengambil suntikan besar
tanpa jarum. Febby dipaksa membuka
mulut lebar-lebar, sementara salah
seorang menyedot sperma dalam gelas tersebut dengan suntikan besar itu,
kemudian menyuntikkannya kedalam
mulut Febby, hingga tertelan langsung
kedalam tenggorokkannya. Mereka
dengan brutalnya bergantian
menyuntikkan ‘air mani basi’ itu ke mulut Febby hingga habis satu gelas penuh.
Masih sisa satu gelas lagi, dan hamburger
untuk Febby pun diolesi penuh dengan
sperma tersebut, dan Febby pun dipaksa
makan hingga habis. Sisa sperma
sebanyak setengah gelas terpaksa disedot Febby dengan sedotan hingga tandas tak
bersisa. Selesai ‘memberi makan’ Febby, mereka
kembali mengantri Febby. Namun kali ini
Febby tidak disetubuhi, mereka hanya
memaksa Febby mengulum-ngulum
batang penis mereka dimulut Febby,
serta mengocok-ngocoknya dengan kedua tangan Febby yang lentik itu. Tiga
puluh batang penis kembali bergantian
dikulum-kulum Febby, sementara yang
lainnya memaksa Febby menggenggam
batang penisnya dengan kedua
tangannya, yang lainnya lagi sibuk memain-mainkan alat kelaminnya
diwajah dan rambut Febby. Hingga
akhirnya Febby kembali dihujani puluhan
porsi sperma segar di wajah dan
mulutnya. Pertama kali sperma muncrat
dari lubang penis tepat didepan wajah Febby hinggga tepat mengenai dahi
hingga bibir Febby, yang lainnya pun ikut
menyusul hingga puluhan semprotan
sperma berhamburan diseluruh wajah
Febby yang cantik itu. Sementara itu dua
orang pemuda dari kiri dan kanan Febby menyendoki air mani yang bertetesan di
wajah Febby, lalu menyuapinya hingga
mereka puas.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada April 18, 2012 in Cerita Dewasa

 

Tag: ,

Cerita seks – Memory Rumah kontrakan

Hai para netter, cerita ini berdasar kisah
nyata seorang teman kami. Saya punya
teman sebut saja dia Edy asal kota P,
Sumatera Selatan. Kami kuliah di kota J.
Pengalaman ini terjadi saat kami
mengawali kuliah dan bersama dalam satu kontrakan. Suka duka kami lalui
bersama sampai dalam hal pacaran pun
kami saling membantu dalam berbagai
hal. Hingga suatu waktu Edi
mendapatkan seorang pujaan hati sebut
saja Dewi, sering Dewi diantar jemput kalau kuliah karena mereka satu kampus
dan kebetulan kontrakan Edi berdekatan
dengan kost tempat tinggal Dewi. Mereka
berdua bagaikan Romeo dan Juliet.
Dimana ada Edi di situ ada Dewi.
Hubungan mereka pun semakin akrab dan intim. Suatu ketika, malam Minggu tepatnya
Dewi minta diantar ke tempat temannya
yang sedang merayakan ulang tahun.
Acara sangat meriah sekali, hingga jam
24:00 acara masih berlangsung. Tetapi
Dewi mengajak pulang, karena waktu yang sudah kelewat malam. Sebenarnya
Edi pun menolak karena begitu
meriahnya pesta ulang tahun tersebut.
Dan akhirnya Edi pun menyanggupi
untuk segera mengantar pulang Dewi,
malam semakin larut dan udara dingin pun menyelimuti dan menghembus
sepoi-sepoi dalam deru sepeda motor Edi,
mereka sempat berhenti sejenak di
pompa bensin untuk mengisi bensin.
Sesampai di kost tempat Dewi ternyata
pintu gerbang sudah dikunci, padahal Dewi sudah pesan kepada pembantu agar
pintu jangan dikunci, soalnya Dewi
pulangnya ke kost terlambat. Dan
akhirnya Edi pun kasih solusi.
“Dewi.. gimana kalau tidur saja di
kontrakanku,” kata Edi. Dewi terdiam sejenak.
“Gimana ya.. aku kan enggak enak sama
temen kamu Ed,” jawab Dewi.
“Itu bisa diatur, nanti yang penting kamu
mau tidak, dari pada tidur di jalan,” kata
Edi sambil senyum. “Ayolah keburu dilihat orang kan nggak
enak di jalanan seperti ini Nan,” kata Edi. Dewi pun menyetujinya, mereka pun
bergegas menuju kontrakan Edi.
Sesampainya di rumah kontrakan
tampak sunyi dan hanya hembusan angin
malam karena teman-teman Edi pada
malam mingguan dan tidak ada yang pulang di rumah kontrakan.
“Ayo masuk, kok diam saja,” kata Edi
menyapa Dewi.
Dewi pun terhentak sedikit terkejut.
“Teman-temanmu dimana Ed?” tanya
Dewi. “Mereka kalau malam Minggu jarang
tidur di rumah,” jawab Edi.
“Ooo gitu,” sergah Dewi. Akhirnya Dewi dipersilakan istirahat di
kamar Edi.
“Nan, selamat bobok ya..” kata Edi.
Dewi pun tampak kelelahan dan tertidur
pulas. Setengah jam kemudian Edi
kembali ke kamarnya untuk melihat Dewi dan sengaja kunci pintu kamar tidak
diberikan kepada Dewi, tapi betapa
kagetnya Edy melihat Dewi tidur hanya
menggunakan BH dan celana dalam,
karena saat itu posisi tubuh Dewi miring
hingga selimut yang menutupi tubuhnya bagian punggung tersingkap. Entah setan mana yang menyusup di
benak Edy. Edy pun langsung mendekat
ke arah Dewi, dengan tenangnya Edy
langsung mencium bibir Dewi. Dewi pun
terbangun.
“Apa-apaan kamu Ed?” sergah Dewi sambil menutupi tubuhnya dengan
selimut.
Tanpa pikir panjang Edy langsung
menarik selimut dan Edi pun langsung
menindih Dewi yang hanya mengenakan
pakaian dalam saja. Dewi meronta-ronta dan Edy pun tidak menggubris, ia
berusaha melepas BH dan CD-nya. Tenaga
Edi lebih kuat hingga akhirnya BH dan CD
Dewi terlepas dengan paksa oleh Edi.
Nampak jelas buah dada Dewi dan bulu
lembut kemaluannya. Dewi kelelahan tanpa daya dan hanya menangis
memohon kepada Edy. Edi tetap
melakukan aksinya dengan meraba dan
mencium semua tubuh Dewi tanpa
sedikitpun terlewatkan. Dewi terus
memohon, Edi pun tak menggubrisnya. Dan setelah puas menciumi vagina Dewi,
Edi melakukan aksi lebih brutal. Ia
mengangkat kedua kaki Dewi di atas
perut dan dengan cepat Edy mencoba
memasukkan penisnya ke dalam vagina
Dewi. Dewi menjerit tertahan dan hanya isak
tangis yang terdengar, “Kumohon Ed,
hentikan!” seru Dewi dalam isak
tangisnya.
Dan “Bleess, bleess,” penis Edi masuk
dalam vagina Dewi walaupun di awal masuknya cukup sulit.
Edy pun mulai menggoyang pinggulnya
hingga penisnya terkocok di dalam
vagina Dewi. Darah segar pun keluar dari
liang jinak Dewi, ia pun terus memohon.
“Akh.. akh.. hentikan Ed..!” desah Dewi. Tampak sekali wajah Dewi menunjukkan
kelelahan, dan sekarang hanya terdengar
erangan kenikmatan di antara kedua
insan ini.
“Ah.. ah.. ah..” Edi pun terus mengocok
penisnya dalam vagina Dewi dan beberapa saat kemudian terasa Edi akan
mengeluarkan sperma, ia pun langsung
mencabut dan mengocoknya dari luar
dan.. “Croot.. Croot.. Serr..” sperma Edi
muncrat tepat di bibir Dewi dan sekitar
wajah. Mereka kelelahan dan akhirnya tertidur. Hari menjelang pagi saat itu jam
menunjukkan pukul 07:30 pagi, Dewi
terbangun bersamaan dengan itu Edi juga
terbangun. Edi melihat Dewi yang sedang
mengenakan BH dan CD.
“Antar aku pulang sekarang Ed..” kata Dewi.
“Iya.. aku cuci muku dulu,” jawab Edi.
Edi pun mengantar Dewi pulang ke
kostnya. Selang beberapa bulan hubungan mereka
mulai retak, ada selentingan kabar kalau
Edi mendekati cewek lain sebut saja Sinta,
dan akhirnya Edi dan Dewi resmi
bubaran. Tapi reaksi Edi tidak sampai di
situ, justru setelah putus dengan Dewi ia gencar mendekati Sinta. Dengan berbagai
cara dan upaya akhirnya Edi berhasil
mendapatkan Sinta dan mereka resmi
jadian. Sama seperti yang dilakukannya
dulu, ia sering antar jemput kuliah Sinta
dan kalaupun jemput Sinta biasanya tidak langsung pulang melainkan jalan-jalan
kemana saja sambil cari makan tentunya.
Sering pula Sinta diajak ke tempat
kontrakan Edi lebih sering dibandingkan
Dewi pacar yang dulu. Pagi itu kuliah jam ke-2 mereka satu
ruangan tapi dosen tidak hadir jadi
kosong, mereka berdua bergegas ke
tempat Edi, sampai di kontrakan rumah
sepi soalnya teman-teman ada yang ke
kampus dan ada juga yang masih tidur. Mereka berdua langsung masuk kamar
Edi, Sinta tiduran di ranjang sambil
mendengarkan musik. Edi masuk
membawakan kopi susu dan tanpa basa
basi Edi membelai rambut Sinta dan Sinta
pun bersandar dalam dekapan Edi. Edi langsung mencium bibir Sinta dan
tangannya mulai masuk dalam baju street
Sinta dan meremas-remas payudara.
“Ed.. jangan dong..” desah Sinta.
“Enggak apa-apa, kan cuma dikit,” kata
Edi, tapi Edi terus menyerang, ia melepas seluruh pakaian Sinta dan Sinta pun
hanya diam tanpa perlawanan, dan jelas
sudah seluruh tubuh Sinta yang kuning
langsat dan payudara lumayan besar.
Mereka mulai bergelut mencium dan
meremas satu sama lain. “Sin, kulum dong kontolku!” kata Edi.
Dibimbingnya kepala Sinta menuju
kemaluan Edi dan, “Em.. kemaluanmu
besar juga Ed,” kata Sinta.
Edi hanya diam menikmati hisapan mulut
Sinta. Edi pun langsung saja menjilati dan menghisap vagina Sinta hingga mereka
melakukan posisi 69.
“Ugh.. Ugh..” desah Sinta.
Kemudian Edi duduk dengan kaki
dijulurkan, ia minta Sinta duduk di
atasnya layaknya seorang anak kecil. Tepat penis Edi masuk dalam vagina
Sinta.
“Pelan-pelan Ed..” kata Sinta mendesah.
Sinta mulai menaik-turunkan pinggulnya
dan “Bleess, bleess..” kemaluan Edi masuk
seluruhnya dalam vagina Sinta. “Ah.. ah.. ah..” desah Sinta sambil
menggoyangkan pinggulnya. Edi pun merespon gerakan tersebut. Dan
mereka melakukan gerakan yang
seirama, “Ah.. ah.. ah..” desah Sinta
semakin keras.
“Aku nggak kuat Ed..” Edi hanya diam
menikmati gerakan-gerakan yang dimainkan Sinta.
Dan akhirnya, “Ugh.. ugh.. ugh.. ahh..”
desah Sinta yang tubuhnya mengelenjang
sambil memeluk tubuh Edi.
Ternyata Sinta mencapai puncak
kenikmatan. Dan Edi membalikkan tubuh Sinta tepat di bawah badannya, Edi mulai
mengocok penisnya yang belum lepas
dari vagina Sinta, dan “Ahk..” desah Edi
dan beberapa saat kemudian Edi
mencabut penisnya dan meletakkan di
bibir Sinta dan “Croot.. Croot.. Serr..” sperma Edi muncrat tepat di seluruh
wajah Sinta. Mereka pun akhirnya
berpelukan setelah mencapai kepuasan. Semenjak kejadian itu mereka sering
melakukannya di kontrakan Edi. Entah
siang atau malam karena Sinta sering
menginap dan tidur satu ranjang bersama
Edi. Hubungan mereka semakin intim dan
hanya bertahan selama 8 bulan. Hal itu disebabkan Dewi mantan pacar yang dulu
mengajak membina hubungan kembali.
Edi akhirnya pisah dengan Sinta dan
kembali lagi dengan Dewi. Suatu sore Dewi datang ke kontrakan Edi,
Dewi langsung masuk menunggu di
kamar Edi karena diminta teman-teman
Edi.
“Edi baru mandi” kata salah seorang
temannya. “Ooo,” jawab Sinta, dan beberapa saat
kemudian Edi masuk dan hanya
mengenakan handuk dilingkarkan di
pinggulnya.
“Sama siapa Wii..” kata Edi.
“Sendiri,” jawab Dewi sambil mendekat ke arah Edi.
Edi tanggap dengan situasi itu, ia
langsung mencium bibir Dewi dan
melepas baju street warna biru muda
yang dipakai Dewi. Edi langsung
mencopot BH dan menghisap puting susu Dewi.
“Ah.. ah..” desah Dewi.
Tangan Dewi langsung meremas penis Edi
yang saat itu handuknya telah jatuh ke
lantai. Edi mulai melapas celana panjang
Dewi serta CD-nya. Mereka bergumul di atas ranjang.
“Ah.. ah..” desah Dewi yang semakin
merasakan kenikmatan.
Edi mengangkat kaki kiri Dewi kemudian
dengan sergapnya Edi mulai
memasukkan penisnya ke dalam vagina Dewi sambil kaki kiri Dewi tetap
terangkat.
“Bleess, bleess..” kemaluan Edi masuk
seluruhnya dalam vagina, Edi suka
dengan posisi seperti itu karena vagina
terasa sempit. Edi mulai menggerakkan kemaluannya
keluar-masuk.
“Ah.. ah.. ah..” erangan kenikmatan
keluar dari bibir Dewi, Edi pun merasakan
kenikmatan pula.
“Ugh.. ugh..” desah Edi pelan. Beberapa saat kemudian Edi melepas penisnya,
Dewi mulai menghisap dan menjilati
penis Edi sambil dikocok dengan jari-
jemari lembut Dewi.
“Kulum dong Wi..” desah Edi. Dewi turuti
saja apa kemauan Edi. Kemudian Edi kembali memasukkan
penisnya dalam vagina Dewi, “Bless..”
langsung masuk dan Dewi sempat
menjerit tertahan karena menahan sakit.
Kemudian Edi mulai menggerakkan
penisnya, “Bleess.. bleess..” kemaluan Edi keluar-masuk.
“Ah.. ah.. ugh..” tubuh Dewi mulai
bergetar dan mengelejang.
“Aku keluar Ed..” desah Dewi tapi Edi
masih mengocok penisnya dalam vagina
Dewi dan Dewi hanya menahan. Kedua tangannya mencengkeram kuat
bibir tempat tidur sambil menahan
gerakan yang Edi lakukan. Edi mulai
bergetar, “Ugh..” desahnya.
“Di luar apa di dalam Wi..” kata Edi pelan.
Dewi hanya diam dan “Croot.. croot.. serr..” sperma Edi keluar di dalam vagina
Dewi.
Edi pun rebah sambil memeluk tubuh
Dewi yang hangat dan lunglai. Mereka tersenyum puas.
“Kamu pinter dech sekarang Wi..” kata
Edi.
“Pinter apa’an,” jawabnya.
“Pinter mainnya, belum lagi bulu vagina
kamu tambah lebat.” Dewi hanya tersenyum saja sambil
tangannya membelai batang kemaluan
Edi. Hari sudah menjelang pukul tujuh
malam dan akhirnya mereka berpakaian
dan keluar untuk makan malam.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada April 18, 2012 in Cerita Dewasa

 

Tag: , ,

Cerita lesbi – Kenikmatan Sesama Hawa

Sebenarnya aku malu menceritakan kejadian yang sampai sekarang masih sering kulakukan ini. Aku adalah seorang ibu rumah tangga dan aku juga punya status sebagai janda. Kehidupan aku cukup baik, karena peninggalan deposito dari suami dan kadang2 ada bisnis jual beli perhiasan dengan teman. Anak aku
ada 2 orang dan mereka semua sekolah di Jogya, karena dekat dengan kakek neneknya. Dirumah aku cuma ditemani
oleh Surti (pembantu) dan Remi, anjing herder peninggalan suami juga. Suatu hari teman jual beli perhiasan aku yang bernama Tina datang kerumah. Teman bisnis aku banyak, dengan Tina aku baru kenal kira2 1 bulan yang lalu. Usia wanita itu sama dengan aku dan punya anak satu, wajahnya cukup cantik ditambah dengan make up yang pandai, dan Tina tahu cara merawat tubuh dengan baik, aku mendengar dari teman2 bahwa dia sangat pandai dalam berbisnis perhiasan, apalagi ditambah kepandaiannya berbicara merayu pembeli. Tina datang kerumahku hari itu untuk menitipkan perhiasan yang hendak dijual, biasanya kami suka bertemu direstoran padang langganannya, tumben hari ini dia datang mengunjungiku. “Halooo Rin…….apa khabar nih???” aku tersenyum senang sambil membalas salam Tina.”Tumben, kok bisa nyasar kesini Tin?””Kangen aku tidak ketemu kamu 2 minggu””Ahhhh….bisa aja….ayo masuk, maaf ya rumah aku berantakan dan kecil” aku mempersilahkan Tina masuk keruang tamu.”Ah rumah kamu bagus kok, dilingkungan elite lagi” Komentar Tina sambil duduk disofa.”Seperti yg tadi kukatakan di telepon, aku ingin menitipkan perhiasan ini untuk kamu jualin, soalnya lusa aku akan keluar kota dengan suamiku” Kulihat Tina mengeluarkan kantong beludru hitam dari dalam tasnya.”Lebih baik dikamar saja Tin, soalnya si Surti ada di dapur” Ajak aku. aku selalu berhati2 dalam berbisnis di bidang ini. Tina mengikuti masuk kekamar aku. Lalu kami duduk diatas ranjang dan Tina mengeluarkan semua isi kantung beludru itu. Perhiasan bertahtakan berlian terpampang diatas ranjang, berkilauan. aku kuatir juga melihat perhiasan banyak begitu, aku mengambil salah satu kalung yang paling indah. “Waah indah sekali kalung ini” Kataku, lalu aku mencoba memasangnya dileherku.”Sini aku bantu” Tina beranjak kebelakangku, lalu tangannya berusaha mengaitkan kunci kalung itu.”Leher kamu bagus sekali Rin” Ujar Tina, kurasakan leherku dibelainya, bulu romaku jadi berdiri, perasaanku jadi nggak enak. Lalu tangan Tina membelai pipiku, sementara tangannya yang lain menelusuri leherku terus merayap menuju dadaku. “Tin….jangan gitu ah…..aku jadi geli nih” Tapi Tina tidak menjawab. Tiba2 aku merasakan pipi kiriku panas, aku menoleh, belum sempat aku sadar apa yang membuat panas pipiku, bibir Tina sudah menyambar bibirku. Aku gelagapan dan aku berontak berusaha menghindar, tapi Tina seperti kesetanan,
ia terus menekan mulutnya ke mulutku. Dan kurasakan buah dadaku diremas olehnya. Aku benar2 terkejut sekali dengan perlakuan seperti itu, aku mencoba mendorongnya, tapi tubuhnya sudah menindih tubuhku. Aku menendang dan Tina melepaskan pelukannya. Aku berusaha membetulkan letak buah dadaku yang tadi sampai keluar dari BH. Tina memandangku dengan mata yang redup. “Sori Rin…..sejak kenal denganmu aku merasa kamu sangat merangsang sekali” Aku terdiam sambil menahan amarah.”Kok kamu gitu sih? Kan kamu sudah punya suami??? Teganya kamu….” Sergahku sambil memelototinya. Tina memandangku dengan pandangan yang makin redup.”Aku lebih bernafsu dengan wanita sepertimu, lagi pula suamiku tidak pernah bisa memuaskanku, belum apa2 sudah loyo sehingga selama perkawinan aku belum pernah merasakan kepuasan””Tapi dengan modal kecantikanmu kan kamu bisa cari laki2 lain utk memuaskanmu!””Aku tidak merasakan kenikmatan seperti kalau dengan wanita, aku ingin kamu juga mencoba merasakannya Rin” Jawab Tina sambil mendekatiku. Aku beringsut mundur kekepala ranjang.”Tapi aku tidak pernah lesbian begitu” Hatiku berdebar2 memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi bila Tina menyergapku seperti tadi.”Jangan takut Rin, aku tidak akan memaksamu, cuma aku ingin kamu mengijinkanku menciummu sekali saja, tolonglah…..” Hatiku makin tak keruan, sudah lama sekali aku tidak pernah dijamah oleh laki2 apalagi perempuan. Mendengar kata cium saja, aku sudah merasa tidak keruan. Lagi pula apa salahnya dicium Tina, apalagi mulutnya tidak bau. Aku tahu hati kecilku bersikap pasrah.”Baiklah…..tapi sekali saja, dan jangan macam2 ya” Jawabku. Tina lalu mendekatiku lalu tangannya merangkul
leherku, lalu bibirnya mencium mulutku dengan lembut, perasaanku tak keruan merasakan ciuman itu, aku memberanikan diri membalas ciumanya. Lalu kurasakan lidah Tina menjalar masuk
kedalam mulutku mencari2 lidahku. Yang kurasakan kemudian adalah perasaan aneh dan gamang yang tidak dapat dilukiskan. Kurasakan hembusan napas Tina yang panas dipipiku dan lumatan mulutnya yang begitu merangsang birahi. Hampir 3 menit kami berciuman dan aku tahu kemaluanku sudah basah karena nafsu. Sekarang aku benar2 pasrah waktu Tina menjilati leherku dengan lembut, tangannya melepaskan tali daster dipundakku, lalu dengan lembut buah dadaku yang masih tertuutp bh diremas2.”Tiin…..jangan ah….malu Tin” Aku berusaha mencegah setengah hati. Dan Tina tahu aku tidak benar2 ingin menghentikan aktivitasnya.Aku merasakan tangan kirinya masuk kedalam celana dalamku, dan jari2nya memainkan klitorisku, kadang2 dicubit2 kecil, benar2 sensasi yang hebat sekali. Tanpa kusadari aku juga sedang meremas2 pantat Tina. Tubuhnya menindih tubuhku dan kurasakan buah dadanya yang berukuran sedang menekan buah dadaku yang memang dari dulu tergolong besar. Tiba2 aku baru sadar Tina sudah setengah telanjang, cuma memakai cd saja, sedangkan aku benar2 bugil total. Tubuh Tina berbau harum, entah parfum apa yang dipakainya, tapi wangi tubuhnya menambah getaran berahiku. Tanganku menjalar melepaskan celana dalamnya, lalu kulihat sekilas kemaluannya berkilat tanpa sehelai bulu, rupanya bulunya dicukur rutin. Jari2ku masuk kedalam lubang kemaluannya lalu kutusuk2 dengan lembut. Tina merintih keenakan, tangannya makin dalam beroperasi dilubang kemaluanku. Aku juga merintih keenakan. Aku tidak tahu ternyata wanita dengan wanita dapat saling memuaskan dalam urusan sex. Sekarang Tina sedang menghisap puting buah dadaku, sementara tangannya yang lain terus bermain di klitorisku. Aku merasakan Tina mulai menciumi perutku,
lalu memainkan lidahnya di pusarku, aku kegelian, tak lama kemudian lidahnya sudah menjilati kemaluanku.”Tin jangan disitu ah……kan jorok” Bisikku sambil berusaha mendorong kepalanya. Tapi Tina malah makin merenggangkan pahaku dan klitorisku dhisap2 olehnya, kadang2 lidahnya masuk keluar dalam lubang kemaluanku. Aku sudah tak dapat berpikir sehat lagi, yang kurasakan cuma kenikmatan yang tiada taranya. Tahu2
didepan wajahku sudah ada kemaluan Tina, kedua lututnya ada dikiri kanan kepalaku. Tina tidak menurunkan pinggulnya, jadi aku dapat dengan jelas melihat kemaluanya yang botak. Bibir kemaluannya berwarna merah kehitaman dan kulihat klitorisnya cukup besar menonjol bertengger diatas bibir kemaluannya. Aku menyibak bibir kemaluan Tina, dan kulihat kemaluannya
basah sekali oleh lendir yang bening, aku lalu menusuk2 kemaluan itu dengan telunjuk, jari tengah dan jari manisku, kadang2 dengan kelingking juga. Lubang kemaluan Tina sudah agak kendur, mungkin punyaku juga sama. Aku ragu2
mejilat kemaluannya, soalnya aku belum pernah menjilat kemaluan sesama wanita. Tina terus mengeluar masukkan lidahnya dilubang kemaluanku, aku sudah tak tahan lagi. “Tin….aku hendak keluarrrr…..” Tubuhku bergetar hebat, kurasakan lidah Tina masuk makin dalam kedalam kemaluanku, dan aku merasakan orgasme yang hebat sekali. Sepertinya ini
yang paling enak semenjak aku menikah. Tina masih terus menjilati lendirku, aku juga tak perduli lagi, kuraih pinggul Tina lalu ketarik sampai wajahku terbenam disela2 pahanya. Tercium bau yang sama dengan bau kemaluanku. Kujilat2 klitorisnya lalu kumasukkan juga lidahku kedalam lubang kemaluannya, kurasakan lendir asin masuk kedalam mulutku. Aku tidak perduli lagi. Lalu kurasakan ada yang geli di lubang pantatku. “Aduh Tin jangan disitu dong…..jorok kan?” Kurasakan lubang pantatku berkerut ketika lidah Tina berusaha menerobos masuk. Kemudian aku tak perduli juga, karena aku merasakan kenikmatan yang sama, aku juga melakukan hal yang sama dengan Tina. Kutusuk2 lubang pantatnya dengan lidahku, lubang yang kehitam2an itu jadi becek oleh air liurku dan lendir kemaluannya. Tiba2 Tina seperti tersentak lalu beku…….mulutnya mengeluarkan jeritan kecil, lalu kurasakan ia menekan lubang memeknya makin dalam kewajahku dan menggoyang2kan pinggulnya sehingga hampir seluruh wajahku tersapu oleh kemaluannya. “Aduuuuh riiin…..enak sekaliii….” Ia memeluk erat2 pinggulku, klitorisku digigit2 kecil olehnya. Tak lama kemudian tubuhnya melemas lalu betul2 lemas sehingga aku tidak bisa bernapas karena tekanan kemaluannya diwajahku. Keringatnya bergulir turun masuk kedalam mulutku. Aku juga benar2 puas sekali. Kemudian Tina bangun lalu mencium mulutku, kami kembali bergelut sambil mendesah2. Tina menempelkan kemaluannya pada kemaluanku, lalu menggosok2nya. Kira2 15 menit kami berciuman sambil berpelukan erat sampai aku tak merasa kalau aku tertidur. Entah berapa lama aku tertidur, samar2 aku seperti mendengar suara Remi. Aku membuka mataku dan……astaga!!! Kulihat Tina sedang bergelut dengan Remi dilantai kamarku yang beralaskan karpet biru. Kulihat Tina sedang menjilat2 kemaluan Remi yang sudah keluar dan berwarna merah sekali. Mulut Tina berlumuran cairan yang keluar terus dari kemaluan anjing itu, dan anjing itu bersuara kecil sepertinya keenakan kemaluannya dihisap oleh Tina. Kemaluan Remi cukup besar, mungkin karena anjing herder dan cairan seperti lendir itu terus keluar menetes netes, dan Tina mencerucup cairan itu…… “Tin!! Gila kamu……kok sama Remi sih???” Aku memberondong Tina. Tapi lagi2 Tina tidak menjawab, yang kulihat kemudian ia berusaha menuntun kemaluan Remi memasuki kemaluannya. Dan Kudengar rintihan Tina ketika kemaluan yang cukup besar itu masuk kedalam lubang kemaluannya. Kulihat Remi menggerakkan bokongnya dengan amat cepat, lalu tidak berapa lama kemudian terdengar Remi mendeking halus lalu dari sela2 kemaluan Tina kulihat cairan merembes keluar banyak sekali, seperti
air kencing tapi juga seperti lendir yang encer. Kulihat Tina mengerang2 lalu tangannya meraih kemaluan Remi dan dimasuk keluarkan sendiri olehnya. Melihat pemadangan itu tubuhku kembali bergidik, ada perasaan aneh merayap kedalam jiwaku. Aku tahu bahwa aku
terangsang oleh aksi Tina. Tanpa sadar aku juga turun kelantai dan kepalaku mengarah menuju selangkangan Tina. Kulihat dari dekat kemaluan Remi masih digerak2an Tina keluar masuk dalam kemaluannya, dan dari kemaluan hewan itu masih terus menetes lendir, sedangkan kemaluan Tina kulihat sudah merah sekali, juga kulihat lendir Remi memenuhi kemaluan Tina. “Rin….dijilat Rin….tolonglah Rin” Rintihan
Tina makin merangsang nafsuku. Seperti ada yang mendorong, kepalaku segera menyusup keselangkangan Tina. Pelan2 kujilat kemaluan Tina yang sangat banjir itu. Aku merasa cairan kemaluan Remi terasa asin sekali, tapi baunya tidak menyengat. Seperti kesetanan aku menghirup dan mencelucupi kemaluan Tina. Persis seperti Remi jika sedang minum air. Lidahku menguak bibir kemaluan Tina, lalu masuk menjelajahi seluruh dinding vaginanya. “Riiiiiiinnnnnn……….” Tina merengek hebat,pinggulnya terangkat menekan mulutku. Aku tak perduli lagi. Kemudian aku berpindah menghisap kemaluan Remi, kumasukkan seluruh kemaluannya kedalam mulutku. Penis Remi terasa panas dalam mulutku dan aku mencium bau hewan itu, tapi pikiranku sudah gelap yang ada hanya nafsu yang selama ini terkubur dalam2 dan kini meledak tak terbendung.Aku tahu aku bakalan menyesali perbuatanku setelah ini. Aku terus menjilat dan mengulum penis Remi. Anjing itu mendeking2 pelan, kadang2 berusaha menghindar, tapi Tina memegang kedua kakinya dengan erat. Tak lama kemudian dari penis Remi menyembur cairan panas kedalam mulutku. Kumasukkan seluruh penis Remi lalu kusedot2, anjing itu mencoba memberontak, entah kenikmatan atau kegelian. Tina memajukan wajahnya lalu kami saling berciuman, kukeluarkan sebagian cairan Remi kedalam mulutnya. Wajah kami sudah basah oleh cairan encer itu. Sekarang aku berbaring dibawah Remi, kemudian Tina mulai menghisap kemaluan Remi agar nafsu Remi kembali. Setelah itu Tina mencoba memasukkan penis Remi kedalam vaginaku. Ternyata penis itu kebesaran untuk lubang vaginaku. Mungkin lubang vaginaku menciut sepeninggal suamiku yang meninggal 4 tahun yang lalu. Kepala penis Remi yang meruncing itu masuk sedikit, tiba2 Remi mendorong keras sambil menusuk2 cepat sekali. Aku merasa agak perih, tapi kemudian kurasakan kenikmatan yang tak terbayangkan, lubang vaginaku seperti ditusuk oleh mesin penggerak yang amat cepat. Aku tak tahu bagaimana melukiskannya sampai aku mencapai orgasme yang sangat hebat. Seluruh rambut ditubuhku seperti berdiri tegak membuatku merinding. Tak lama kemudian aku merasakan cairan panas menyemprot dalam vaginaku, aku berusaha mengeluarkan penis Remi, tapi hewan itu seperti tak perduli, aku pasrah membiarkan seluruh cairannya keluar dalam vaginaku. Kemudian Tina menyuruhku jongkok diatas wajahnya. Tina melumat vaginaku dengan penuh nafsu, kulihat dari vaginaku mengalir cairan Remi yang tersisa, mengalir seperti air kencing masuk dalam mulut Tina. Akupun tidak mau ketinggalan, kulumat juga vagina Tina yang sekarang sudah agak lembab dan lengket. Hari itu aku dan Tina bersetubuh 3 kali, pagi, siang dan malam hari. Aku tak mengerti lagi apakah aku ini normal atau
tidak. Yang pasti kebutuhan yang selama ini tak tersalurkan, kini menemukan muaranya. Aku sangat menyesal dengan perbuatanku yang mungkin bertentangan dengan agama yang kuanut, tapi aku terus menerus melakukannya dengan Tina. Seolah2 kami sudah tak terpisahkan. Tina selalu mempunyai ide2 yang baru dalam setiap permainan kami. Aku juga tak tahu apakah aku harus berterima kasih padanya atau mengutuknya. Dan belakangan aku Tina mengatakan bahwa
hampir semua ibu2 yang kukenal pernah diajak berlesbi olehnya.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada April 13, 2012 in Lesbian

 

Tag:

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.